Ada Eksodus Dana Jumbo di Investasi Portofolio, Defisit Neraca Pembayaran 2025 Cetak Rekor
Defisit neraca pembayaran Indonesia 2025 mencapai US$7,8 miliar, dipicu oleh defisit investasi portofolio US$9,4 miliar akibat net outflow dan risiko global.
(Bisnis.Com) 20/02/26 17:52 142398
Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa neraca pembayaran Indonesia alias NPI mengalami defisit sebesar US$7,8 miliar pada tahun 2025 lalu. Defisit tahun 2025 merupakan rekor terendah karena pada tahun-tahun sebelumnya neraca pembayaran selalu tercatat surplus.
Sekadar perbandingan, pada tahun 2024 neraca pembayaran Indonesia masih mencatatkan surplus sebesar US$7,2 miliar.
Adapun eksodus dana jumbo atau net outflow dari investasi portofolio menjadi salah satu pemicu anjloknya defisit neraca pembayaran. BI mencatat dana yang kabur dari investasi portofolio sebesar US$9,4 miliar pada tahun 2025. Hal ini kontras dengan poisisi tahun 2024 dimana investasi portofolio tercatat masih surplus sebesar US$8,2 miliar.
Tren Investasi Portofolio & Neraca Pembayaran
| Tahun | Investasi Portofolio | Neraca Pembayaran |
| 2021 | 5,1 | 13,5 |
| 2022 | -9 | 3,9 |
| 2023 | 2,3 | 6,3 |
| 2024 | 8,2 | 7,2 |
| 2025 | - 9,4 | -7,8 |
Sumber: Bank Indonesia, dalam miliar US$
BI merinci bahwa sebagian besar outflow terjadi di investasi portofolio swasta senilai US$6,7 miliar. Sementara itu di sektor publik hanya senilai US$2,7 miliar.
Fenomena net outflow pada tahun 2025 itu, lanjut laporan BI, ini merupakan konsekuensi dari meningkatnya premi risiko di pasar keuangan seiring dengan meningkatnya tantangan dan ketidakpastian global.
“[Hal ini] menyebabkan investor cenderung mengalihkan portofolio ke aset-aset safe haven,” demikian dikutip dari laporan BI, Jumat (20/2/2026).
Dua Faktor Pemicu
Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual menjelaskan bahwa kinerja buruk neraca pembayaran pada tahun lalu dipengaruhi oleh dua titik balik yang menekan neraca finansial.
Pertama, pengumuman kebijakan tarif dagang oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada kuartal II/2025. Saat itu, Trump secara sepihak menetapkan tarif resiprokal kepada seluruh negara mitra dagang AS, termasuk barang-barang asal Indonesia yang dikenai tarif bea masuk 32%—yang kemudian turun menjadi 19%.
David mengingatkan bahwa kebijakan tersebut memicu sentimen penghindaran risiko secara global, yang berujung pada terjadinya outflow alias aliran modal asing keluar di pasar keuangan Indonesia.
Tak berhenti di situ, tekanan berlanjut memasuki paruh kedua tahun lalu. Pada kuartal III/2025, volatilitas kembali mengguncang pasar modal domestik yang kali ini dipicu oleh sentimen negatif dalam negeri. "Sempat ada volatilitas di pasar modal setelah rentetan aksi demonstrasi di akhir Agustus [2025]," jelasnya kepada Bisnis, Jumat (20/2/2025).
Sebagai pengingat, pada 29 Agustus 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah sebesar 1,53% atau turun 121,59 poin setelah sehari sebelum terjadi demo besar-besaran terutama di Jakarta, yang mengakibatkan timbul korban jiwa, termasuk seorang pengemudi ojek online (ojol) Affan Kurniawan karena dilindas oleh mobil rantis polisi. Dampak negatifnya ke IHSG bahkan sempat berlanjut hingga awal September 2025.
Lebih lanjut, David menekankan bahwa dari sisi fundamental ekspor-impor, kinerja Indonesia sebenarnya tidak buruk. Neraca perdagangan bulanan sepanjang 2025 tercatat selalu surplus, dengan posisi akhir tahun di level US$41,05 miliar atau naik 31,02% dibandingkan realisasi 2024 (US$31,33 miliar).
"Surplus dagang di 2025 sebenarnya relatif kuat, tapi memang tidak cukup untuk menutup outflow di pasar finansial yang terjadi karena dua faktor tadi," tutupnya.
#investasi-portofolio #defisit-neraca-pembayaran #net-outflow #arus-keluar-dana-asing #premi-risiko-pasar-keuangan #tantangan-ketidakpastian-global #aset-safe-haven #tarif-dagang-as #sentimen-penghinda