ATSI Sebut 5G Belum Saatnya Dipaksakan ke Seluruh Wilayah

ATSI Sebut 5G Belum Saatnya Dipaksakan ke Seluruh Wilayah

ATSI menilai implementasi jaringan 5G belum bisa dipaksakan untuk diterapkan merata di Indonesia karena sejumlah faktor.

(Bisnis.Com) 11/02/26 10:50 132959

Bisnis.com, JAKARTA— Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) menilai implementasi jaringan 5G di Indonesia belum tepat jika dipaksakan merata ke seluruh wilayah.

Selain faktor geografis dan demografis, belum meratanya kepemilikan handset 5G di masyarakat serta pertimbangan keekonomian investasi menjadi alasan utama operator lebih selektif dalam mengembangkan jaringan generasi kelima tersebut.

Sekretaris Jenderal ATSI Merza Fachys mengatakan, kondisi Indonesia yang luas dengan tingkat sosial masyarakat yang majemuk membuat pengembangan 5G tidak bisa disamaratakan.

“Hari ini tingkat penetrasi handphone 5G itu baru 30% kalau kita lihat di jaringan hampir semua operator. Artinya apa? Bahwa penyebaran ini belum merata,” kata Merza dalam acara Bisnis Indonesia Forum di Kantor Bisnis Indonesia, Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Merza mengatakan, jika setiap frekuensi baru diwajibkan untuk layanan 5G, maka penerapannya berpotensi dipaksakan merata ke seluruh wilayah. Padahal di sejumlah daerah kepemilikan handset 5G masih sangat rendah, sekitar 2–5%, sementara investasi 5G tidak murah.

Merza mengatakan, operator cenderung akan mengarahkan investasi pada wilayah yang benar-benar memberikan manfaat, tidak hanya dilihat dari jumlah penduduk, tetapi juga potensi kebutuhan dari sisi industri.

“Kalau memang di sana ada potensial industri yang menggunakan 5G ya tentu akan dikejar,” katanya.

Merza menjelaskan, pengembangan 5G yang dilakukan operator saat ini difokuskan pada kota-kota yang secara ekonomi dan demografi dinilai telah siap memanfaatkan teknologi tersebut. Dia mencontohkan, XLSMART telah meluncurkan layanan 5G di 33 kota dengan cakupan penuh satu kota karena diyakini populasi pengguna perangkat 5G di wilayah tersebut sudah memadai.

Ke depan, perluasan ditargetkan hingga hampir 100 kota dengan konsep cakupan menyeluruh seperti jaringan 4G saat ini, meski tidak seluruhnya menjangkau wilayah pinggiran atau rural karena pertimbangan keekonomian.

“Jadi investasi yang bermanfaat harus juga kita pertimbangkan,” katanya.

Merza menambahkan, kebijakan yang bersifat kewajiban untuk pemerataan 5G justru berisiko menjadi kontraproduktif jika dipaksakan.

Di sisi lain, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan cakupan jaringan 5G meningkat secara bertahap. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyampaikan bahwa pada 2026, cakupan jaringan 5G ditargetkan mencapai 8,5% dari luas permukiman nasional.

“Untuk tahun 2026, jaringan 5G kami targetkan mencakup 8,5% luas pemukiman,” kata Meutya dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR RI, Senin (26/1/2026).

Sementara itu, pada layanan 4G, cakupan jaringan pada 2025 telah menjangkau 98,95% populasi penduduk dan ditargetkan meningkat menjadi 99,05% pada 2026, sekaligus melampaui target RPJMN 2029.

Untuk mendukung pengembangan jaringan generasi kelima, Komdigi juga menyiapkan pelepasan spektrum frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang direncanakan dilelang pada 2026.

Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi Wayan Toni Supriyanto mengatakan, pemerintah akan menyiapkan kebijakan pelepasan spektrum frekuensi lainnya setelah pelaksanaan lelang spektrum 1,4 GHz pada 2025.

“Kami juga akan menyiapkan kebijakan pelepasan spektrum lainnya, yang tadi disampaikan juga oleh Bu Menteri, yaitu lelang spektrum 700 MHz, yang direncanakan pada tahun 2026,” kata Wayan.

Menurut dia, spektrum 700 MHz diarahkan untuk memperluas jangkauan layanan mobile broadband sekaligus mendukung pengembangan jaringan 5G, khususnya di wilayah dengan tantangan geografis.

Selain itu, pita frekuensi 2,6 GHz juga dipersiapkan untuk meningkatkan kapasitas dan kecepatan layanan mobile broadband nasional guna mendukung target kecepatan rata-rata 100 Mbps pada 2029. Saat ini, rata-rata kecepatan mobile broadband nasional pada 2025 masih berada di kisaran 63,51 Mbps.

“Sehingga peningkatan jaringan yang didorong bertahap,” ujarnya.

#5g #jaringan-5g #atsi #internet

https://teknologi.bisnis.com/read/20260211/101/1952007/atsi-sebut-5g-belum-saatnya-dipaksakan-ke-seluruh-wilayah