Ada 200 Kasus Campak di Balikpapan, Mayoritas Penderita Tak Divaksin

Ada 200 Kasus Campak di Balikpapan, Mayoritas Penderita Tak Divaksin

Lebih dari 200 kasus campak di Balikpapan, mayoritas tanpa vaksin. Dinkes melakukan strategi kejar vaksin dan isolasi mandiri untuk cegah penularan.

(Bisnis.Com) 15/03/26 13:41 165403

Bisnis.com, BALIKPAPAN — Kota Balikpapan mencatat lebih dari 200 kasus suspek campak yang tersebar di seluruh wilayah kelurahan, dengan mayoritas penderita adalah individu yang tidak pernah mendapatkan vaksinasi atau memiliki riwayat imunisasi tidak lengkap.

Temuan ini menggarisbawahi urgensi kewaspadaan kolektif menjelang mudik Lebaran, di tengah ancaman penularan penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi ini.

Kepala Dinas Kesehatan Balikpapan Alwiati menyatakan meski angka kasus cukup tinggi, Balikpapan belum masuk dalam kategori daerah endemis yang diwajibkan Kementerian Kesehatan untuk melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI). "Rentang usianya anak dan dewasa," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (11/3/2026).

Sebagaimana diketahui, campak adalah penyakit dengan tingkat penularan sangat tinggi, satu orang terinfeksi dapat menularkan kepada 12 hingga 18 individu rentan. Di tengah mobilitas tinggi menjelang Lebaran, angka ini berpotensi berlipat ganda jika tidak ditangani serius.

Alwiati menyebutkan, mayoritas penderita adalah individu yang tidak pernah divaksinasi atau memiliki riwayat imunisasi tidak lengkap. "Dari hasil surveillance kita, yang terjangkit itu rata-rata yang tidak pernah vaksinasi," ungkap Alwi, sapaan akrabnya.

Dia mengungkapkan bahwa berbagai alasan penolakan, mulai dari keyakinan keagamaan hingga skeptisisme terhadap keamanan vaksin. "Macam-macam sih ya. Ada yang alasan keagamaan," ungkapnya.

Kendati demikian, perbedaan tingkat keparahan antara individu yang divaksinasi dan tidak divaksinasi sangat signifikan.

"Kalau dia sudah vaksin, walaupun misalnya dia terjangkit, tidak parah. Kalau yang tidak vaksin, dia itu parah banget, yang ruamnya yang berat, kemudian demamnya tinggi, ditandai dengan sesak napas. Ada gejala pneumonia," jelas Alwiati.

Selanjutnya, Dinkes Balikpapan melakukan strategi kejar vaksin, sebagai upaya aktif menjangkau individu yang belum mendapatkan imunisasi.

Dia menambahkan, upaya untuk pasien yang terinfeksi menghadapi protokol penanganan cukup ketat. "Kalau campak dia harus isolasi mandiri supaya dia tidak menjangkiti yang lain. Isolasi mandirinya sampai dia sembuh," katanya.

Lebih lanjut, Dinkes juga memberikan obat profilaksis kepada keluarga pasien sebagai langkah preventif. "Jika ada yang sakit di dalam rumah, kami akan laporkan segera ke Puskesmas, karena keluarga akan diberikan obat-obat profilaksis untuk pencegahan bagi keluarganya," tambahnya.

Di sisi lain, Alwi mengeluarkan surat edaran kewaspadaan terhadap campak yang sejalan dengan imbauan Kementerian Kesehatan, khususnya terkait interaksi fisik dengan anak-anak selama Lebaran.

"Jangan mau anaknya nanti dicium-cium gitu ya, orang datang punya bayi, terus anaknya semua, sementara dia sendiri membawa virus. Kalau mau menyentuh anak kecil, dia harusnya dalam kondisi cuci tangan dulu," ungkapnya.

Selain campak, Dinkes juga mencatat penyakit lain yang dominan di Balikpapan, hipertensi, ISPA, dan gangguan lambung. "Penyakit yang paling tinggi saat ini adalah hipertensi. Kemudian ISPA, penyakit lambung," ungkapnya.

Adapun, Alwi mengingatkan masyarakat untuk tidak balas dendam setelah berpuasa dengan mengonsumsi makanan berlebihan di masa lebaran.

"Jangan juga nanti habis puasa balas dendam, makanannya pada saat lebaran sudah lupa, semuanya dimakan sehingga hipertensi," pungkasnya.

#campak-balikpapan #kasus-campak #vaksinasi-campak #imunisasi-campak #campak-tidak-divaksin #penularan-campak #gejala-campak #isolasi-mandiri-campak #pencegahan-campak #dinas-kesehatan-balikpapan #stra

https://kalimantan.bisnis.com/read/20260315/407/1960567/ada-200-kasus-campak-di-balikpapan-mayoritas-penderita-tak-divaksin