Perum Bulog Rombak Rantai Pasok Pangan di Kaltim-Kaltara
Bulog dan pemerintah daerah Kaltim-Kaltara membangun infrastruktur pangan terintegrasi untuk memperkuat ketahanan pangan dan menstabilkan harga komoditas.
(Bisnis.Com) 07/04/26 10:14 183570
Bisnis.com, BALIKPAPAN — Perum Bulog menggandeng pemerintah daerah di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara untuk membangun infrastruktur pangan terintegrasi secara masif.
Langkah strategis ini merupakan ikhtiar memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meredam gejolak harga komoditas di kantong-kantong terpencil.
Direktur SDM dan Transformasi Perum Bulog, Prof. Sudarsono Hardjosoekarto menyatakan inisiatif ini jauh melampaui pembangunan gudang semata.
"Kami membangun ekosistem pangan berbasis wilayah. Pendekatan hulu-hilir ini diharapkan dapat menyerap produksi petani dengan harga yang wajar, sekaligus menjamin ketersediaan pasokan di wilayah konsumsi," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (7/4/2026).
Selain itu, turut dilakukan penandatanganan nota kesepahaman dan penyerahan hibah lahan dari Kabupaten Malinau, Kutai Barat, Mahakam Ulu, dan Kutai Kartanegara.
Lebih jauh, Kota Bontang yang lebih dahulu menyerahkan lahan kini telah memasuki tahap konstruksi fisik dengan akses jalan dan perencanaan teknis yang tuntas. Sedangkan, beberapa daerah lain masih menunggu kejelasan regulasi untuk bergabung.
Sudarsono menyebutkan desain infrastruktur disesuaikan dengan karakter geografis dan ekonomi wilayah.
Di sentra produksi, fokus tertuju pada penguatan sisi hulu, yaitu fasilitas pengering (dryer), penggilingan padi, silo penyimpanan, hingga gudang beras modern.
Khusus kawasan penghasil jagung, ditambahkan dryer dan silo jagung dengan tujuan mempercepat penyerapan hasil panen raya, meminimalkan kehilangan pascapanen yang selama ini mencapai angka signifikan, serta memastikan petani mendapatkan harga sesuai kebijakan pemerintah.
Sementara itu, di wilayah non-produsen seperti Mahakam Ulu (Mahulu), prioritas beralih ke pembangunan gudang distribusi berjenjang, mulai dari gudang utama hingga tingkat kecamatan.
Pasalnya, harga beras di Mahulu pernah meroket hingga Rp1 juta per 25 kilogram, bahkan menyentuh Rp1,3 juta di titik tertentu akibat gangguan distribusi dan biaya logistik yang mencekik di kawasan perbatasan.
"Dengan gudang-gudang strategis di atas lahan hibah Pemda, kami menargetkan pasokan beras stabil sepanjang tahun agar fluktuasi harga dapat ditekan dan daya beli masyarakat terjaga," terang Sudarsono.
Dia melanjutkan, pembangunan infrastruktur ini memerlukan lahan yang tidak sedikit. Gudang skala dasar membutuhkan sekitar 1,5 hektare, sementara fasilitas terintegrasi lengkap bisa melampaui 5 hektare.
Sementara itu, luas lahan disesuaikan dengan kemampuan fiskal dan geografis masing-masing daerah.
"Jadi memang pembangunan di atas lahan hibah ini berbeda-beda tergantung berapa luasan yang diberikan," ujarnya.
Tak sekadar bangunan penyimpanan, kawasan ini juga dilengkapi kantor operasional, akses jalan, dan sarana logistik pendukung, sebuah ekosistem pangan yang utuh.
Kendati demikian, sejumlah daerah masih terbentur kendala interpretasi regulasi terkait kerja sama.
Adapun, dia berharap dengan kejelasan peran Bulog dalam kerangka hukum nasional, semakin banyak pemerintah daerah yang terlibat aktif.
Sebagai informasi, program ini menawarkan multiplier effect, meningkatkan efisiensi distribusi, memangkas kegagalan pascapanen, mendongkrak kesejahteraan petani di hulu, serta menjaga stabilitas harga dan inflasi pangan di hilir, terutama di wilayah dengan tantangan logistik Kalimantan.
#bulog-kaltim #bulog-kaltara #rantai-pasok-pangan #ketahanan-pangan-nasional #gejolak-harga-komoditas #ekosistem-pangan-wilayah #produksi-petani #ketersediaan-pasokan #infrastruktur-pangan #gudang-dist