Pertamina NRE Siapkan Strategi Multi-Feedstock Dorong Mandatori E10

Pertamina NRE Siapkan Strategi Multi-Feedstock Dorong Mandatori E10

Pertamina NRE mengembangkan strategi multi-feedstock dan multi-region untuk mendukung mandatori E10, dengan fokus pada bioetanol dari sorgum dan aren.

(Bisnis.Com) 25/02/26 20:48 147442

Bisnis.com,JAKARTA — Pertamina New & Renewable Energy (NRE) bakal menerapkan strategi dalam mendorong implementasi bioetanol untuk memproduksi E10 di Tanah Air.
Direktur Utama Pertamina NRE John Anies mengatakan, strategi untuk mengembangkan bioetanol itu adalah dengan fokus pada pendekatan multi-feedstock (ragam bahan baku) dan multi-region (ragam wilayah).
Terkait multi-feedstock, John mengatakan bergantung pada bahan baku singkong dan tebu saja tidak cukup. Oleh karena itu pihaknya juga bakal mengembangkan bioetanol dari sorgum dan aren.
"Aren ini ada potensinya. cita-citanya aren bisa seperti sawit [dalam campuran biodiesel] nanti potensinya akan luar biasa," tutur John dalam acara Bisnis Indonesia Forum di Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Dia menekankan bahwa dengan tidak bergantung pada tebu, maka feedstock bioetanol bisa terjamin.
Adapun terkait multi-region, pihaknya melihat setiap daerah di Indonesia memiliki potensi tersendiri untuk bahan baku bioetanol. Bahan baku yang bisa dibuat bioetanol itu seperti jagung, sagu, ubi jalar, hingga limbah pertanian.
Menurutnya, Pertamina dapat lebih mudah memproduksi bioetanol sesuai dengan bahan baku unggulan di setiap daerah. Dengan begitu, biaya produksi juga bisa ditekan karena bahan baku masih berasal dari daerah yang bersangkutan.
"Ini bisa menciptakan pemerataan," imbuh John.
Pemerintah sendiri menargetkan mandatori E10 pada bahan bakar minyak (BBM) bensin mulai 2027. John mengatakan, implementasi E10 dapat meningkatkan kebutuhan bioetanol sampai dengan 5 juta KL pada 2029. Namun, produksi saat ini hanya sekitar 1%.
"Kebutuhan 5 juta KL kalau kebutuhan bioetanol karena nanti gasolinenya sekitar 50 juta KL. Sementara kalau kita lihat produksinya itu, ya masih 63.000 KL," ucapnya.
Oleh karena itu, dia mengatakan dalam jangka pendek, pemerintah bisa menerapkan mandatory E10 itu di daerah tertentu saja, alih-alih secara nasional.
Dia mencontohkan, jika bahan baku untuk bioetanol masih belum mencukupi, maka implementasi E10 bisa dilakukan di jawa dan bali terlebih dahulu.
"Opsi pertama, tidak langsung seluruh Indonesia, bisa Jawa-Bali dulu atau per daerah. Makanya sinkronisasi antara kementerian itu penting," ucap John.
Lebih lanjut, John menegaskan bahwa Pertamina NRE berkomitmen untuk memimpin pengembangan bioetanol serta secara aktif melakukan advokasi dan kolaborasi. Namun, kata dia, pihaknya membutuhkan dukungan dari semua pemangku kepentingan.
Di sisi hulu, dukungan itu seperti kebijakan perdagangan bahan baku seperti lewat Domestic Market Obligation (DMO), Domestic Price Obligation (DPO) , tarif/kuota ekspor dari pemerintah.
Kemudian, sistem alokasi pasokan secara bertahap berbasis multi-feedstock. Lalu, insentif untuk diversifikasi bahan baku dan perluasan area lahan.
Selanjutnya, di sisi midstream, pihaknya membutuhkan insentif fiskal untuk pabrik bioetanol, dukungan logistik, penyederhanaan perizinan dan regulasi, penerapan mandatori E5-E10 untuk seluruh badan usaha, dan penyesuaian indeks harga etanol (HIP).
Adapun di sisi hilir, pihaknya memerlukan dukungan berupa penetapan kebijakan mandatory blending E5-E10 untuk semua badan usaha dan fiskal dalam penggunaan bioetanol.


#pertamina-nre #strategi-multi-feedstock #bioetanol-e10 #mandatori-e10 #bahan-baku-bioetanol #multi-region-bioetanol #produksi-bioetanol-indonesia #pengembangan-bioetanol #bahan-baku-singkong-tebu #bio

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260225/44/1955830/pertamina-nre-siapkan-strategi-multi-feedstock-dorong-mandatori-e10