Industri Furnitur Beberkan Jurus Jitu Hadapi Tekanan Konflik Global
Industri furnitur Indonesia optimis tumbuh meski ada tekanan geopolitik dengan menyiapkan sejumlah langkah strategis.
(Bisnis.Com) 16/04/26 04:20 192735
Bisnis.com, JAKARTA — Industri furnitur nasional optimistis bisa tetap bertumbuh di tengah ketidakpastian global yang dipicu konflik geopolitik, tekanan logistik, hingga dinamika perdagangan internasional.
Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan, pasar furnitur dunia masih menyimpan potensi besar dengan nilai yang ditaksir mencapai ratusan miliar dolar Amerika Serikat (AS).
“Outlook saya tetap optimistis, tetapi optimisme itu harus realistis. Permintaan dunia masih ada, meskipun pola belanja, kanal distribusi, dan preferensi konsumen berubah,” kata Sobur kepada Bisnis, Rabu (14/4/2026).
Menurutnya, ketidakpastian akibat geopolitik, kebijakan tarif, serta tekanan biaya logistik memang menjadi tantangan yang kini dihadapi industri. Namun, kondisi tersebut juga menciptakan ruang bagi Indonesia untuk mengambil peluang, terutama jika mampu beradaptasi dengan cepat.
Untuk mengoptimalkan peluang di tengah ketidakpastian global, HIMKI mendorong sejumlah langkah strategis. Pertama, memperkuat posisi industri furnitur sebagai sektor prioritas nasional berbasis nilai tambah.
Kedua, rantai pasok bahan baku sampai logistik harus dibuat lebih efisien. Sobur menjabarkan, pelaku industri sejak dahulu menghadapi persoalan ketersediaan, kualitas, kesinambungan pasokan, serta harga yang relatif tinggi.
“Dokumen strategis Kemenperin sendiri menyinggung persoalan bahan baku yang mahal dan langka, serta logistik antara lokasi bahan baku dan lokasi IKM yang masih menyulitkan,” jelasnya.
Biaya logistik yang tinggi dan kompleksitas distribusi akibat faktor geografis turut menjadi pekerjaan rumah.
Adapun, langkah ketiga yang perlu dilakukan yaitu mendorong peningkatan kapasitas produksi dan kualitas sumber daya manusia melalui modernisasi teknologi, penguatan desain, serta kemitraan antara pelaku usaha kecil, menengah, dan besar.
Keempat, memperluas akses pasar melalui pameran internasional, business matching, dan diplomasi dagang. Terakhir, Indonesia juga perlu memperkuat positioning sebagai produsen furnitur bernilai tinggi, bukan sekadar bersaing dari sisi harga, melainkan juga unggul dalam aspek legalitas, desain, karakter, dan keberlanjutan.
Sobur meyakini, dengan strategi yang tepat dan konsisten, industri furnitur nasional tidak hanya mampu bertahan di tengah tekanan global, tetapi juga berpeluang naik kelas sebagai pemain utama di pasar internasional.
“Bagi Indonesia, ini [ketegangan geopolitik] bisa menjadi peluang besar bila kita cepat berbenah,” sebut Sobur.
Sementara itu, dia juga berharap pemerintah berbenah dalam aspek regulasi. Pelaku usaha harus menghadapi banyak lapisan kepatuhan, mulai dari legalitas kayu, standar mutu, persyaratan negara tujuan, isu keberlanjutan, hingga dinamika tarif dan hambatan non-tarif di pasar ekspor.
Di satu sisi, regulasi penting untuk menjaga kredibilitas. Tetapi di sisi lain, bila prosesnya rumit dan mahal, pelaku kecil bisa tertekan.
“HIMKI memandang bahwa kebijakan harus menjadi alat penguat daya saing, bukan justru biaya tambahan yang melemahkan produsen,” tegasnya.
#industri-furnitur #pasar-furnitur-dunia #ekspor-furnitur #biaya-logistik #himki #rantai-pasok-furnitur #produsen-furnitur #ekspor-produk-furnitur #prospek-industri-furnitur