Maju Mundur Rencana 'Suntik Mati' Pabrik Pupuk Tua
Pemerintah menunda penutupan pabrik pupuk tua untuk memaksimalkan produksi dan ekspor urea di tengah lonjakan harga global akibat disrupsi pasokan.
(Bisnis.Com) 18/04/26 08:00 195223
Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah menunda rencana pensiun atau \'suntik mati\' pabrik pupuk tua di tengah lonjakan harga dan permintaan global imbas disrupsi pasokan, termasuk dampak memanasnya kawasan Selat Hormuz. Langkah ini ditempuh untuk memaksimalkan produksi urea nasional sekaligus menangkap peluang ekspor.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengatakan gangguan rantai pasok global telah mendorong lonjakan permintaan pupuk, terutama urea, di berbagai negara.
Dia menjelaskan, sekitar sepertiga distribusi pupuk dunia melewati Selat Hormuz sehingga penutupan jalur tersebut berdampak signifikan terhadap pasokan global. Di sisi lain, Indonesia relatif aman untuk pasokan urea karena ditopang ketersediaan gas alam domestik sebagai bahan baku utama.
Dalam kondisi tersebut, pemerintah memilih mengoptimalkan seluruh kapasitas produksi, termasuk pabrik lama yang sebelumnya direncanakan akan diremajakan dan dihentikan operasinya secara bertahap.
“Jadi sebetulnya saya bisa katakan tadinya kan pabrik yang sudah tua ini ibaratnya pelan-pelan kita akan remajakan, sehingga yang lama nanti kita suntik mati,” kata Sudaryono saat ditemui di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Namun, lonjakan harga membuat strategi tersebut berubah. Pemerintah kini tetap mengoperasikan pabrik lama untuk meningkatkan produksi dan nilai tambah ekspor.
“Tapi karena ada disrupsi ini, di mana harga pupuk berapa pun negara lain mau beli. Jadi ya kita nyalakan aja pabriknya sehingga kita bisa juga punya added value, punya nilai ekonomi yang bisa kita dapatkan dari penjualan urea kita ke negara lain,” ujarnya.
Sudaryono mengungkapkan, harga urea global yang sebelumnya berada di kisaran US$600—US$700 per ton kini telah menembus US$900 per ton. Kondisi ini mendorong banyak negara mencari pasokan alternatif, termasuk dari Indonesia.
Jika menengok Trading Economics, harga urea berada di level US$720,25 per ton pada Rabu (16/4/2026), atau naik 80,06% secara tahunan (year-on-year/yoy)
Di tengah peluang tersebut, Indonesia diperkirakan memiliki surplus urea sekitar 1,5 juta ton pada 2026 yang dapat dialokasikan untuk ekspor setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi. Meski demikian, dia menegaskan prioritas utama tetap pada pemenuhan kebutuhan petani dalam negeri.
“Tapi yang kita ekspor adalah yang betul-betul kita penuhi dulu kebutuhan dalam negeri kita, baru sisanya nanti kita ekspor,” imbuhnya.
Revitalisasi Pabrik Pupuk
Dia juga memastikan pasokan pupuk nasional dalam kondisi aman. Menurutnya, tingginya serapan pupuk di tingkat petani sebagai sinyal positif karena mencerminkan peningkatan aktivitas tanam.
Di sisi lain, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi menyatakan program revitalisasi pabrik tetap berjalan meski pemerintah mengoperasikan kembali fasilitas lama.
Dia menyatakan terdapat tujuh proyek revitalisasi yang tengah disiapkan, termasuk proyek di Fakfak, Papua Barat, yang saat ini masih dalam tahap perizinan dan persiapan engineering.
“Kami lagi mengurus izin-izin dan seterusnya. Masih pada level itu, cuma persiapan engineering sambil jalan. Kan ini harus ada amdal [Analisis Mengenai Dampak Lingkungan], harus ada izin pemerintah daerah, dan seterusnya itu kita urus paralel,” kata Rahmad saat ditemui di Kantor Kementan, Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Adapun, PT Pupuk Indonesia sebelumnya menyiapkan tujuh proyek investasi hingga 2029 untuk merevitalisasi pabrik tua, seiring mayoritas fasilitas produksi yang telah berusia di atas 20 tahun.
Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia Yehezkiel Adiperwira menyampaikan sebagian besar pabrik milik perusahaan telah beroperasi lebih dari dua dekade sehingga membutuhkan pembaruan teknologi dan peningkatan efisiensi.
“Pabrik-pabrik kita yang umurnya sudah tua. Jadi hampir 70% dari jumlah pabrik kita, dari sekitar 20 pabrik itu sudah usianya di atas 20 tahun. Kami melihat ini bukan hal yang baik, terlebih ini menyalahi bisnis. Karena kalau namanya bisnis itu kan kita akan dapat margin lebih besar kalau kita bisa menghemat biaya yang kita keluarkan,” ujar Yehezkiel dalam Pupuk Indonesia Media Iftar 2026 di Jakarta, dikutip pada Minggu (8/3/2026).
Sebagai bagian dari program revitalisasi, Pupuk Indonesia menyiapkan tujuh proyek investasi yang tersebar di sejumlah wilayah seperti Aceh, Gresik, Bontang, hingga Kujang. Proyek-proyek tersebut diarahkan untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menambah kapasitas produksi guna memastikan pemenuhan kebutuhan pupuk nasional, terutama pupuk bersubsidi.
Adapun, sejumlah proyek yang tengah digarap mencakup pembangunan pabrik soda ash dan revamping pabrik amurea di Bontang, pembangunan pabrik NPK Ponska 6 di Gresik, proyek NPK Mitra di Kujang, serta pembangunan pabrik baru Pusri 3B di Palembang. Selain itu, perusahaan juga menyiapkan pembangunan pabrik amurea di Pusri dan pengembangan Kawasan Industri Pupuk Fakfak (KIPF) di Papua Barat.
Dia menjelaskan progres proyek saat ini bervariasi, mulai dari yang telah diresmikan dan memasuki tahap konstruksi awal hingga yang masih dalam fase persiapan. Secara keseluruhan, Pupuk Indonesia menargetkan seluruh proyek tersebut dapat mulai dibangun dan beroperasi secara bertahap sebelum 2029 sebagai bagian dari transformasi industri pupuk nasional.
“Jadi semuanya ditargetkan bisa groundbreaking dan beroperasi itu sebelum tahun 2029. Jadi itu komitmennya kami untuk memastikan bahwa proyek revitalisasi industri pupuk nasional itu bisa berjalan,” tuturnya.
Tekan Biaya Produksi
Sementara itu, Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori menilai penundaan pensiun pabrik tua dapat dimaklumi sebagai langkah jangka pendek, tetapi tidak boleh menggeser agenda efisiensi industri.
“Rencana suntik mati itu, hemat saya, tetap harus dilanjutkan. Ini strategi jangka panjang yang mau tidak mau harus dilakukan,” kata Khudori kepadaBisnis, Kamis (16/4/2026).
Dia menilai tidak semua pabrik pupuk di bawah holding PT Pupuk Indonesia beroperasi secara efisien. Kondisi ini, menurutnya, berpotensi membebani biaya produksi dan pada akhirnya menekan daya saing harga pupuk nasional.
Dia menyebut hanya sebagian kecil pabrik yang tergolong efisien, bahkan masih kalah kompetitif dibandingkan pabrik sejenis di negara lain seperti Rusia, sehingga diperlukan langkah efisiensi menyeluruh di industri pupuk nasional.
Menurutnya, lonjakan harga global memang dapat membuat pabrik yang sebelumnya tidak efisien menjadi tetap ekonomis untuk dioperasikan dalam jangka pendek.
“Dalam krisis akan terjadi kenaikan harga, yang level kenaikannya tergantung pada kondisi krisis. Ini membuat pupuk yang semula tidak kompetitif menjadi kompetitif,” tambahnya.
Namun, dalam jangka panjang, pemerintah tetap perlu mendorong modernisasi industri agar mampu bersaing di pasar global.
#pabrik-pupuk #pupuk-urea #suntik-mati-pabrik-pupuk #revitalisasi-pabrik-pupuk #harga-pupuk #selat-hormuz #pasokan-pupuk #produksi-urea #ekspor-urea #surplus-urea #revitalisasi-pabrik #pupuk-indonesia #n-a
https://ekonomi.bisnis.com/read/20260418/12/1967456/maju-mundur-rencana-suntik-mati-pabrik-pupuk-tua