Satu dari Tiga Orang Berisiko Aritmia

Satu dari Tiga Orang Berisiko Aritmia

Satu dari tiga orang berisiko aritmia, gangguan irama jantung yang bisa menyebabkan stroke. Deteksi dini dengan meraba nadi sendiri bisa mencegah komplikasi.

(Bisnis.Com) 13/02/26 15:10 135960

Bisnis.com, JAKARTA — Secara global, satu dari tiga orang berisiko mengalami aritmia, kondisi gangguan irama jantung yang kerap tidak disadari dan baru terdeteksi setelah menimbulkan komplikasi berat seperti stroke dan gagal jantung.

Situasi tersebut melatarbelakangi peringatan Pulse Day 2026 setiap 1 Maret, sebuah kampanye global yang mengajak masyarakat lebih peduli terhadap irama jantung melalui langkah sederhana dengan memeriksa denyut nadi secara mandiri.

Head of Pulse Day Task Force yang juga Chairperson of Public Affairs Committee Asia Pacific Heart Rhythm Society (APHRS), Dr. dr. Dicky Armein Hanafy, Sp.JP, Subsp. Ar. (K), Subsp. K.I.(K), FIHA, FAsCC, mengatakan aritmia sering tidak bergejala pada tahap awal.

“Gangguan irama jantung sering kali tidak bergejala dan baru diketahui ketika komplikasi sudah terjadi. Padahal, deteksi dini dapat dilakukan dengan cara yang sangat sederhana, yaitu dengan MENARI atau meraba nadi sendiri secara rutin,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (13/2/2026).

Menurut dia, pesan utama Pulse Day 2026 adalah mendorong masyarakat mengenali irama jantungnya sendiri. Salah satu fokusnya ialah fibrilasi atrial atau atrial fibrilasi (AF), jenis aritmia yang paling sering ditemukan dan menjadi salah satu penyebab stroke yang sebenarnya dapat dicegah.

“Dengan pemeriksaan nadi rutin, kelainan irama jantung bisa terdeteksi lebih awal sehingga penanganan medis dapat diberikan tepat waktu,” kata Dicky.

Fibrilasi Atrial dan Risiko Stroke

Advisory Board PERITMI/Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS), Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP, Subsp. Ar. (K), FIHA, FAsCC, FEHRA, FAPHRS, menjelaskan fibrilasi atrial merupakan kelainan irama jantung yang paling sering ditemukan, termasuk di Indonesia.

“Fibrilasi atrial meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat dan risiko kematian dua kali lipat. Namun sekitar 50% kasus tidak terdiagnosis karena penderitanya tidak menyadari adanya gangguan irama jantung,” ujarnya.

Secara sederhana, AF terjadi ketika muncul banyak sumber listrik tidak normal di serambi jantung (atrial). Kondisi ini membuat irama jantung menjadi kacau dan tidak teratur.

Menurut Yoga, ada kondisi yang mendahului AF, yakni atrial miopati, yaitu perubahan struktur mikroskopik pada serambi jantung. Perubahan ini bisa dipicu berbagai faktor, terutama penyakit penyerta seperti hipertensi.

“Pada hipertensi terjadi peningkatan tekanan yang terus-menerus di serambi jantung. Lama-kelamaan struktur serambi berubah dan memicu kekacauan listrik jantung,” jelasnya.

Selain hipertensi, faktor lain seperti diabetes, infeksi seperti demam rematik, faktor genetik, serta pertambahan usia juga berperan. Dia menyebut hipertensi menjadi faktor risiko paling dominan pada pasien AF di Indonesia.

“Sekitar 60% pasien fibrilasi atrial memiliki riwayat hipertensi. Masalahnya, dari seluruh penderita hipertensi, hanya sekitar 25% yang terdeteksi, dan dari jumlah itu hanya seperempatnya yang terkontrol dengan baik,” katanya.

Berdasarkan perhitungan prevalensi sekitar 3,2% populasi, Yoga memperkirakan jumlah penyandang AF di Indonesia pada 2023 mencapai lebih dari 7 juta orang.

Gerakan MENARI sebagai Deteksi Dini

Untuk mendorong deteksi dini, para dokter mengkampanyekan gerakan MENARI (MEraba NAdi sendiRI). Cara ini dinilai sederhana dan bisa dilakukan siapa saja tanpa alat khusus.

“MENARI dilakukan dengan meletakkan jari telunjuk dan jari tengah di pergelangan tangan atau leher, menghitung denyut selama 30 detik lalu dikalikan dua. Denyut normal berkisar 60–100 kali per menit, tetapi yang paling penting adalah keteraturannya,” ujar Yoga.

Dia mengingatkan, denyut yang tidak teratur, terlalu cepat di atas 100 kali per menit, atau terlalu lambat di bawah 60 kali per menit perlu diwaspadai, terutama bila disertai gejala seperti pusing, nyeri dada, sesak napas, keringat dingin, hingga bicara pelo atau kelemahan anggota gerak.

Meski demikian, MENARI bukan untuk menegakkan diagnosis. Jika ditemukan ketidakteraturan, pemeriksaan lanjutan seperti rekam jantung (EKG) tetap diperlukan.

“Walaupun penelitian besar yang secara langsung membuktikan kebiasaan meraba nadi menurunkan angka stroke masih terbatas, jalur manfaatnya dari deteksi dini hingga pencegahan stroke sudah sangat kuat secara ilmiah,” kata Yoga.

#aritmia #irama-jantung #fibrilasi-atrial #risiko-stroke #deteksi-dini #pemeriksaan-nadi #hipertensi #denyut-nadi #komplikasi-jantung #gangguan-irama #serambi-jantung #faktor-risiko #kampanye-global #d

https://lifestyle.bisnis.com/read/20260213/106/1952760/satu-dari-tiga-orang-berisiko-aritmia