Pemerintah Tegaskan Impor US$4,5 Miliar Produk Pertanian AS Bersifat B2B

Pemerintah Tegaskan Impor US$4,5 Miliar Produk Pertanian AS Bersifat B2B

Pemerintah tegaskan impor produk pertanian AS senilai US$4,5 miliar bukan beban APBN, melainkan dukungan B2B untuk jaga daya saing dan akses pasar.

(Bisnis.Com) 01/03/26 13:35 150939

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah membantah bahwa fasilitasi impor produk pertanian senilai US$4,5 miliar dalam kerangka perjanjian perdagangan resiprokal (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) merupakan pembelian yang dibiayai oleh APBN, melainkan dukungan kebijakan untuk memperlancar kerja sama bisnis-ke-bisnis (B2B).

Juru Bicara Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menyatakan bahwa pemerintah hanya berperan sebagai regulator dan penjaga standar mutu, sementara keputusan transaksi dan pembiayaan sepenuhnya berada pada sektor swasta.

“Menjaga akses pasar Amerika Serikat melalui pendekatan perdagangan yang seimbang merupakan langkah rasional untuk melindungi daya saing produk nasional,” kata Haryo dalam keterangan resmi, Minggu (1/3/2026).

Menurutnya, AS merupakan mitra dagang strategis dan tujuan ekspor terbesar kedua Indonesia, ditandai dari capaian ekspor US$31,0 miliar, atau sekitar 11% dari total ekspor Indonesia ke dunia sebesar US$282,9 miliar pada 2025.

Dia menyebut impor produk pertanian dari Negeri Paman Sam juga penting bagi industri nasional, misalnya komoditas seperti gandum yang selama ini digunakan sebagai bahan baku utama industri pengolahan, termasuk industri makanan olahan berorientasi ekspor.

“Dengan terbukanya opsi pasokan yang lebih luas dan kompetitif, pelaku usaha dalam negeri dapat memperoleh bahan baku yang stabil, berkualitas, dan dengan harga yang bersaing,” ujar Haryo.

Terkait dengan proporsi, impor komoditas pertanian Indonesia dari AS tahun lalu mencapai US$1,21 miliar, atau disebut hanya sekitar 9,2% dari total impor komoditas pertanian Indonesia yang berkisar US$13,2 miliar.

Dia mencontohkan impor sereal (HS10) dari AS sebesar US$375,9 juta dari total US$3,7 miliar atau sekitar 10%, dan untuk soybeans (HS12) sebesar US$1 juta dari total US$1,6 miliar. Menurutnya, hal ini menunjukkan ruang penyesuaian pasokan tetap berbasis pertimbangan komersial dan tidak menimbulkan beban fiskal.

Haryo lantas menjelaskan bahwa perusahaan Tanah Air dan AS telah menandatangani dua tahap nota kesepahaman pada 7 Juli 2025 dan 19 Februari 2026, yang didukung oleh asosiasi pelaku usaha seperti Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).

Oleh karena itu, dia menyebut fasilitasi ini merupakan bagian dari strategi memperkuat akses pasar sekaligus mendukung rantai nilai industri nasional, dengan tetap berorientasi pada kepentingan ekonomi dan kedaulatan nasional.

“Pemerintah akan terus menjamin impor memenuhi standar mutu dan keamanan yang berlaku, serta akan mengambil langkah sesuai peraturan apabila terjadi gangguan terhadap pasar domestik,” pungkas Haryo.

#impor-produk-pertanian #fasilitasi-impor #perdagangan-resiprokal #apbn #kerja-sama-bisnis-ke-bisnis #akses-pasar-amerika-serikat #daya-saing-produk-nasional #mitra-dagang-strategis #ekspor-indonesia #n-a

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260301/12/1956653/pemerintah-tegaskan-impor-us45-miliar-produk-pertanian-as-bersifat-b2b