Daya Beli Masyarakat Masih jadi Tantangan Asuransi Jiwa pada Awal 2026

Daya Beli Masyarakat Masih jadi Tantangan Asuransi Jiwa pada Awal 2026

Daya beli masyarakat yang lemah jadi tantangan asuransi jiwa 2026, namun membuka peluang peningkatan literasi keuangan dan inovasi produk.

(Bisnis.Com) 10/03/26 15:35 160565

Bisnis.com, JAKARTA — Dinamika daya beli masyarakat Indonesia yang masih tertekan menjadi tantangan bagi industri asuransi jiwa dalam meningkatkan pertumbuhan premi pada awal 2026.

Selain hal tersebut, PT Great Eastern Life Indonesia menilai industri asuransi jiwa saat ini berada di tengah dinamika seperti kompetisi yang semakin tinggi dan volatilitas kondisi pasar keuangan.

“Serta geopolitik yang memengaruhi keputusan masyarakat dalam menentukan rasio disposable income yang dialokasikan untuk perencanaan keuangan,” kata Marketing Director Great Eastern Life Indonesia, Roy Hendrata kepada Bisnis, Selasa (10/3/2026).

Meski begitu, Roy menilai kondisi-kondisi tersebut membuka ruang untuk semakin meningkatkan literasi keuangan dan pentingnya perlindungan finansial untuk masyarakat.

Hal tersebut karena asuransi dia nilai memiliki peran penting dalam membantu masyarakat mengelola risiko serta menjaga stabilitas keuangan keluarga ketika menghadapi berbagai kemungkinan yang tidak terduga.

Oleh karena itu, lanjut Roy, Great Eastern Life Indonesia terus menekankan penguatan distribusi, pengelolaan portofolio yang sehat, inovasi produk yang berkelanjutan dan relevan.

“Serta peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya proteksi sebagai bagian dari perencanaan keuangan yang lebih komprehensif,” ucapnya.

Untuk diketahui, pendapatan premi bruto Great Eastern Life Indonesia tercatat sebesar Rp377,45 miliar, meningkat sekitar 67,6% (year on year/YoY) pada Januari 2026. Sementara itu, total klaim yang dibayarkan mencapai Rp136,66 miliar, meningkat sekitar 31,5% YoY.

Senada, PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life Indonesia) menilai tantangan utama industri asuransi jiwa saat ini antara lain daya beli masyarakat, inflasi biaya kesehatan, dan tingkat literasi keuangan yang masih perlu ditingkatkan.

Kendati demikian, President Director Sun Life Indonesia Albertus Wiroyo melihat hal itu sebagai momentum bagi industri untuk terus berinovasi dan menghadirkan solusi perlindungan yang semakin relevan, terjangkau, dan mudah diakses oleh masyarakat.

“Di Sun Life, kami terus memperkuat inovasi produk, distribusi, serta kualitas layanan kepada nasabah untuk menjawab kebutuhan tersebut,” ucapnya kepada Bisnis, Selasa (10/3/2026).

Albertus menyebut kinerja Sun Life Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang solid. Hingga akhir 2025, pendapatan premi tumbuh sebesar 51% secara tahunan. Di sisi lain, pembayaran klaim juga tetap menjadi prioritas utama perusahaan sebagai bentuk komitmen kepada nasabah.

“Dengan total aset sekitar Rp20 triliun dan RBC sekitar 505% [per 31 Desember 2025], jauh lebih tinggi dari persyaratan pemerintah yaitu 120%, posisi keuangan Sun Life tetap sangat kuat untuk mendukung perlindungan jangka panjang bagi nasabah,” tegasnya.

Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai premi asuransi jiwa pada Januari 2026 sebesar Rp17,97 triliun, turun 6,15% YoY. Sementara itu, RBC asuransi jiwa sebesar 478,06%.

#daya-beli #asuransi-jiwa #industri-asuransi #premi-asuransi #literasi-keuangan #perlindungan-finansial #great-eastern-life #sun-life-indonesia #inovasi-produk #distribusi-asuransi #klaim-asuransi #per

https://finansial.bisnis.com/read/20260310/215/1959326/daya-beli-masyarakat-masih-jadi-tantangan-asuransi-jiwa-pada-awal-2026