Airbus Zephyr, dikembangkan oleh AALTO, menawarkan solusi konektivitas dan kerja sama yang fleksibel di Indonesia dengan pesawat tanpa awak bertenaga surya [779] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – AALTO, anak usaha Airbus dan pengembang High Altitude Platform Station (HAPS) Zephyr, menawarkan skema kerja sama komersial yang fleksibel untuk pasar Indonesia.
Langkah ini sekaligus menjadi strategi AALTO untuk bersaing dengan operator satelit orbit rendah (LEO) seperti Starlink dalam menyediakan konektivitas di wilayah sulit dijangkau.
CEO AALTO Hughes Boulnois menjelaskan, perseroan belum mengunci satu model bisnis tunggal untuk kolaborasi dengan Telkomsel dan Mitratel. Menurut dia, AALTO membuka kemungkinan berbagai skema, mulai dari sewa kapasitas, layanan terkelola (managed service), hingga pola bagi hasil (revenue sharing).
“Untuk Indonesia, kami masih menyusun model komersial dan AALTO bersikap fleksibel dalam pendekatannya,” ujar Boulnois kepada Bisnis, Rabu (18/3/2026).
Dia menambahkan, dinamika pasar satelit LEO yang agresif menawarkan skema bagi hasil menjadi salah satu referensi AALTO dalam merancang paket kerja sama yang atraktif bagi operator seluler.
Boulnois menekankan, salah satu nilai jual utama Zephyr adalah kemampuannya memperluas jangkauan Radio Access Network (RAN) tanpa memaksa operator mengalihkan (offshoring) data pelanggan ke luar negeri.
Hal ini menjadi pembeda dengan sebagian solusi satelit LEO dan GEO yang karakteristik infrastrukturnya sering kali membuat data transit di luar yurisdiksi nasional.
“Kami yakin dapat menciptakan proposisi yang menarik untuk memperluas jangkauan radio tanpa perlu offshoring data pelanggan,” kata Boulnois.
Menurut dia, kemampuan cakupan terarah itu penting untuk operator yang ingin fokus pada area tertentu, misalnya kantong populasi di wilayah 3T, koridor logistik, atau jalur maritim utama, tanpa harus membangun menara secara masif.
Ilustrasi HAPS
Dari sisi arsitektur jaringan, AALTO memosisikan Zephyr sebagai solusi hibrida yang sangat mirip dengan menara seluler, tetapi beroperasi di stratosfer.
Perusahaan akan menyediakan seluruh komponen “fisik” jaringan di udara maupun di darat, sementara operator tetap mengendalikan aspek spektrum dan backhaul.
“AALTO akan menyediakan Stratocraft (seperti menara), antena, perangkat radio yang diperlukan di wahana dan di ground gateway, serta sumber daya listrik, seperti model menara pada umumnya,” jelas Boulnois.
Dengan desain ini, Zephyr dapat diintegrasikan ke jaringan eksisting layaknya penambahan site baru di RAN. Operator tidak perlu mengubah model bisnis spektrum maupun infrastruktur backhaul yang selama ini digunakan.
Selain itu, Zephyr juga membuka peluang pendapatan baru di luar layanan seluler ritel di darat. Boulnois mencontohkan sektor maritim, di mana jutaan nelayan dan pengguna kapal wisata mengandalkan ponsel biasa yang menjadi tidak berguna begitu mereka bergerak ke lepas pantai.
“Dengan menghadirkan cakupan seluler yang diperluas, operator dapat menawarkan fitur pendapatan tambahan (bolt‑on) yang menarik untuk segmen maritim,” ujarnya.
Layanan ini dapat dikemas sebagai paket tambahan untuk kapal penangkap ikan, kapal wisata, hingga operator logistik laut.
Dari sudut pandang teknologi jaringan, Zephyr dirancang terutama sebagai “menara terbang” stratosferis yang dapat terhubung langsung ke perangkat pengguna (direct‑to‑device).
Artinya, pelanggan tidak memerlukan perangkat khusus seperti terminal satelit; cukup menggunakan ponsel biasa yang sudah mendukung jaringan seluler.
“Zephyr dirancang terutama untuk beroperasi sebagai menara terbang stratosferis, yang menyediakan konektivitas direct‑to‑device menggunakan ponsel biasa,” kata Boulnois.
Dalam uji coba tahun lalu, AALTO mengklaim Zephyr mampu mempertahankan sambungan 4G dari ketinggian lebih dari 60.000 kaki ke perangkat di darat.
Pencapaian itu menegaskan peran Zephyr sebagai solusi di lapisan akses (access‑layer), bukan hanya platform backhaul.
Tantangan ARPU ...
Bankable di Tengah ARPU Rendah
Salah satu tantangan besar proyek konektivitas pedesaan adalah kombinasi biaya tinggi dan Average Revenue Per User (ARPU) yang rendah. Banyak proyek perluasan jaringan di desa dan wilayah terpencil yang akhirnya mandek karena tidak menarik secara finansial bagi operator.
Boulnois menilai konteks Indonesia berbeda karena setiap operator jaringan terikat kewajiban pelayanan universal (Universal Service Obligation/USO). Kewajiban ini menuntut operator menyediakan layanan di wilayah yang secara komersial kurang menarik jika hanya mengandalkan model BTS terestrial.
“Tidak ada yang bisa mengandalkan cakupan terestrial saja untuk memenuhi kewajiban tersebut,” ujarnya.
Dalam skema itu, Zephyr diposisikan sebagai lapisan konektivitas komplementer yang membantu operator memenuhi kewajiban USO sekaligus membuka peluang monetisasi baru.
AALTO bekerja bersama operator untuk menilai use case yang relevan, wilayah geografi yang ditargetkan, serta posisi komersial yang paling sesuai.
"Inilah pekerjaan yang kami lakukan bersama para operator: menilai use case yang relevan, geografi, dan posisi komersialnya, dengan mempertimbangkan semua aspek,” kata Boulnois.
Lebih jauh, Boulnois menyoroti aspek kedaulatan data dan pengalaman pengguna menyeluruh (End‑to‑End user experience) sebagai faktor penting dalam desain model HAPS AALTO.
Menurut dia, integrasi domain stratosfer (Stratospace) ke dalam ekosistem komunikasi nasional memungkinkan operator mempertahankan kontrol yang lebih besar atas jalur data dan kualitas layanan, dibandingkan jika sepenuhnya bergantung pada solusi LEO/GEO global.
"Hal ini berdampak langsung dan positif bagi operator nasional,” tegas Boulnois.
Dengan kombinasi model bisnis yang fleksibel, arsitektur teknis yang mirip menara seluler, serta fokus pada kedaulatan data dan monetisasi baru, AALTO berharap Zephyr dapat menjadi alternatif yang kompetitif terhadap layanan satelit LEO, sekaligus bagian dari strategi jangka panjang Indonesia untuk menutup kesenjangan digital di wilayah 3T.
AALTO dan Telkom Group berkolaborasi untuk menghadirkan layanan HAPS Zephyr di Indonesia pada 2028, guna memperluas konektivitas di wilayah terpencil. [568] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan teknologi kedirgantaraan, AALTO, mempercepat komersialisasi platform High Altitude Platform Station (HAPS) Zephyr dan menargetkan Indonesia sebagai salah satu pasar prioritas di Asia-Pasifik. Bekerja sama dengan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), perusahaan menargetkan layanan ini komersial pada 2028.
Zephyr disiapkan menjadi “menara BTS terbang” di stratosfer yang dapat membantu menutup kesenjangan cakupan jaringan seluler, khususnya di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T)
CEO AALTO Hughes Boulnois menjelaskan, Zephyr saat ini berada di tahun terakhir fase uji coba Proof of Concept (PoC). Sejumlah penerbangan stratosfer jarak jauh yang memecahkan rekor dan serangkaian uji coba berhasil dilakukan sepanjang 2025, termasuk penerbangan nonstop lebih dari 67 hari di ketinggian sekitar 70.000 kaki.
Dia mengatakan rekor ini menjadi bukti kemampuan operasi berkelanjutan HAPS di lapisan stratosfer.
“Indonesia adalah pasar prioritas bagi AALTO. Bersama Telkomsel, kami menargetkan penerbangan demonstrasi Zephyr pada 2027 dan layanan komersial mulai 2028,” ujar Boulnois kepada Bisnis, Rabu (18/3/2026).
Boulnois mengatakan kerja sama ini dituangkan dalam nota kesepahaman untuk mematangkan aspek komersial, teknis, dan regulasi guna membangun ekosistem layanan stratosfer (Stratospace) di Indonesia.
Di tingkat global, AALTO telah terlibat dalam program HAPS di Jepang yang didukung konsorsium investor termasuk operator seluler NTT DOCOMO. Perusahaan juga mendukung strategi nasional Très Haute Altitude (Very High Altitude) di Prancis.
Di kawasan Asia-Pasifik dan Eropa, mitra komersial maupun pemerintah mulai menyiapkan Zephyr untuk misi operasional di dunia nyata, mulai dari konektivitas hingga pengawasan wilayah.
Hal ini menekankan bahwa layanan tersebut telah diadopsi oleh beberapa negara.
Menurut Boulnois, Zephyr menawarkan kombinasi keunggulan teknis dan ekonomis dibandingkan mengandalkan perluasan BTS terestrial dan satelit semata untuk menjangkau wilayah pelosok.
Pesawat tanpa awak bertenaga surya ini terbang di stratosfer pada ketinggian sekitar 60.000–70.000 kaki dan dapat mengudara berhari-hari hingga berbulan-bulan, memberikan cakupan luas layaknya satelit, tetapi dengan fleksibilitas mirip pesawat tanpa awak.
“Zephyr membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas konektivitas tanpa biaya dan kompleksitas pembangunan menara di pegunungan, hutan, dan ribuan pulau,” kata Boulnois.
Dia mengatakan Indonesia selama ini menghadapi tantangan geografis dalam memperluas jaringan, mulai dari kontur pegunungan, kawasan hutan lebat, hingga sebaran kepulauan yang luas, yang membuat pembangunan BTS konvensional mahal dan memakan waktu. Zephyr diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengatasi hal tersebut.
Dia menegaskan, Zephyr didesain sebagai aset yang hemat biaya dan bersifat komplementer terhadap infrastruktur komunikasi, antariksa, dan pertahanan yang sudah ada.
Platform ini menyediakan lapisan konektivitas tambahan di atas jaringan BTS dan satelit, sehingga operator dapat mengoptimalkan investasi yang telah ditanamkan tanpa harus membangun menara baru di lokasi-lokasi sulit.
Selain aspek biaya, AALTO menyoroti peran HAPS dalam memperkuat ketahanan jaringan (network resilience). Zephyr beroperasi di atas sebagian besar sistem cuaca dan dapat diposisikan ulang (redeploy) sesuai kebutuhan, sehingga cocok untuk memulihkan atau menjaga layanan komunikasi di wilayah terdampak bencana alam yang sering terjadi di Indonesia.
“Kami membantu operator seluler menutup kesenjangan cakupan dengan cepat, meningkatkan resiliensi saat terjadi bencana, dan menghadirkan layanan di lokasi-lokasi di mana menara atau satelit saja sebenarnya tidak praktis,” tutur Boulnois.
Di banyak negara, HAPS mulai dipertimbangkan sebagai solusi tambahan untuk pemulihan komunikasi pascabencana, pemantauan perbatasan, hingga aplikasi pengawasan maritim.
Ke depan, AALTO melihat Asia-Pasifik sebagai salah satu motor pertumbuhan utama bisnis HAPS, seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas di wilayah pedesaan dan terpencil. Riset pasar global menunjukkan pasar platform udara ketinggian tinggi (HAPS/HAPS-like) di kawasan ini akan tumbuh pesat, didorong kebutuhan komunikasi di daerah terpencil, respons bencana, dan aplikasi IoT industri.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56