Jelang Ramadan, Warga Kota Semarang Ramaikan Tradisi Gebyuran Bustaman

Jelang Ramadan, Warga Kota Semarang Ramaikan Tradisi Gebyuran Bustaman

Warga Semarang merayakan tradisi Gebyuran Bustaman jelang Ramadan di Kampung Bustaman, simbol penyucian diri yang dimulai oleh Kyai Bustam.

(Bisnis.Com) 19/02/26 11:11 140506

Bisnis.com, SEMARANG — Menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, warga Kota Semarang kembali mengikuti tradisi Gebyuran Bustaman. Tradisi ini biasa diselenggarakan menjelang bulan Ramadan sebagai bentuk menyucikan diri sebelum menunaikan ibadah puasa.

Ramai diikuti oleh warga Kota Semarang baik tua maupun muda, tradisi Gebyuran Bustaman ini diselenggarakan di Kampung Bustaman, Kecamatan Semarang Tengah.
Tradisi Gebyuran Bustaman diketahui berawal dari tradisi Kyai Ngabeh Kertoboso Bustam, sosok pendiri Kampung Bustam. Pada awalnya, Kyai Bustam biasa melakukan kegiatan memandikan atau menggebyur para cucu di sumur yang dibangun tahun 1742 menjelang bulan Ramadan. Dari legenda tersebut, tradisi Gebyuran Bustaman dilanjutkan oleh keluarga Hari Bustaman secara tertutup pada tahun 2010-2011 di depan rumah.
Mendapat dukungan dari warga Kampung Bustaman, tradisi Gebyuran Bustaman kemudian dilaksanakan terbuka bersama para warga lainnya pada tahun 2012 hingga saat ini.

Ritual inti dari tradisi ini ditandai dengan menyiram atau menggebyur anak-anak oleh para sesepuh kampung. Setelahnya, puncak dari Gebyuran Bustaman ini ditandai dengan kegiatan “Perang Air” yang diikuti oleh warga Kampung Bustaman hingga warga Kota Semarang lainnya.
Pada bulan Ramadan tahun 2026, tradisi Gebyuran Bustaman diketahui telah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari oleh pihak panitia bersama warga Kampung Bustaman. Salah satu warga asli Kampung Bustaman, Ainur Rofiq, menuturkan bahwa persiapan Gebyuran Bustaman biasanya sudah dimulai sekitar satu bulan sebelum acara digelar.

“Sebelum 30 hari sudah dipersiapkan untuk acara Gebyuran Bustaman tahun ini, dan tradisi ini juga sudah berjalan sekitar 16-17 tahun,” tutur Ainur dalam acara Gebyuran Bustaman, dikutip Rabu (18/2/2026).
Lebih lanjut, sebagai warga asli Kampung Bustaman, Ainur menilai tradisi Gebyuran Bustaman sebagai sebuah tradisi yang memiliki makna spiritual bagi masyarakat setempat dalam menyambut bulan suci Ramadan.

“Pastinya Gebyuran Bustaman ini membantu masyarakat untuk menyiapkan mental secara spiritual karena ini juga sudah menjadi tradisi yang berjalan bertahun-tahun,” jelasnya.
Mengenai penyelenggaraan tradisi ini, Ainur menyebut bahwa penghidupan kembali tradisi Gebyuran Bustaman pada tahun 2012 lalu menjadi upaya untuk mengingat kembali sejarah leluhur Kampung Bustaman sekaligus melestarikan budaya agar tetap dikenal oleh generasi muda.

“Saya bangga dengan Kampung Bustaman, ditambah lagi saya warga asli Kampung Bustaman. Tradisi ini juga sudah ada sebelum saya lahir, jadi tradisi Gebyuran Bustaman ini harus tetap dihidupkan dan dilestarikan,” kata Ainur.
Sementara itu, salah satu panitia penyelenggara tradisi Gebyuran Bustaman, Rizal, menjelaskan bahwa tradisi Gebyuran Bustaman menjadi simbol penyucian diri yang berangkat dari kebiasaan Kyai Bustam memandikan cucunya jelang Ramadan.

“Dulu bentuknya bukan perang air, karena sejarahnya dulu Kyai Bustam menjelang bulan Ramadan itu biasa memandikan cucunya. Nah, kalau zaman sekarang jadi seperti ini untuk dibuat lebih meriah supaya masyarakat bisa ikut merasakan maknanya,” jelas Rizal saat diwawancarai di acara Gebyuran Bustaman.
Terkait inovasi setelah tradisi ini dihidupkan kembali, Rizal menyebut bahwa berbagai inovasi terus dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari menghadirkan kegiatan karnaval, panggung hiburan, hingga adanya stand kuliner di depan gang Kampung Bustaman. Hadirnya inovasi ini disebut untuk menarik partisipasi warga Kota Semarang lainnya. “Stand-stand kuliner dan panggung hiburan itu juga sudah mulai ada sejak tiga tahun lalu letaknya di depan sini. Terus dua tahun kemarin sampai sekarang ini mulai ada karnaval. Inovasi ini biar beda, terus biar pengunjungnya di Kampung Bustaman juga lebih ramai nanti kalau acara gebyuran,” tambah Rizal
Hadir kembali di tahun 2026, Rizal mengungkapkan harapannya agar tradisi Gebyuran Bustaman bisa terus diselenggarakan di tahun-tahun ke depannya. Selain itu, Rizal menyebut bahwa tradisi Gebyuran Bustaman ini terbuka untuk umum atau bisa diikuti oleh masyarakat luar Kampung Bustaman. “Harapannya acara ini tetap istiqomah digelar supaya budaya Kampung Bustaman tetap hidup. Terus untuk acara ini, siapapun boleh ikut, yang penting satu, kalau kena air jangan marah karena ini bagian dari kebersamaan,” tutup Rizal. (Fadya Jasmin Malihah)

#gebyuran-bustaman #tradisi-gebyuran #kampung-bustaman #semarang-tradisi #ramadan-semarang #perang-air-bustaman #sejarah-gebyuran #spiritual-bustaman #budaya-semarang #karnaval-bustaman #panggung-hibur

https://semarang.bisnis.com/read/20260219/535/1953925/jelang-ramadan-warga-kota-semarang-ramaikan-tradisi-gebyuran-bustaman