Pupuk Subsidi untuk Tambak Kembali Dialokasikan Tahun Ini

Pupuk Subsidi untuk Tambak Kembali Dialokasikan Tahun Ini

Alokasi pupuk subsidi perikanan kembali dibuka, petambak berharap produksi naik tanpa memicu tekanan harga panen.

(Kompas.com) 24/02/26 09:00 145237

GRESIK, KOMPAS.com - Pemerintah kembali mengalokasikan pupuk bersubsidi bagi sektor budidaya perikanan pada tahun ini, setelah sempat terhenti dalam dua tahun terakhir. Kebijakan tersebut menjadi kabar bagi para petambak yang selama ini mengandalkan pupuk untuk menunjang produktivitas tambak.

Kepastian alokasi pupuk bersubsidi itu terungkap saat Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Senin (23/2/2026). Dalam agenda tersebut, legislator memastikan pupuk subsidi resmi kembali tersedia untuk pembudidaya ikan.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Panggah Susanto menyampaikan bahwa aspirasi Pemerintah Kabupaten Gresik telah dibahas dalam Panitia Kerja Pupuk di Petrokimia Gresik dan masuk dalam rekomendasi subsidi nasional. “Alhamdulillah, tahun ini kebutuhan pupuk untuk budidaya perikanan sudah masuk dalam program subsidi, sekitar 29.500 ton secara nasional," ujar Panggah, Senin.

Ia menambahkan, pembenahan data menjadi fokus lanjutan agar distribusi subsidi lebih tepat sasaran. “Ke depan, kami akan fokus pada pembenahan data, agar distribusi tepat sasaran dan tidak menimbulkan persoalan seperti sebelumnya,” lanjutnya.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Haeru Rahayu juga menyampaikan permohonan maaf atas kondisi dua tahun terakhir ketika pembudidaya ikan tidak memperoleh alokasi pupuk bersubsidi. Menurut dia, tahun ini pemerintah menyiapkan anggaran hampir Rp300 miliar untuk mendukung kebutuhan pupuk sektor budidaya.

Alokasi dan sistem distribusi

Untuk wilayah Gresik, alokasi pupuk bersubsidi tahun ini mencakup pupuk urea sebanyak 4.721 ton, SP36 sebanyak 4.598 ton, serta pupuk organik 506 ton. Pemerintah menekankan pentingnya optimalisasi penyerapan kuota agar tidak terjadi sisa alokasi yang berpotensi menghambat distribusi.

Dari sisi distribusi, dukungan sistem disampaikan Direktur Operasi PT Pupuk Indonesia Dwi Satriyo Annurogo. Ia memastikan proses penyaluran kini telah terdigitalisasi secara penuh sehingga memudahkan pengawasan dan pencatatan transaksi.

“Setiap penebusan pupuk di kios, langsung tercatat dan terhubung secara real time dengan sistem pusat. Alokasi otomatis terpotong sesuai kuota. Sistem siap dan stok dalam kondisi aman," jelasnya.

Harapan produksi dan stabilitas harga

Kembalinya pupuk subsidi disambut positif oleh petambak. Sholiq, petambak asal Desa Betoyo Guci, Kecamatan Manyar, Gresik, mengaku senang karena bantuan tersebut dinilai dapat meningkatkan produktivitas tambak.

Namun, ia mengingatkan agar peningkatan produksi juga diimbangi kebijakan menjaga stabilitas harga ikan, khususnya bandeng. “Kalau produksi naik tapi panen bersamaan, harga bandeng bisa turun sampai Rp5.000 per kilogram. Kami mohon, stabilitas harga juga diperhatikan,” kata Sholiq.

Menanggapi hal tersebut, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menilai penguatan ekosistem hulu hingga hilir menjadi langkah penting. Selain memastikan pupuk tersedia, pemerintah daerah berupaya meningkatkan konsumsi ikan melalui berbagai program serta memperkuat distribusi berbasis desa.

“Kami memiliki Koperasi Desa Merah Putih hampir di seluruh desa. Jika dilibatkan dalam distribusi pupuk subsidi, rantai pasok bisa lebih efektif dan ekonomi desa ikut bergerak,” beber Gus Yani, sapaan Fandi Akhmad Yani.

Ekonomi rakyat

Dok. Pemkab Gresik Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani (tengah) saat kunjungan kerja (kunker) Komisi IV DPR RI di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Senin (23/2/2026).
Dalam kesempatan yang sama, ia juga mengungkapkan kegelisahan petambak beberapa tahun terakhir setelah alokasi pupuk subsidi dihentikan. Menurutnya, kondisi tersebut berdampak langsung pada produktivitas tambak tradisional.

“Beberapa tahun belakangan ini, kami mengalami kegelisahan. Kabupaten Gresik memiliki lebih dari 28.000 hektar lahan budidaya. Ketika pupuk subsidi dicabut, dampaknya sangat terasa," ungkapnya.

“Bandeng tidak tumbuh optimal, karena budidaya ikan tradisional sangat bergantung pada pupuk untuk menumbuhkan plankton,” tambahnya.

Data pemerintah daerah mencatat luas lahan budidaya ikan di Gresik mencapai 28.653,27 hektar, terdiri dari tambak payau 15.601,26 hektar dan tambak tawar 13.052,01 hektar. Jumlah petambak mencapai 20.279 orang, dengan 15.729 pemilik tambak dan 4.550 pandega yang tersebar di 16 kecamatan.

Sepanjang 2025, produksi perikanan budidaya Gresik mencapai 160.439 ton dengan nilai produksi Rp3,54 triliun. Khusus komoditas bandeng, produksi diperkirakan sekitar 90.000 ton per tahun.

“Kalau harga bandeng rata-rata Rp10.000 per kilogram, hampir Rp 900 miliar berputar di sektor tambak saja. Jadi ini ekonomi rakyat,” tuturnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#gresik #tambak #petambak #pupuk-subsidi

https://money.kompas.com/read/2026/02/24/090000426/pupuk-subsidi-untuk-tambak-kembali-dialokasikan-tahun-ini