Rupiah Makin Tertekan Akibat Perang, Ini Respons Menkeu Purbaya

Rupiah Makin Tertekan Akibat Perang, Ini Respons Menkeu Purbaya

Rupiah tertekan akibat perang AS-Israel-Iran, namun Menkeu Purbaya optimis depresiasi hanya 0,3%. Cadangan devisa kuat dan investor asing tetap percaya.

(Bisnis.Com) 16/03/26 03:30 165636

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah diperkirakan masih mengalami tekanan akibat gejolak perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran. Hal ini kendati pemerintah optimistis bahwa depresiasi mata uang garuds terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belum terlalu dalam.

Berdasarkan perdagangan terakhir, Jumat (13/3/2026), nilai tukar rupiah terdepresiasi sampai ke level Rp16.944 per dolar AS. Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Andry Asmoro mencatat bahwa depresiasi rupiah itu sebesar 1,03% month-to-date (mtd) dan 1,52% year-to-date (ytd).

Adapun ke depan, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual memperkirakan nilai tukar rupiah masih akan dalam tekanan terkait dengan gejolak perang.

"Rupiah masih dalam tekanan karena isu eksternal terkait kenaikan harga minyak yang mendorong naiknya ekspektasi inflasi ke depan," ujarnya kepada Bisnis, Minggu (15/3/2026).

Akan tetapi, David menilai ketahanan eksternal Indonesia masih akan terjaga dengan posisi cadangan devisa yang masih memadai.

Apabila merujuk pada data Bank Indonesia (BI), posisi cadangan devisa sampai dengan Februari 2026 adalah US$151,9 miliar atau susut dari bulan sebelumnya yakni US$154,6 miliar. Jumlahnya setara pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Kendati dalam tekanan, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya membantah nilai tukar rupiah mengalami depresiasi yang dalam akibat gejolak perang.

Pada sidang kabinet paripurna yang digelar Jumat (13/3/2026), Purbaya melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa depresiasi rupiah akibat gejolak perang hanya sebesar 0,3%.

Hal ini kendati nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp17.000 per dolar AS beberapa waktu lalu usai konflik geopolitik memanas.

"Itu setiap perang, rupiah hanya terdepresiasi sebesar 0,3%. Jadi sebetulnya bagus daya tahan kita. Yang real, pemain yang punya duit betul, bilangnya seperti ini. Tetapi yang enggak punya duit kali yang jelek-jelekin," terangnya di Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Minggu (15/3/2026).

Di sisi lain, Purbaya mengklaim bahwa investor asing masih percaya terhadap kredibilitas pemerintah. Hal ini dilihat dari premi credit default swap (CDS), yang dinilainya masih relatif stabil. CDS menunjukkan persepsi investor terhadap risiko gagal bayar utang.

Di sisi lain, dia turut memaparkan bahwa spread antara obligasi pemerintah Indonesia atau SBN dan milik pemerintah AS (US Treasury) hanya naik dari 240 basis poin pada Januari ke 243 basis poin saat ini.

"Artinya asing masih percaya sama kita. Yang domestik aja enggak percaya, Pak. Pengamat domestik yang enggak percaya," tuturnya.

Adapun mengenai aliran modal asing, mantan ekonom Danareksa itu menyebut tren outflow di pasar keuangan RI masih positif.

Perinciannya, terang Purbaya, yakni outflow per Maret 2026 pada pasar SBN Rp700 miliar, serta inflow pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) Rp2,2 triliun dan saham Rp2,2 triliun.

"Jadi setelah goncang-goncang, di bulan Maret sepertinya masih masuk ke sini, Pak. Artinya mereka percaya betul bahwa fondasi kita bagus. Ini kalau investor asli seperti ini, Pak," ucapnya.

#rupiah-tertekan #nilai-tukar-rupiah #depresiasi-rupiah #perang-amerika-iran #harga-minyak-naik #cadangan-devisa-indonesia #menteri-keuangan-purbaya #investor-asing-percaya #premi-credit-default-swap #n-a

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260316/9/1960658/rupiah-makin-tertekan-akibat-perang-ini-respons-menkeu-purbaya