Tekanan Datang Bertubi-tubi, Perbanas Ungkap 3 Strategi Jaga Industri Perbankan
Perbankan Indonesia tetap solid meski ada tekanan, dengan strategi mitigasi risiko seperti penguatan manajemen risiko, likuiditas, dan pengelolaan nilai tukar.
(Bisnis.Com) 09/03/26 10:44 158840
Bisnis.com, JAKARTA — Industri perbankan perlu menyiapkan strategi kendati dinilai masih punya ketahanan yang kuat di tengah munculnya berbagai macam tekanan baik dari sisi domestik maupun eksternal.
Ketua Umum Perbanas yang juga Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) atau BRI, Hery Gunardi, mengatakan fundamental industri perbankan Indonesia hingga awal 2026 masih berada pada level yang solid.
Hal itu tercermin dari sejumlah indikator utama seperti pertumbuhan kredit, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), hingga ketahanan permodalan.
Hery juga menyampaikan bahwa kredit perbankan pada Januari 2026 tercatat tumbuh 9,96% secara tahunan (year-on-year/YoY), meningkat dibandingkan posisi tahun sebelumnya yang berada di kisaran 9,63% YoY.
Di sisi lain, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat sebesar 13,48% YoY. Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tetap terjaga di level 2,14%. Ketahanan permodalan industri perbankan pun masih solid dengan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) mencapai sekitar 25,87%.
“Beberapa indikator profitabilitas menghadapi tekanan moderat seiring meningkatnya biaya operasional. Namun demikian, perbankan tetap perlu waspada. Walaupun outlook industri perbankan secara umum masih cukup baik, tapi kita harus tetap antisipatif terhadap berbagai potensi risiko ke depan,” ujar Hery dalam keterangan resminya, dikutip Senin (9/3/2026).
Menurut Hery, ketegangan geopolitik global yang berkepanjangan berpotensi memicu kenaikan inflasi energi dan harga pangan. Kondisi tersebut dapat menekan daya beli masyarakat serta memperlambat aktivitas ekonomi.
Ketidakpastian ini juga berpotensi menekan kinerja sektor usaha sehingga meningkatkan risiko kredit bermasalah. Oleh karena itu, perbankan perlu lebih selektif dalam menyalurkan kredit sekaligus memperkuat pengelolaan risiko serta kualitas aset.
3 Langkah Mitigasi Risiko
Hery menjelaskan bahwa terdapat beberapa langkah mitigasi risiko yang perlu diperkuat oleh industri perbankan. Pertama, penguatan manajemen risiko melalui pelaksanaan stress test sektoral pada portofolio kredit, khususnya pada sektor transportasi, logistik, dan manufaktur yang sangat bergantung pada bahan bakar minyak (BBM).
Selain itu, bank juga perlu mengoptimalkan sistem peringatan dini (early warning system) terhadap potensi peningkatan NPL serta memperketat disiplin kredit melalui penerapan risk-based pricing.
Kedua, perbankan perlu memastikan ketersediaan likuiditas yang memadai untuk menghadapi potensi volatilitas arus dana. Hal ini dapat dilakukan dengan memperkuat rasio likuiditas seperti Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) sehingga bank memiliki bantalan arus kas yang cukup.
Ketiga, industri perbankan juga harus mengelola risiko nilai tukar dan likuiditas valuta asing secara lebih hati-hati. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menjaga posisi devisa neto (PDN) tetap konservatif, memperkuat strategi lindung nilai (hedging) terhadap eksposur valas, serta mengelola maturity mismatch dalam pendanaan valuta asing.
Langkah-langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan ketersediaan likuiditas valuta asing bagi sektor-sektor strategis, termasuk eksportir dan importir, guna menjaga kelancaran aktivitas perdagangan nasional.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Komisioner Pengaturan, Perizinan dan Pengendalian Kualitas OJK Deden Firman Hendarsyah menilai kondisi industri perbankan nasional masih cukup resilien, terutama dari sisi permodalan.
“Demikian pula dari sisi likuiditas, kondisinya masih ample dan seluruh indikator utama berada di atas threshold minimal yang ditetapkan regulator,” pungkasnya.
#perbankan-indonesia #strategi-perbankan #pertumbuhan-kredit #dana-pihak-ketiga #ketahanan-permodalan #non-performing-loan #capital-adequacy-ratio #risiko-kredit #manajemen-risiko #likuiditas-perbankan