Manulife Indonesia mengelola reksa dana dengan fokus pada obligasi tenor pendek untuk menghadapi volatilitas pasar, sambil memantau kondisi geopolitik. [525] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – Di tengah tekanan terhadap pasar modal Tanah Air, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) memiliki sederet strategi dalam pengelolaan portofolio reksa dana pendapatan tetap. Memperbesar eksposur terhadap obligasi bertenor pendek menjadi salah satu jurus andalan MAMI di tengah kondisi ini.
Direktur sekaligus Chief Investment Officer, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Ezra Nazula, mengakui bahwa pasar modal Tanah Air saat ini tengah dikepung berbagai sentimen. Mulai dari perang Iran hingga penurunan outlook kredit Indonesia oleh sejumlah lembaga keuangan global telah menekan yield acuan SBN melemah.
Data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) menerangkan bahwa yield SBN bertenor 10 tahun telah berada pada level 6,75% pada perdagangan hari ini, Senin (16/3/2026). Posisi itu mencerminkan kenaikan dari 6,60% pada Jumat (6/3/2026).
Meskipun begitu, Ezra menilai penting untuk melakukan pengelolaan portofolio demi mengantisipasi kondisi yang tidak menentu. Manulife menerapkan pengelolaan investasi, terutama pada reksa dana pendapatan tetap (RDPT) melalui proses investasi yang sistematis dan disiplin.
Artinya, terdapat batasan-batasan portofolio yang diterapkan oleh perusahaan dan dimonitor secara berkelanjutan untuk memastikan alokasi investasi telah terdiversifikasi pada efek yang berkualitas.
”Strategi portofolio pada posisi underweight durasi dibandingkan benchmark mempertimbangkan sentimen risk-off dari kondisi geopolitik saat ini. Kami memperkirakan kurva imbal hasil dapat mengalami steepening seiring masih adanya ekspektasi penurunan suku bunga, sehingga kami tetap mengunggulkan obligasi tenor pendek,” kata Ezra dalam risetnya, dikutip Senin (16/3/2026).
Manulife sedikitnya memiliki tiga produk RDPT dengan besaran dana kelolaan yang berbeda-beda. Terbesar, AUM digenggam oleh Manulife Obligasi Unggulan Kelas A yang memiliki total dana kelolaan mencapai Rp12,78 triliun.
Kontributor utama dalam portofolio reksa dana ini adalah SBN, dengan kombinasi surat utang perbankan sebagai diversifikasi atas surat utang korporasi. Dalam fund fact sheet, sebanyak 64,68% produk ini diisi oleh SBN, 18,09% pasar uang, dan hanya 17,24% obligasi korporasi.
Hal itu sejalan dengan strategi MAMI dalam mengelola investasi terhadap surat utang korporasi, yang cenderung menerapkan sikap wait and see terhadap kondisi pasar obligasi korporasi Tanah Air. Ezra menyebut, spread obligasi korporasi di pasar masih cenderung ketat.
”Untuk portofolio yang berinvestasi pada obligasi korporasi, dengan spread di pasar yang masih ketat, kami memilih untuk menunggu hingga terlihat premi risiko yang lebih menarik. Kami akan terus memantau perkembangan kondisi geopolitik dan akan bergerak lebih agresif apabila koreksi pasar telah mencapai tingkat imbal hasil ekuilibrium yang baru,” katanya.
Terhadap investor, Ezra menilai penting untuk melakukan diversifikasi investasi dengan alokasi pada kelas aset yang likuid, defensif, tetapi memiliki potensi upside. Menurutnya, penting bagi investor untuk stay invested karena secara historis, sentimen pasar dapat berbalik dengan sangat cepat saat terjadi eskalasi geopolitik.
Pasalnya, secara fundamental, ekonomi Indonesia diprediksi masih akan pulih pada tahun ini, terutama didukung oleh akselerasi belanja pemerintah, groundbreaking proyek hilirisasi Danantara, hingga stimulus hari raya.
”Produk reksa dana dapat menjadi pilihan menarik karena menerapkan prinsip diversifikasi, memiliki variasi kelas aset yang bisa disesuaikan dengan profil risiko investor, dan dikelola oleh manajer investasi profesional untuk mengoptimalkan peluang pasar,” tutupnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Pinnacle dan Manulife AM optimalkan reksa dana berbasis SBN meski peringkat utang turun. Strategi fokus pada durasi aktif, diversifikasi, dan potensi imbal hasil. [518] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah manajer investasi (MI) telah mempersiapkan beragam strategi dalam meracik produk-produk reksa dana berbasis Surat Berharga Negara (SBN) di tengah penurunan outlook peringkat utang Indonesia.
CEO Pinnacle Investment Guntur Putra mengatakan, perubahan outlook menjadi negatif belum tentu langsung mengubah profil risiko SBN secara signifikan, selama indikator makroekonomi domestik masih relatif terjaga.
“Selama indikator makro domestik masih cukup stabil, SBN tetap dipandang sebagai instrumen yang aman dan stabil oleh investor domestik,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, kenaikan imbal hasil (yield) SBN dalam beberapa waktu terakhir justru membuat valuasi instrumen tersebut semakin menarik, terutama untuk investasi jangka menengah hingga panjang.
Selain itu, SBN memiliki likuiditas tinggi dan memegang peran penting dalam struktur portofolio, khususnya bagi produk reksa dana pendapatan tetap yang membutuhkan aset berisiko rendah dan mudah diperdagangkan.
Dia mengatakan, Pinnacle mempertahankan pendekatan selektif dan fleksibel dalam meracik produk reksa dana berbasis SBN, baik pendapatan tetap maupun campuran. Salah satu strategi yang ditempuh adalah pengelolaan durasi secara aktif atau active tactical duration strategy, yang disesuaikan dengan dinamika suku bunga.
Selain itu, pemilihan tenor obligasi juga difokuskan pada titik yield curve yang dinilai paling optimal dari sisi risiko dan potensi imbal hasil. Kemudian, diversifikasi instrumen dan pengelolaan likuiditas tetap dijaga agar portofolio responsif terhadap perubahan pasar.
Sementara itu, untuk reksa dana campuran, Guntur mengatakan SBN berperan sebagai penyangga volatilitas dari komponen saham sehingga membantu menjaga stabilitas kinerja secara keseluruhan.
“Secara umum, kami memandang SBN masih akan menjadi instrumen strategis dalam portofolio. Namun, pengelolaannya harus tetap adaptif terhadap perkembangan kondisi makro dan pasar keuangan,” kata Guntur.
Secara terpisah, Director & Chief Investment Officer, Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Ezra Nazula mengatakan, penurunan peringkat utang tidak akan berpengaruh pada pembobotan instrumen SBN pada produk-produk reksa dana milik MAMI. Menurutnya, di tengah faktor ketidakpastian yang tinggi, kelas aset obligasi masih menawarkan elemen defensif bagi portofolio.
Ezra menerangkan, dalam meracik produk reksa dana pendapatan tetap dan campuran, MAMI memiliki pandangan konstruktif terhadap pasar SBN. Hal ini ditopang oleh permintaan domestik yang kuat dan potensi penurunan suku bunga lebih lanjut.
"Dalam jangka pendek kami tetap berhati-hati dan terus memperhatikan perkembangan dan respons pemerintah dan regulator terkait penilaian Moody’s dan MSCI," kata Ezra.
Ezra menjelaskan, masih tingginya minat investor seperti manajer investasi pada instrumen SBN adalah karena pasar sudah priced-in faktor penurunan rating utang pemerintah yang dikeluarkan oleh Moody’s. Dia menuturkan, hal tersebut tecermin dari kenaikan Imbal hasil yield yang terjadi pasca pengumuman Moody's pada 5 Februari lalu.
Ezra melanjutkan, pihaknya juga melihat kebutuhan investor domestik untuk berinvestasi, utamanya investor institusi seperti dana pensiun dan asuransi, secara alami akan mengarah pada instrumen obligasi. Dia mengatakan, hal ini disebabkan oleh suku bunga deposito perbankan yang telah turun.
"Selain itu dari perspektif lebih panjang kami juga melihat masih ada potensi penurunan suku bunga lebih lanjut di tahun ini, yang menjadikan tingkat yield yang naik saat ini menjadi entry point menarik," jelas Ezra.
Data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat, MI telah menghimpun SBN hingga Rp262,24 triliun hingga 18 Februari 2026, naik dari Rp242,96 triliun pada 2025.
Manajer investasi menyesuaikan portofolio reksa dana dengan aturan baru free float 15%, fokus pada fundamental kuat dan likuiditas. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kualitas pasar dan kepercayaan [693] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Para manajer investasi terpantau menyesuaikan portofolio reksa dana seiring dengan aturan terbaru batas minimum free float 15%.
Direktur Investasi BNP Paribas Asset Management Djumala Sutedja menuturkan pihaknya melihat peluang investasi pada emiten dengan free float relatif rendah, selama saham tersebut didukung oleh fundamental yang kuat dan likuiditas perdagangan yang memadai.
“Dalam menilai peluang investasi, fokus utama kami adalah kekuatan fundamental bisnis, valuasi yang menarik, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik. Likuiditas tetap penting, namun kualitas dan keberlanjutan kinerja emiten dalam jangka menengah-panjang menjadi prioritas,” katanya kepada Bisnis, dikutip Selasa (10/2/2026).
Adapun, dalam meracik produk reksa dana saham, BNP Paribas AM menerapkan pendekatan selektif dengan menitikberatkan pada emiten berfundamental solid, likuiditas yang memadai, serta praktik tata kelola yang baik.
Dia menambahkan, strategi investasi juga diarahkan pada jangka menengah hingga panjang dengan disiplin pengelolaan risiko dan diversifikasi portofolio.
“Kami juga memperhatikan keselarasan emiten dengan perkembangan regulasi dan standar pasar global. Pendekatan ini kami yakini dapat menghasilkan kinerja portofolio yang lebih berkelanjutan,” tutur Djumala.
Dia melanjutkan, kenaikan batas free float berpotensi memperkuat kualitas dan kedalaman pasar modal Indonesia, meski di sisi lain memunculkan tantangan penyesuaian bagi sebagian emiten.
Djumala menjelaskan kebijakan penyesuaian free float merupakan langkah positif untuk meningkatkan kepercayaan investor sekaligus memperluas basis likuiditas pasar dalam jangka menengah hingga panjang.
“Kenaikan batas minimum free float menjadi 15% merupakan langkah yang konstruktif. Meski dalam jangka pendek bisa menimbulkan tantangan penyesuaian bagi emiten tertentu, kebijakan ini berpotensi memperkuat kualitas pasar dan meningkatkan kepercayaan investor,” ujar Djumala.
Menurutnya, keberhasilan implementasi kebijakan tersebut akan ditentukan oleh sejumlah faktor. Hal tersebut mencakup kesiapan emiten, kondisi pasar secara keseluruhan, hingga konsistensi regulator dalam menerapkan aturan yang telah ditetapkan.
Djumala menilai, dalam jangka menengah hingga panjang, reformasi terkait free float justru dapat membawa dampak positif bagi pasar modal domestik dengan menciptakan struktur pasar yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Dampak Positif Free Float 15%
Chief Investment Officer BNI Asset Management Farash Farich mengatakan kenaikan free float akan berdampak positif bagi investor. Menurutnya, rencana ini akan menurunkan risiko likuiditas dan memperluas opsi investasi bagi para manajer investasi (MI).
"Penambahan free float akan membuat semakin banyak emiten yang bisa masuk ke universe investasi bagi manajer investasi," terangnya kepada Bisnis, dikutip Senin (9/2/2026).
Meski demikian, Farash mengingatkan agar proses dan struktur penambahan free float perlu dirancang dengan baik. Hal tersebut agar total shareholders return (TSR) dapat meningkat.
Terkait strategi peracikan portofolio, Farash menuturkan, BNI AM memiliki parameter manajemen risiko, dimana saham dengan tingkat likuiditas tertentu hanya dapat dibeli dengan bobot tertentu di portofolio
Dia menuturkan, parameter tersebut diberlakukan agar investor dapat masuk dan keluar dari reksa dana dengan mudah dan cepat tanpa menimbulkan dampak negatif ke NAV reksa dana.
Selain itu, BNI AM juga memilih saham berdasarkan fundamental, momentum dan valuasi dalam pemilihan saham serta faktor likuiditasnya.
Dia melanjutkan, penambahan free float tidak akan mengubah strategi BNI AM dalam memilih saham untuk meracik produk reksa dana sahamnya. Meski demikian, dilihat dari strategi tersebut saham-saham big caps mainstream memiliki potensi return yang relatif lebih baik tahun ini
"Hal ini didukung juga dengan dividend yield yang tinggi," tambahnya.
Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis rancangan revisi Peraturan Nomor I-A yang salah satunya mengatur ketentuan free float. Regulasi ini mengatur ketentuan kewajiban free float bagi perusahaan yang hendak melantai di bursa dengan besaran 15% sampai 25%, tergantung kapitalisasi saham perusahaan.
Dalam rancangan ini, diatur bahwa calon perusahaan tercatat dengan kapitalisasi pasar kurang dari Rp5 triliun wajib memenuhi free float minimal 25%. Ketentuan itu diatur pada poin III.3.7, yang menyatakan bahwa jumlah saham free float setelah penawaran umum, atau bagi perusahaan publik dalam periode 5 hari sebelum permohonan pencatatan, paling sedikit sebanyak 300 juta saham dan memenuhi jumlah free float yang disesuaikan berdasarkan kapitalisasi sahamnya.
"Paling sedikit 25% dari jumlah saham yang akan dicatatkan di Bursa, bagi Calon Perusahaan Tercatat yang memiliki Nilai Kapitalisasi Saham pada saat sebelum tanggal Pencatatan kurang dari Rp5.000.000.000.000," tulis ketentuan di poin III.3.7.1.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
IHSG anjlok memaksa manajer investasi mengatur ulang portofolio reksa dana. Fokus pada saham defensif dan fundamental kuat untuk mengatasi volatilitas pasar. [1,060] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – Koreksi dalam indeks harga saham gabungan (IHSG) belakangan ini memaksa kalangan manajer investasi untuk memutar otak dalam menyesuaikan portofolio reksa dana saham maupun campuran.
Siasat saat pasar bergejolak tentunya diharapkan mampu membuat daya tarik reksa dana kian berpendar saat indeks acuan luluh lantak beberapa hari belakangan.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG anjlok 6,84% menjadi 8.329 pekan lalu pada periode 23-30 Januari 2026. Pelemahan IHSG tersebut sudah mulai melambat, dengan IHSG ditutup menguat 0,30% atau 24,11 poin menjadi 8.146,71 pada perdagangan Rabu (4/2/2026).
Adapun, penekan utama IHSG berasal dari pengumuman MSCI yang membekukan rebalancing indeks untuk saham-saham asal Indonesia. Kejatuhan IHSG bahkan memicu trading halt selama dua hari berturut-turut.
Alhasil, reksa dana saham yang sempat tercatat memberikanreturntertinggi, kompak lesu pada 28 Januari 2026 atau saat MSCI menyampaikan penangguhanrebalancingindeks kepada BEI.
Sucorinvest Maxi Fund misalnya, yang sepanjang satu tahun belakangan mengalami kenaikan harga hingga 70,10%, turut mengalami koreksi hingga 7,34% pada periode 28 Januari–2 Februari 2026. Tidak heran, saham-saham yang tergabung dalam reksa dana ini antara lain ANTM, himbara, BUMI, ICBP, atau TINS, yang sebagian besar mengalami koreksi dalam.
Begitu juga dengan kinerja reksa dana saham TRIM Syariah, yang sepanjang satu tahun belakangan telah naik 31,20%, kini terkoreksi 15,59% pada periode yang sama. Saham-saham yang tergabung dalam reksa dana ini antara lain BUMI, BRMS, INCO, atau ANTM.
Kini, segenap upaya disiapkan manajer investasi untuk dapat mengungguli kinerja indeks acuan. Presiden Direktur Korea Investment Management (KIM) Indonesia Arfan Fasri Karniody, menegaskan bahwa pihaknya tetap berupaya menjaga kinerja reksa dana saham melalui pengelolaan portofolio yang disiplin, adaptif, dan berbasis fundamental.
Di tengah tekanan terhadap indeks acuan, Arfan menegaskan bahwa KIM akan terus menerapkan pendekatan yang aktif dengan fokus pada pembobotan saham yang memiliki fundamental kuat danundervalued.
“Rebalancing portofolio merupakan salah satu strategi untuk menjaga kinerja portofolio dengan mengurangi bobot pada saham yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap aliran dana asing dan indeks global,” katanya kepadaBisnis, dikutip Rabu (4/2/2026).
Dalam memilih saham, KIM cenderung konsisten untuk menghindari sektor komoditas. Dalam wawancaraBisnisterhadap Arfan pada awal tahun ini, Direktur Utama KIM itu menegaskan bahwa pihaknya memang cenderung memasang sikap yang berhati-hati terhadap saham dari sektor komoditas.
Kini, selepas amblesnya indeks, sektor komoditas masih belum berada dalam daftar pantauan manajer investasi asal Korea itu. Beberapa sektor yang menarik perhatian KIM antara lain perbankan, konsumer, infrastruktur, hingga telekomunikasi.
“Melihat peningkatan volatilitas pasar saham yang cukup ekstrim dalam beberapa waktu terakhir, kami menilai bahwa saham-saham yang bersifat defensif seperti sektor perbankan, konsumer, dan infrastruktur/telekomunikasi menjadi pilihan yang lebih menarik saat ini,” katanya.
Dalam wawancaranya kepadaBisnispada 9 Januari 2026, kecenderungan KIM untuk memilih sektor telekomunikasi didasarkan pada sifat defensif saham-saham di dalamnya dan berorientasi pada permintaan domestik.
Sementara terhadap sektor konsumer, kendati masih dibayangi pelemahan daya beli masyarakat, KIM menilai sektor ini cukup prospektif seiring dengan dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang dinilai relatif ekspansif.
“Sebaliknya, kami cenderung lebih berhati-hati terhadap sektor berbasis komoditas yang sangat sensitif terhadap dinamika global dan berpotensi mengalami volatilitas lebih tinggi dalam kondisi ketidakpastian,” katanya saat itu.
Di satu sisi, Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen Eri Kusnadi, menerangkan bahwa di tengah kondisi saat ini, pihaknya akan lebih fokus memberikan eksposur yang lebih besar terhadap emiten dengan fundamental yang baik. Namun, dia menegaskan bahwarebalancingsecara khusus terhadap kasus ini tidak dilakukan Batavia.
Upaya pengelolaan portofolio hanya dilakukan dengan pembobotan saham dalam reksa dana mereka sesuai dengan analisis fundamental dan teknikal yang dilakukan Batavia.
“Jadi kami rasa melewati IHSG bukan lagi target utama kami. Fokus kami lebih ke pemilihan emiten berkualitas, secara profit, secara pertumbuhan, secaraasset quality, secara prinsip-prinsip investasi yang memang sudah menjadi filosofi di tempat kami. Rebalancing besar-besaran atau rebalancing secara khusus nggak ada,” tegas Eri kepadaBisnis, Rabu (4/2/2026).
Terhadap sektor-sektor yang menarik perhatian Batavia dalam meracik reksa dana antara lain komoditas, telekomunikasi, hingga konsumer. Eri memprediksi, ketiga sektor itu memiliki pertumbuhan yang baik, resilien, hingga berkelanjutan.
Dengan strategi tersebut, Batavia cukuppedemenorehkan AUM yang bertumbuh di akhir tahun, meskipun tantangan serius menghantui kinerja industri reksa dana awal tahun ini.
Hal itu sesuai dengan reksa dana Batavia Dana Saham yang memiliki eksposur yang cukup besar terhadap saham-saham himbara, ASII, CMRY, KLBF, MAPI, TINS, atau TLKM.
“Ya itu tiga sektor yang kami rasa pertumbuhannya cukup bagus,resilient, dan mungkin kalau telekomunikasi, sedikit lebihsustainatau lebih kestabilityyang kami coba lihat,” katanya.
Prospek Reksa Dana Campuran
Sementara itu, kalangan manajer investasi cukup pede terhadap pertumbuhan reksa dana campuran. Kendati kondisi pasar saham tengah lesu, tetapi komposisi surat utang yang stabil dinilai tetap mampu memberikan imbal hasil yang signifikan terhadap laju reksa dana.
Batavia Prosperindo misalnya, tidak berencana melakukan rebalancing terhadap reksa dana campuran mereka. Menurutnya, pasar surat utang tengah masuk dalam fase reverse dari sisi biaya lantaran siklus suku bunga telah berada di ujung masa penurunan.
“Jadi kami rasa, bonds lebih ke arah netral. Jadi kami juga tidak rebalancing secara signifikan ke obligasi, lebih ke market dynamics saja antara bonds dan equity,” tegasnya.
KIM Indonesia, menilai komposisi surat utang dan saham dalam reksa dana campuran mereka telah cukup optimal untuk menjaga stabilitas nilai aktiva bersih atau NAB.
Dari sisi pasar obligasi, ekspektasi penurunan suku bunga lanjutan pada tahun ini masih menjadi katalis penting bagi kenaikan harga obligasi, yang dinilai dapat mengompensasi penurunan di sisi saham.
“Sementara di sisi ekuitas, kami masih mencermati perkembangan serta keputusan MSCI yang dijadwalkan pada Mei, mengingat keputusan tersebut berpotensi memberikan dampak yang signifikan terhadap pergerakan pasar saham Indonesia,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto turut menerangkan bahwa pihaknya belum memiliki rencana untuk memperbesar eksposur terhadap obligasi di tengah lesunya pasar saham.
Rudiyanto menilai, terdapat potensi tekanan harga karena pada awal tahun terdapat penerbitan obligasi pemerintah yang cukup signifikan.
Selain itu, terhadap pemilihan saham, Rudiyanto menerangkan bahwa pihaknya juga akan mengelola portofolio dengan fokus pada value investing dan melihat story perusahaan. Di tengah kondisi lesunya pasar saham, Panin justru menambah eksposur terhadap saham blue chip.
“Saat ini kami melihat ada potensi tekanan harga karena awal tahun ada front loading penerbitan obligasi pemerintah. Di level yield yang wajar, murah, baru kami akan menambah [obligasi],” katanya, dikutip Rabu (4/2/2026).
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56