Anak Buah Purbaya: Sektor Manufaktur Indonesia Tetap Ekspansif

Anak Buah Purbaya: Sektor Manufaktur Indonesia Tetap Ekspansif

PMI manufaktur Indonesia Maret 2026 tetap ekspansif di 50,1, menunjukkan daya tahan di tengah tekanan global. Fundamental kuat dan permintaan domestik jadi penopang.

(Kompas.com) 05/04/26 07:07 181776

JAKARTA, KOMPAS.com - Kinerja sektor manufaktur Indonesia tetap menunjukkan daya tahan di tengah tekanan global.

Meski melambat, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur pada Maret 2026 masih berada di zona ekspansi sebesar 50,1.

Angka ini turun dibandingkan Februari yang mencapai 53,8, seiring melemahnya permintaan baru dan ekspor, serta meningkatnya biaya input akibat kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok global.

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menegaskan, meski menghadapi berbagai tekanan, fundamental industri manufaktur nasional masih terjaga.

“Sektor manufaktur Indonesia tetap ekspansif pada Maret 2026, ditopang permintaan domestik dan kinerja mitra dagang utama yang terjaga,” ujar Febrio dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (5/4/2026).

Ia menjelaskan, tekanan terhadap sektor manufaktur dipengaruhi oleh eskalasi geopolitik global, kenaikan harga energi, serta gangguan rantai pasok internasional.

Meski demikian, aktivitas industri masih bertahan di zona ekspansi.

Sejumlah negara seperti Vietnam, Thailand, India, hingga Amerika Serikat masih mencatatkan PMI manufaktur di zona ekspansi, memberikan sinyal positif bagi permintaan global.

Sementara itu, dari dalam negeri, permintaan domestik tetap menjadi penopang utama.

Hal ini tecermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Februari 2026 yang tumbuh 6,9 persen secara tahunan, didorong momentum Ramadhan dan Idulfitri.

Aktivitas sektor riil juga menunjukkan tren positif, antara lain penjualan mobil yang tumbuh 12,2 persen, penjualan semen meningkat 5,3 persen, serta konsumsi listrik sektor bisnis dan industri yang tetap ekspansif.

Optimisme masyarakat pun masih terjaga, terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang berada di level 125,2 pada Februari 2026, mencerminkan persepsi positif terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ke depan.

Di sisi harga, inflasi tetap terkendali meskipun permintaan meningkat selama Ramadhan.

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Maret 2026 tercatat 3,5 persen secara tahunan, turun dari Februari sebesar 4,8 persen.

Penurunan inflasi terutama dipengaruhi oleh meredanya tekanan pada komponen harga yang diatur pemerintah dan pangan bergejolak.

Kinerja sektor eksternal juga tetap solid. Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus selama 70 bulan berturut-turut, dengan surplus Februari 2026 sebesar 1,27 miliar dollar AS.

Secara kumulatif kata Febrio, surplus perdagangan Januari–Februari 2026 mencapai 2,23 miliar dollar AS, dengan ekspor tumbuh positif didorong komoditas unggulan seperti besi baja, minyak nabati, dan bahan bakar mineral.

Febrio menyatakan, pemerintah akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi, termasuk melalui pengendalian inflasi, penguatan investasi, serta peningkatan ketahanan energi nasional.

Langkah ini dinilai penting untuk menjaga momentum pertumbuhan di tengah dinamika global yang semakin kompleks.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#neraca-perdagangan-surplus #pmi-manufaktur-indonesia #inflasi-terkendali #daya-tahan-ekonomi

https://money.kompas.com/read/2026/04/05/070700726/anak-buah-purbaya--sektor-manufaktur-indonesia-tetap-ekspansif-