Harga Minyak & Rupiah Sempat Jauhi Fundamenal, Rasionalisasi Belanja atau APBN-P?

Harga Minyak & Rupiah Sempat Jauhi Fundamenal, Rasionalisasi Belanja atau APBN-P?

Harga minyak dan nilai tukar rupiah bergerak tidak sesuai asumsi APBN 2026. Pemerintah mempertimbangkan rasionalisasi belanja namun tidak dengan revisi anggaran.

(Bisnis.Com) 11/03/26 12:50 161663

Bisnis.com, JAKARTA -- Pergerakan harga minyak dan nilai tukar rupiah yang sempat menjauhi asumsi makro APBN 2026 menghadapkan pemerintah untuk melakukan rasionalisasi belanja atau revisi anggaran. Pemerintah sejauh ini masih menunggu perkembangan dan berharap kedua indikator utama dalam APBN tidak melompat jauh dari nilai fundamentalnya.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengemukakan pihaknya membutuhkan waktu untuk menganalisis perombakan APBN di tengah harga minyak yang melejit dan nilai tukar rupiah yang ambruk. Menurut Purbaya, pemerintah harus hati-hati dalam merombak APBN.

Purbaya mengaku telah dipanggil ke Istana Negara untuk membahas terkait dengan antisipasi dampak kondisi geopolitik global. Meski begitu, dia menilai selama fondasi ekonomi baik, pemerintah bisa gampang mengendalikan dampak geopolitik yang tengah panas.

Selain itu, pemerintah berupaya memastikan uang di sistem dengan cukup dan Bank Indonesia (BI) kemudian mengendalikan kebijakan moneter. "Subsidi BBM pun masih aman dan masih kuat karena kenaikan [harga minyak] baru beberapa hari. Jadi belum cukup mengubah-ubah anggaran [APBN] kita," kata Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan pada Selasa (10/3/2026).

Dia menjelaskan bahwa pemerintah masih membutuhkan waktu untuk menganalisis dampak dari gejolak geopolitik seperti kenaikan harga minyak dunia hingga nilai tukar rupiah yang merosot.

"Dalam menetapkan respons APBN itu harus lebih hati-hati dibanding merespons harga saham," katanya.

Rasionalisasi Belanja

Sementara itu, pemerintah diminta untuk mendahulukan rasionalisasi belanja guna menghindari pelebaran defisit APBN karena anggaran subsidi BBM yang berpeluang membengkak.

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai opsi APBN-P memang relevan untuk dipertimbangkan di tengah kondisi harga minyak global yang meningkat dan rupiah yang sudah melampaui asumsi makro APBN. Akan tetapi, opsi tersebut tidak boleh diperlakukan sebagai respons otomatis.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurrahman menjelaskan bahwa tekanan fiskal terutama datang dari kenaikan beban subsidi sekaligus kompensasi energi serta meningkatnya biaya impor BBM akibat depresiasi rupiah.

Opsi APBN-P dinilai dapat menjadi instrumen koreksi fiskal agar kredibilitas kebijakan tetap terjaga. Hal ini bisa dilakukan apabila deviasi terhadap asumsi makro berlangsung cukup dalam dan persisten sehingga menyebabkan postur APBN mengalami tekanan pada sisi defisit dan pembiayaan.

"Namun APBN-P seharusnya menjadi opsi terakhir setelah pemerintah melakukan rasionalisasi belanja secara serius. Banyak program belanja yang efektivitasnya rendah, tumpang tindih, atau lebih bersifat populis daripada produktif sehingga ruang efisiensi sebenarnya masih cukup besar," terang Rizal kepada Bisnis, Selasa (10/3/2026).

Menurut Rizal, prioritas kebijakan pemerintah seharusnya bukan sekadar menyesuaikan angka melalui revisi APBN, melainkan realokasi belanja ke sektor dengan efek pengganda alias multiplier effect ekonomi yang lebih tinggi.

Apalagi, kala situasi fiskal semakin ketat dengan ditandai oleh rasio pajak yang masih terbatas dan kebutuhan pembiayaan yang meningkat. Oleh karena itu, Rizal menilai penerbitan APBN-P hanya masuk akal apabila tekanan eksternal benar-benar mengubah fondasi makro secara signifikan dan berkelanjutan.

Adapun langkah yang dinilai lebih tepat justru memperkuat disiplin fiskal melalui evaluasi program, efisiensi belanja kementerian/lembaga, serta penajaman prioritas pembangunan.

"Tanpa koreksi pada kualitas belanja, APBN-P berisiko hanya menjadi mekanisme administratif yang menyesuaikan angka fiskal, tetapi tidak menyelesaikan persoalan struktural dalam pengelolaan APBN," ujar pria yang juga Dosen pada Universitas Trilogi itu.

#harga-minyak #nilai-tukar-rupiah #rasionalisasi-belanja #revisi-anggaran #asumsi-makro-apbn #dampak-geopolitik #subsidi-bbm #kenaikan-harga-minyak #depresiasi-rupiah #defisit-apbn #koreksi-fiskal #rea

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260311/10/1959628/harga-minyak-rupiah-sempat-jauhi-fundamenal-rasionalisasi-belanja-atau-apbn-p