Premi Risiko (CDS) Indonesia Naik Tipis Usai Moody’s Turunkan Outlook Utang RI ke Negatif

Premi Risiko (CDS) Indonesia Naik Tipis Usai Moody’s Turunkan Outlook Utang RI ke Negatif

Moody's menurunkan outlook utang Indonesia ke negatif, memicu kenaikan tipis CDS 5-tahun Indonesia. Ini bisa mempengaruhi rupiah dan penerbitan SRBI.

(Bisnis.Com) 06/02/26 08:56 127790

Bisnis.com, JAKARTA — Indikator Credit Default Swap (CDS) terpantau mengalami kenaikan tipis pada hari ini, Jumat (6/2/2026), setelah Moody’s menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif.

Dalam pengumuman yang dipublikasikan kemarin, lembaga pemeringkat Moody’s Investors Service mempertahankan peringkat utang Indonesia di level investment grade Baa2, tetapi menurunkan outlook dari stabil menjadi negatif. Moody’s menyampaikan bahwa perubahan ini mencerminkan menurunnya prediktabilitas penyusunan kebijakan, yang berisiko menurunkan efektivitas kebijakan dan kekhawatiran terkait tata kelola.

Namun demikian, perubahan outlook tidak serta-merta berujung pada penurunan peringkat. Berkaca pada fase awal pandemi Covid-19, S&P pernah merevisi outlook peringkat utang Indonesia menjadi negatif pada April 2020 dan mempertahankannya dalam periode yang cukup panjang. S&P kemudian mengembalikan outlook Indonesia ke stabil pada 2022, tanpa disertai penurunan peringkat.

Pada pagi ini, BNI Sekuritas mencatat indikator global menunjukkan sentimen yang cenderung beragam. Yield curve US Treasury (UST) 5-tahun dan 10-tahun masing-masing turun sebesar 9 basis poin (bps) dan 8 bps dari hari sebelumnya menjadi 3,74% dan 4,21%.

“Namun, Credit Default Swap (CDS) 5-tahun Indonesia meningkat 3 bps menjadi 80 bps, seiring dengan penurunan outlook Indonesia oleh Moody’s dari stabil menjadi negatif,” tulis Head of Fixed Income BNI Sekuritas Amir Dalimunthe dalam risetnya, Jumat (6/2/2026).

Selain CDS 5-tahun Indonesia, lanjutnya, penurunan outlook tersebut juga dapat berdampak terhadap pelemahan rupiah. Amir mengatakan apabila terjadi pelemahan signifikan berpotensi mendorong penerbitan SRBI yang lebih agresif oleh Bank Indonesia.

Data DJPPR per 4 Februari 2026, menunjukkan porsi investor asing atas SBN Rupiah yang dapat diperdagangkan berada di level Rp884,0 triliun atau 13,2% dari total outstanding. Dalam beberapa tahun terakhir, porsi investor asing masih dalam tren penurunan dari 14,9% per Desember 2023, 14,5% per Desember 2024, dan 13,4% per Desember 2025.

“Pada hari ini, kami mengantisipasi peningkatan volatilitas untuk harga dan yieldSurat Berharga Negara (SBN) berdenominasi rupiah.”

Berdasarkan valuasi yield curve, BNI Sekuritas memperkirakan bahwa obligasi yang akan menarik bagi para investor, yaitu FR0100, FR0068, FR0103, FR0108, FR0098, FR0106.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual obligasi. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

#cds-indonesia #moody-039-s-outlook #utang-indonesia #peringkat-utang #investment-grade #tata-kelola #pandemi-covid-19 #s-amp-p-outlook #us-treasury-yield #cds-5-tahun #pelemahan-rupiah #investor-asin

https://market.bisnis.com/read/20260206/92/1950691/premi-risiko-cds-indonesia-naik-tipis-usai-moodys-turunkan-outlook-utang-ri-ke-negatif