Siasat Pinnacle & Manulife AM Optimalkan Cuan dari SBN

Siasat Pinnacle & Manulife AM Optimalkan Cuan dari SBN

Pinnacle dan Manulife AM optimalkan reksa dana berbasis SBN meski peringkat utang turun. Strategi fokus pada durasi aktif, diversifikasi, dan potensi imbal hasil.

(Bisnis.Com) 26/02/26 10:39 147906

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah manajer investasi (MI) telah mempersiapkan beragam strategi dalam meracik produk-produk reksa dana berbasis Surat Berharga Negara (SBN) di tengah penurunan outlook peringkat utang Indonesia.

CEO Pinnacle Investment Guntur Putra mengatakan, perubahan outlook menjadi negatif belum tentu langsung mengubah profil risiko SBN secara signifikan, selama indikator makroekonomi domestik masih relatif terjaga.

“Selama indikator makro domestik masih cukup stabil, SBN tetap dipandang sebagai instrumen yang aman dan stabil oleh investor domestik,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip Kamis (26/2/2026).

Menurutnya, kenaikan imbal hasil (yield) SBN dalam beberapa waktu terakhir justru membuat valuasi instrumen tersebut semakin menarik, terutama untuk investasi jangka menengah hingga panjang.

Selain itu, SBN memiliki likuiditas tinggi dan memegang peran penting dalam struktur portofolio, khususnya bagi produk reksa dana pendapatan tetap yang membutuhkan aset berisiko rendah dan mudah diperdagangkan.

Dia mengatakan, Pinnacle mempertahankan pendekatan selektif dan fleksibel dalam meracik produk reksa dana berbasis SBN, baik pendapatan tetap maupun campuran. Salah satu strategi yang ditempuh adalah pengelolaan durasi secara aktif atau active tactical duration strategy, yang disesuaikan dengan dinamika suku bunga.

Selain itu, pemilihan tenor obligasi juga difokuskan pada titik yield curve yang dinilai paling optimal dari sisi risiko dan potensi imbal hasil. Kemudian, diversifikasi instrumen dan pengelolaan likuiditas tetap dijaga agar portofolio responsif terhadap perubahan pasar.

Sementara itu, untuk reksa dana campuran, Guntur mengatakan SBN berperan sebagai penyangga volatilitas dari komponen saham sehingga membantu menjaga stabilitas kinerja secara keseluruhan.

“Secara umum, kami memandang SBN masih akan menjadi instrumen strategis dalam portofolio. Namun, pengelolaannya harus tetap adaptif terhadap perkembangan kondisi makro dan pasar keuangan,” kata Guntur.

Secara terpisah, Director & Chief Investment Officer, Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Ezra Nazula mengatakan, penurunan peringkat utang tidak akan berpengaruh pada pembobotan instrumen SBN pada produk-produk reksa dana milik MAMI. Menurutnya, di tengah faktor ketidakpastian yang tinggi, kelas aset obligasi masih menawarkan elemen defensif bagi portofolio.

Ezra menerangkan, dalam meracik produk reksa dana pendapatan tetap dan campuran, MAMI memiliki pandangan konstruktif terhadap pasar SBN. Hal ini ditopang oleh permintaan domestik yang kuat dan potensi penurunan suku bunga lebih lanjut.

"Dalam jangka pendek kami tetap berhati-hati dan terus memperhatikan perkembangan dan respons pemerintah dan regulator terkait penilaian Moody’s dan MSCI," kata Ezra.

Ezra menjelaskan, masih tingginya minat investor seperti manajer investasi pada instrumen SBN adalah karena pasar sudah priced-in faktor penurunan rating utang pemerintah yang dikeluarkan oleh Moody’s. Dia menuturkan, hal tersebut tecermin dari kenaikan Imbal hasil yield yang terjadi pasca pengumuman Moody\'s pada 5 Februari lalu.

Ezra melanjutkan, pihaknya juga melihat kebutuhan investor domestik untuk berinvestasi, utamanya investor institusi seperti dana pensiun dan asuransi, secara alami akan mengarah pada instrumen obligasi. Dia mengatakan, hal ini disebabkan oleh suku bunga deposito perbankan yang telah turun.

"Selain itu dari perspektif lebih panjang kami juga melihat masih ada potensi penurunan suku bunga lebih lanjut di tahun ini, yang menjadikan tingkat yield yang naik saat ini menjadi entry point menarik," jelas Ezra.

Data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat, MI telah menghimpun SBN hingga Rp262,24 triliun hingga 18 Februari 2026, naik dari Rp242,96 triliun pada 2025.

#sbn #surat-berharga-negara #reksa-dana #manajer-investasi #investasi-sbn #imbal-hasil-sbn #strategi-investasi #portofolio-reksa-dana #obligasi-indonesia #risiko-sbn #likuiditas-sbn #pengelolaan-durasi

https://market.bisnis.com/read/20260226/92/1955965/siasat-pinnacle-manulife-am-optimalkan-cuan-dari-sbn