Ancaman Siber Kian Kompleks, Perusahaan Dipaksa Ubah Sistem Keamanan
Serangan siber di Indonesia meningkat, memaksa perusahaan mengadopsi sistem keamanan terpadu dan proaktif seperti Zero Trust untuk melindungi data digital.
(Bisnis.Com) 14/04/26 20:09 191364
Bisnis.com, JAKARTA — Lonjakan serangan siber di Indonesia kian menuntut perusahaan meninggalkan sistem keamanan yang terfragmentasi. Ancaman yang bergerak cepat dan makin adaptif membuat pendekatan lama tak lagi memadai untuk melindungi sistem digital.
Data Badan Siber dan Sandi Negara mencatat sepanjang Januari—Juli 2025 terdapat lebih dari 3,64 miliar anomali trafik atau aktivitas serangan siber di Indonesia. Angka itu mencerminkan meluasnya ruang serangan seiring percepatan digitalisasi di berbagai sektor.
Vice President and Principal Analyst Constellation Research Chirag Mehta mengatakan ancaman siber kini tidak hanya meningkat dari sisi volume, tetapi juga semakin kompleks.
Menurut dia, pola serangan seperti malware, akses tidak sah, hingga ransomware kini bergerak lebih cepat dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan digital yang menjadi sasaran. “Keamanan endpoint sekarang adalah soal kecepatan,” ujarnya.
Namun, tantangan utama tidak hanya terletak pada laju serangan. Di level organisasi, kerentanan justru kerap muncul akibat sistem keamanan yang dibangun secara terpisah-pisah melalui berbagai perangkat dan platform yang tidak terintegrasi.
Kondisi itu membuat proses deteksi ancaman, respons insiden, hingga pengawasan perangkat menjadi lebih lambat. Celah seperti ini memberi ruang bagi serangan untuk menyebar lebih luas sebelum tertangani.
Seiring dengan itu, pendekatan keamanan siber mulai bergeser. Model lama yang bertumpu pada kepercayaan berbasis jaringan perlahan ditinggalkan dan digantikan oleh sistem berbasis identitas serta verifikasi berkelanjutan atau Zero Trust.
Sejumlah perusahaan teknologi keamanan pun mulai merespons perubahan ini dengan mengembangkan sistem terpadu yang menggabungkan pengelolaan endpoint, pemantauan ancaman secara real-time, dan kontrol akses adaptif dalam satu platform.
Salah satunya dilakukan ManageEngine melalui platform Endpoint Central. Sistem ini mengintegrasikan pengelolaan perangkat dengan kemampuan endpoint detection and response untuk mendeteksi perilaku mencurigakan dan merespons ancaman secara otomatis.
Vice President at ManageEngine Mathivanan Venkatachalam mengatakan integrasi tersebut dibutuhkan agar organisasi tidak lagi hanya bereaksi setelah serangan terjadi.
“Pendekatan kami adalah membantu organisasi bergerak dari model reaktif menuju sistem yang lebih proaktif dan otomatis dalam mendeteksi serta merespons ancaman,” katanya.
#serangan-siber #ancaman-siber #keamanan-siber #sistem-keamanan #digitalisasi-indonesia #malware #ransomware #keamanan-endpoint #deteksi-ancaman #respons-insiden #zero-trust #verifikasi-berkelanjutan #n-a