Menyenggol Bioetanol Kala Pasokan Minyak Tersendat

Menyenggol Bioetanol Kala Pasokan Minyak Tersendat

Indonesia berupaya mengatasi pasokan minyak tersendat dengan mempercepat penggunaan bioetanol dan biodiesel. Meski lamban, strategi ini penting untuk ketahanan energi.

(Bisnis.Com) 13/04/26 09:05 189235

Bisnis.com, JAKARTA- Indonesia sejauh ini bisa meredam lonjakan harga minyak mentah imbas perang di Timur Tengah, tetapi peristiwa ini mengingatkan agar pemerintah bisa menyusun strategi tahan banting terhadap gejolak pasokan energi global. Program percepatan pemanfaatan Bahan Bakar Nabati alias BBN kembali menguat.

Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia cepat-cepat merespons dampak pasokan minyak mentah yang bakal cekak dalam waktu ke depan. Menteri Bahlil mengungkapkan pemerintah meminta mandatori penggunaan BBN berlari.

Biodiesel kembali mendapatkan sorotan utama. Sejauh ini selaku produsen minyak sawit terbesar di dunia, sekaligus pengguna bahan bakar campuran sawit dengan porsi tertinggi, Indonesia cukup percaya diri.

Tahun ini, Bahlil mengatakan mandatori biodiesel yang sebelumnya 35% (B35), harus dikerek hingga 50% (B50). Strategi ini diharapkan berhasil menjaga agar harga energi terkendali, selagi pemerintah mengulur waktu menghabiskan porsi subsidi selama harga minyak melonjak.

Di lain sisi, BBN tidak sekadar biodiesel yang dapat dimanfaatkan berbagai moda maupun mesin berbasis solar. Indonesia masih punya potensi mengembangkan bioetanol, kartu truf lain menjaga pasokan energi berbasis sumber terbarukan.

Selepas dua dekade lalu, wacana pengembangan bioetanol tidak pernah gol. Mandatori awal sebesar 5% ditenggat sejak 2016, dan pada tahun ini seharusnya memasuki fase campuran entanol 20% (E20). Target demikian merujuk Permen ESDM No.12/2015, hanya sedikit direalisasikan hingga sekarang.

Berbarengan dengan itu, berbagai negara lain telah mengadopsi campuran etanol dengan porsi kian besar. Etanol telah membuat negara seperti Brasil berhasil, memperkuat ketahanan energi sekaligus memangkas emisi karbon.

Indonesia seperti melompat di tempat. Target selalu menyundul, tetapi realisasi kebijakan tetap mandul.

Hal ini terungkap dalam Bisnis Indonesia Forum (BIF) pada Februari lalu di Wisma Bisnis Indonesia. Para narasumber yang hadir antara lain CEO Pertamina New & Renewable Energy John Anis, Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara, dan Ketua Umum Asosiasi Produsen Spiritus dan Etanol (Apsendo) Izmirta Rachman.

Diskusi itu sepakat bahwa pengembangan bioetanol akan memegang peran vital dalam mencapai kedaulatan energi. Brasil menunjukan efek tersebut, di mana negara berhasil mendorong pemanfaatan tebu sebagai campuran energi. Kini, seluruh jenis BBM di Brasil mengandung campuran etanol.

Brasil sukses memangkas karbon 1,34 miliar ton setara CO2, dan menghemat US$261 miliar devisa saban tahun dari pengembangan bioetanol. Brasil terus ketagihan, akan mengerek mandatori etanol, serta menargetkan produksi 50 miliar liter bioetanol per tahun dari saat ini 36,83 miliar liter.

Selain mengandalkan tebu, Brasil juga menanam jagung untuk etanol. Target ekspansi itupun mendatangkan investasi segar. Baru-baru ini saja, seperti dikutip dari valorinternational.globo.com, Brasil menjaring sedikitnya US$23 miliar untuk ekspansi bioetanol berbasis jagung.

Jejak yang sama mulai diikuti India, Filipina, hingga Amerika Serikat. Negara-negara tersebut kian menggebu menggenjot produksi etanol.

BIOETANOL BELUM TERLAMBAT

Meski terbilang lamban, tak ada kata terlambat untuk mengalihkan pandangan kepada bioetanol. Seperti diungkap Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiyani kepada Bisnis beberapa waktu lalu.

Merespons potensi kelangkaan minyak mentah, Eniya menjawab singkat pertanyaan dari Bisnis soal masa depan EBT, wabilkhusus bioetanol. “Kalau bioetanol itu berbasis pada harga molasesnya. Saat ini molases di harga kurang dari Rp1.000/kg akan lebih menguntungkan jika diolah menjadi Bahan Bakar Bioetanol. Dan ini molases dari lokal,” jelas Eniya.

Belakangan pemerintah menerbitkan beleid baru soal BBN, Kepmen No.114/2026 yang secara langsung mengganti kebijakan sebelumnya. Dalam beleid itu, pemerintah mengejar mandatori E10 mulai 2028, untuk sejumlah wilayah secara bertahap.

Namun lagi-lagi, banyak persoalan teknis yang merintangi realisasi. Untuk mengebut penggunaan E10, misalnya, dibutuhkan sedikitnya 5 juta kiloliter etanol. Padahal kemampuan produksi dalam negeri baru sekitar 63.000 kiloliter.

Hambatan ini berasal dari keengganan produsen menceburkan diri ke dalam industri bioetanol. Sikap itu, seperti dikatakan Ketua Apsendo Izmirta Rachman, karena harga yang tidak kompetitif.

“Harga bioetanol saja ditetapkan sekitar Rp7.900 per liter etanol, dengan formulasi yang tidak diubah sejak lama,” ungkapnya kepada Bisnis baru-baru ini.

Belum lagi pasokan bahan baku itu harus bersaing dengan industri lain, seperti sektor makanan dan minuman, hingga farmasi. “Jangan salahkan kalau bahan baku ini tetap diekspor, karena tidak ada yang mengurusi tata niaga tersebut,” ucap Izmirta.

Persoalan lainnya adalah banjir impor etanol, terutama yang berasal dari Amerika Serikat. Kesepakatan dagang RI-AS, telah membebaskan tarif impor yang membuat produsen lokal juga kewalahan.

Izmirta menyampaikan untuk merealisasikan kebijakan bioetanol dalam mengemban misi ketahanan energi, dibutuhkan otoritas yang menggabungkan berbagai kewenangan kementerian. Salah satu yang layak dicontoh adalah Filipina melalui National Biofuels Board (NBB).

Lembaga ini akan mengkoordinasikan tata niaga, penetapan harga, hingga menjaga rantai pasok bahan baku. “Hal inilah yang tiada di Indonesia, jadi di atas kertas kebijakan bioetanol terdapat target, tetapi sulit direalisasi. Produsen was-was, apakah produksi diserap seluruhnya, sedangkan ketetapan harga tida sesuai,” kata Izmirta.

Di luar itu, persoalan bioetanol inipun harus dilihat dalam kerangka pelestarian lingkungan. Sebagaimana Brasil, apakah kelak Indonesia bisa menjaga keseimbangan antara produksi bahan baku yang berasal dari tanaman, tanpa harus melibas banyak hutan? Semoga bisa.

#bioetanol #minyak-mentah #bahan-bakar-nabati #biodiesel #energi-terbarukan #mandatori-biodiesel #campuran-etanol #ketahanan-energi #emisi-karbon #produksi-bioetanol #investasi-bioetanol #harga-molases

https://hijau.bisnis.com/read/20260413/652/1966072/menyenggol-bioetanol-kala-pasokan-minyak-tersendat