AALTO Gandeng Telkom Group, Layanan ‘BTS Terbang’ HAPS Ditargetkan Komersial 2028
AALTO dan Telkom Group berkolaborasi untuk menghadirkan layanan HAPS Zephyr di Indonesia pada 2028, guna memperluas konektivitas di wilayah terpencil.
(Bisnis.Com) 18/03/26 11:55 168114
Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan teknologi kedirgantaraan, AALTO, mempercepat komersialisasi platform High Altitude Platform Station (HAPS) Zephyr dan menargetkan Indonesia sebagai salah satu pasar prioritas di Asia-Pasifik. Bekerja sama dengan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), perusahaan menargetkan layanan ini komersial pada 2028.
Zephyr disiapkan menjadi “menara BTS terbang” di stratosfer yang dapat membantu menutup kesenjangan cakupan jaringan seluler, khususnya di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T)
CEO AALTO Hughes Boulnois menjelaskan, Zephyr saat ini berada di tahun terakhir fase uji coba Proof of Concept (PoC). Sejumlah penerbangan stratosfer jarak jauh yang memecahkan rekor dan serangkaian uji coba berhasil dilakukan sepanjang 2025, termasuk penerbangan nonstop lebih dari 67 hari di ketinggian sekitar 70.000 kaki.
Dia mengatakan rekor ini menjadi bukti kemampuan operasi berkelanjutan HAPS di lapisan stratosfer.
“Indonesia adalah pasar prioritas bagi AALTO. Bersama Telkomsel, kami menargetkan penerbangan demonstrasi Zephyr pada 2027 dan layanan komersial mulai 2028,” ujar Boulnois kepada Bisnis, Rabu (18/3/2026).
Boulnois mengatakan kerja sama ini dituangkan dalam nota kesepahaman untuk mematangkan aspek komersial, teknis, dan regulasi guna membangun ekosistem layanan stratosfer (Stratospace) di Indonesia.
Di tingkat global, AALTO telah terlibat dalam program HAPS di Jepang yang didukung konsorsium investor termasuk operator seluler NTT DOCOMO. Perusahaan juga mendukung strategi nasional Très Haute Altitude (Very High Altitude) di Prancis.
Di kawasan Asia-Pasifik dan Eropa, mitra komersial maupun pemerintah mulai menyiapkan Zephyr untuk misi operasional di dunia nyata, mulai dari konektivitas hingga pengawasan wilayah.
Hal ini menekankan bahwa layanan tersebut telah diadopsi oleh beberapa negara.
Menurut Boulnois, Zephyr menawarkan kombinasi keunggulan teknis dan ekonomis dibandingkan mengandalkan perluasan BTS terestrial dan satelit semata untuk menjangkau wilayah pelosok.
Pesawat tanpa awak bertenaga surya ini terbang di stratosfer pada ketinggian sekitar 60.000–70.000 kaki dan dapat mengudara berhari-hari hingga berbulan-bulan, memberikan cakupan luas layaknya satelit, tetapi dengan fleksibilitas mirip pesawat tanpa awak.
“Zephyr membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas konektivitas tanpa biaya dan kompleksitas pembangunan menara di pegunungan, hutan, dan ribuan pulau,” kata Boulnois.
Dia mengatakan Indonesia selama ini menghadapi tantangan geografis dalam memperluas jaringan, mulai dari kontur pegunungan, kawasan hutan lebat, hingga sebaran kepulauan yang luas, yang membuat pembangunan BTS konvensional mahal dan memakan waktu. Zephyr diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengatasi hal tersebut.
Dia menegaskan, Zephyr didesain sebagai aset yang hemat biaya dan bersifat komplementer terhadap infrastruktur komunikasi, antariksa, dan pertahanan yang sudah ada.
Platform ini menyediakan lapisan konektivitas tambahan di atas jaringan BTS dan satelit, sehingga operator dapat mengoptimalkan investasi yang telah ditanamkan tanpa harus membangun menara baru di lokasi-lokasi sulit.
Selain aspek biaya, AALTO menyoroti peran HAPS dalam memperkuat ketahanan jaringan (network resilience). Zephyr beroperasi di atas sebagian besar sistem cuaca dan dapat diposisikan ulang (redeploy) sesuai kebutuhan, sehingga cocok untuk memulihkan atau menjaga layanan komunikasi di wilayah terdampak bencana alam yang sering terjadi di Indonesia.
“Kami membantu operator seluler menutup kesenjangan cakupan dengan cepat, meningkatkan resiliensi saat terjadi bencana, dan menghadirkan layanan di lokasi-lokasi di mana menara atau satelit saja sebenarnya tidak praktis,” tutur Boulnois.
Di banyak negara, HAPS mulai dipertimbangkan sebagai solusi tambahan untuk pemulihan komunikasi pascabencana, pemantauan perbatasan, hingga aplikasi pengawasan maritim.
Ke depan, AALTO melihat Asia-Pasifik sebagai salah satu motor pertumbuhan utama bisnis HAPS, seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas di wilayah pedesaan dan terpencil. Riset pasar global menunjukkan pasar platform udara ketinggian tinggi (HAPS/HAPS-like) di kawasan ini akan tumbuh pesat, didorong kebutuhan komunikasi di daerah terpencil, respons bencana, dan aplikasi IoT industri.
#aalto #telkom-group #bts-terbang #haps-komersial #zephyr-indonesia #jaringan-seluler #stratosfer #penerbangan-demonstrasi #layanan-komersial-2028 #konektivitas-indonesia #solusi-jaringan #platform-hap