Pakar: Blokade AS di Selat Hormuz Bisa Berbalik Jadi Senjata Makan Tuan
Blokade AS di Selat Hormuz bisa memicu perang atrisi panjang dengan Iran, mengancam stabilitas ekonomi global dan harga minyak, menurut pakar pertahanan.
(Bisnis.Com) 14/04/26 14:40 190881
Bisnis.com, JAKARTA — Pakar pertahanan Marsma TNI (Purn) R. Agung Sasongkojati menilai strategi blokade laut yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Iran berpotensi memicu perang atrisi panjang dengan dampak global, terutama pada sektor energi dan stabilitas ekonomi dunia.
Dalam analisis terbarunya bertajuk Strategic Paralysis, pakar yang dikenal sebagai “Sharky” itu memaparkan bahwa eskalasi di Selat Hormuz sejak 12–14 April 2026 menunjukkan pergeseran konflik dari diplomasi menuju konfrontasi terbuka.
Diplomasi Runtuh, Blokade Dimulai
Krisis bermula dari kegagalan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad yang berujung pada keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menerapkan blokade laut total terhadap Iran.
Langkah ini segera diikuti pengerahan kekuatan militer besar-besaran, termasuk gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln serta armada amfibi di kawasan Laut Arab.
Di sisi lain, Iran merespons dengan mengaktifkan kekuatan militer, termasuk Garda Revolusi (IRGC) dan sistem rudal di sepanjang pesisirnya, serta memperingatkan bahwa tidak akan ada minyak yang keluar dari Teluk jika mereka diblokade.
Konfrontasi dan Dampak Global
Pada 13 April, ketegangan meningkat ketika kapal perang AS dan armada cepat Iran terlibat dalam manuver berbahaya di Selat Hormuz. Meski belum terjadi kontak tembak langsung, situasi memicu lonjakan harga minyak dunia hingga lebih dari 15 persen.
Agung mencatat, pasar global langsung bereaksi keras, termasuk penangguhan asuransi kapal tanker dan meningkatnya risiko gangguan rantai pasok energi internasional.
“Pagi ini, Selat Hormuz praktis kosong dari lalu lintas tanker untuk pertama kalinya dalam sejarah modern,” katanya saat dihubungi Bisnis, Selasa (14/4/2026).
Perang Atrisi: AS vs Iran
Dalam analisisnya, Agung menggunakan pendekatan Offensive Realism dan kerangka DIME (Diplomatic, Informational, Military, Economic) untuk membedah kekuatan kedua pihak.
Menurutnya, Amerika Serikat unggul secara teknologi dan militer, dengan kemampuan serangan presisi jarak jauh serta dominasi udara. Namun, keunggulan tersebut berpotensi tergerus dalam perang atrisi jangka panjang.
Sebaliknya, Iran mengandalkan strategi asimetris melalui konsep Anti-Access/Area Denial (A2/AD), termasuk penggunaan drone murah, rudal balistik, kapal cepat, dan ranjau laut.
“Iran tidak perlu menang secara militer. Mereka cukup membuat Selat Hormuz menjadi zona tidak aman untuk memenangkan perang ekonomi,” ujarnya.
Detonator Ekonomi Dunia
Agung menekankan bahwa pusat gravitasi konflik ini bukan semata kekuatan militer, melainkan harga minyak global.
Dia menilai Iran memegang “detonator” ekonomi dunia karena ketergantungan global terhadap jalur energi di Selat Hormuz.
Jika harga minyak melonjak drastis, dampaknya bisa memicu inflasi tinggi di Amerika Serikat dan negara Barat, yang pada akhirnya melemahkan dukungan domestik terhadap kebijakan perang.
“AS mungkin unggul secara taktis, tetapi secara strategis justru terjepit,” katanya.
Selain risiko militer, Agung juga menyoroti potensi kesalahan identifikasi target yang dapat memicu krisis internasional besar, mengingat padatnya aktivitas militer di kawasan sempit tersebut.
Dia mengingatkan insiden historis seperti penembakan pesawat sipil Iran pada 1988 sebagai contoh risiko fatal dalam operasi militer berintensitas tinggi.
Prediksi: Iran Lebih Tahan
Dalam kesimpulannya, Agung memprediksi Iran memiliki daya tahan lebih kuat dalam konflik jangka panjang, terutama karena faktor geografis, ketahanan ideologis, dan pengalaman menghadapi sanksi ekonomi.
Sementara itu, kata Agung, Amerika Serikat dinilai lebih rentan terhadap tekanan politik domestik akibat dampak ekonomi dari lonjakan harga energi.
“Iran tidak perlu menenggelamkan armada AS untuk menang. Mereka hanya perlu bertahan dan memastikan Selat Hormuz tetap menjadi zona merah bagi ekonomi dunia,” tandas Agung.
#blokade-as #selat-hormuz #ancaman-blokade #perang-atrisi #dampak-global #harga-minyak #konflik-as-iran #strategi-militer #krisis-energi #risiko-ekonomi #ketegangan-militer #dominasi-udara #strategi-as