Indef: Diversifikasi Impor dan Diplomasi Kunci Jaga Ketahanan Manufaktur RI

Indef: Diversifikasi Impor dan Diplomasi Kunci Jaga Ketahanan Manufaktur RI

Diversifikasi impor dan diplomasi penting untuk menjaga stabilitas manufaktur Indonesia di tengah gangguan rantai pasok global akibat tensi geopolitik.

(Bisnis.Com) 31/03/26 19:45 177971

Bisnis.com, JAKARTA — Upaya menjaga kelancaran pasokan bahan baku industri kian krusial di tengah gangguan rantai pasok global akibat tensi geopolitik. Strategi diversifikasi sumber impor dan penguatan diplomasi dinilai menjadi langkah efektif untuk menjaga stabilitas produksi manufaktur nasional.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, menekankan pentingnya mencari alternatif negara pemasok bahan baku strategis seperti nafta. Langkah ini dinilai dapat meminimalkan risiko gangguan pasokan yang saat ini membayangi industri global.

“Memang solusinya diversifikasi pasar impor artinya cari negara lain yang menyediakan nafta, sembari melakukan negosiasi dengan Iran agar kapal yang mengangkut barang Indonesia bisa lolos,” ujar Esther kepada Bisnis, Selasa (31/3/2026).

Menurutnya, hambatan distribusi akibat konflik geopolitik tidak hanya memengaruhi ketersediaan bahan baku, tetapi juga mendorong kenaikan harga di pasar internasional. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya produksi industri dalam negeri.

Sejumlah sektor, terutama yang bergantung pada bahan baku impor seperti industri petrokimia, mulai merasakan tekanan tersebut. Kenaikan harga nafta berisiko memicu peningkatan harga produk turunan seperti plastik, yang kemudian berdampak pada sektor hilir termasuk makanan dan minuman.

Meski menghadapi tantangan tersebut, kinerja sektor manufaktur Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang solid. Data S&P Global mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur berada di level ekspansif pada awal 2026.

Pada Januari 2026, PMI manufaktur tercatat sebesar 52,6 dan terus menguat pada Februari. Capaian di atas level 50 ini menandakan aktivitas industri masih tumbuh, didorong oleh peningkatan produksi dan permintaan baru.

“PMI Manufaktur Indonesia menunjukkan kinerja ekspansif (di atas 50) pada awal 2026,” kata Esther.

Selain itu, optimisme pelaku usaha juga meningkat. Ekspektasi bisnis untuk 12 bulan ke depan tercatat mencapai level tertinggi sejak Maret 2025, mencerminkan keyakinan terhadap prospek industri yang tetap positif.

Namun demikian, terdapat sejumlah tantangan operasional yang mulai muncul. Penurunan tingkat tenaga kerja pada Januari menjadi salah satu indikasi adanya penyesuaian di tengah meningkatnya biaya produksi.

Di sisi lain, lonjakan permintaan yang tidak diimbangi dengan kelancaran pasokan bahan baku berpotensi menimbulkan hambatan produksi. Kondisi ini tercermin dari meningkatnya volume pekerjaan yang belum terselesaikan di sejumlah sektor industri.

Meski begitu, peluang untuk menjaga momentum pertumbuhan tetap terbuka. Diversifikasi impor dinilai dapat memperluas akses bahan baku, sementara diplomasi perdagangan berperan penting dalam memastikan kelancaran distribusi di tengah ketidakpastian global.

Esther mengingatkan bahwa langkah antisipatif perlu terus diperkuat agar kinerja manufaktur tetap terjaga. Tanpa strategi yang tepat, gangguan pasokan global berpotensi memengaruhi produksi industri dalam beberapa waktu ke depan.

“Ke depan karena pasokan bahan baku dan minyak mentah terhambat karena perang AS Israel-Iran akan berpotensi menurunkan produksi industri manufaktur di Indonesia dan negara negara lain,” pungkasnya.

Dengan kombinasi strategi adaptif dan dukungan kebijakan, sektor manufaktur Indonesia dinilai masih memiliki ruang untuk tumbuh. Ketahanan ini menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika global.

#diversifikasi-impor #diplomasi-perdagangan #ketahanan-manufaktur #rantai-pasok-global #bahan-baku-industri #strategi-diversifikasi #penguatan-diplomasi #produksi-manufaktur #industri-petrokimia #harga

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260331/257/1963411/indef-diversifikasi-impor-dan-diplomasi-kunci-jaga-ketahanan-manufaktur-ri