Kepala BPOM Beberkan Capaian WHO Listed Authority di National University of Singapore
Kepala BPOM Taruna Ikrar memaparkan pencapaian status WHO Listed Authority (WLA) pada Desember 2025 dalam kuliah di National University of Singapore (NUS). Kepala... | Halaman Lengkap
(SINDOnews Ekbis) 22/04/26 16:57 199434
JAKARTA - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM) Taruna Ikrar memaparkan pencapaian status WHO Listed Authority (WLA) pada Desember 2025 dalam kuliah di National University of Singapore (NUS). Status ini menempatkan BPOM sejajar dengan otoritas regulator negara maju.Dalam paparannya di salah satu kampus terbaik dunia ini, Taruna Ikrar menjelaskan capaian WLA dan strategi transformasi yang komprehensif. Indonesia kini memiliki peluang besar untuk memperluas ekspor produk farmasi dan makanan, meningkatkan kepercayaan global, serta menarik investasi di sektor kesehatan.
Dia menegaskan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja kolektif yang tidak bisa dilepaskan dari dedikasi seluruh insan BPOM. “Capaian ini bukan tentang saya, tetapi tentang kerja keras dan ketulusan seluruh keluarga besar BPOM. Ini adalah bukti bahwa ketika kita bekerja dengan integritas dan niat mengabdi, hasilnya akan diakui dunia,” ujar Taruna Ikrar di Kampus NUS, Singapura, Rabu (21/4/2026).
Ia menambahkan, keberhasilan meraih WLA menjadi fondasi untuk mempercepat transformasi sistem pengawasan melalui pendekatan modern berbasis teknologi dan kolaborasi global. Di hadapan sivitas akademika NUS, Taruna Ikrar juga memperkenalkan konsep strategis ABG (Academic, Business, Government) sebagai pilar utama kemajuan bangsa.
Menurutnya, kekuatan masa depan Indonesia terletak pada integrasi riset akademik, kekuatan industri, dan arah kebijakan pemerintah dalam satu orkestrasi yang solid.
Transformasi BPOM, lanjut dia, juga ditopang oleh dua strategi utama. Pertama, digitalisasi pengawasan, melalui penerapan sistem berbasis teknologi untuk meningkatkan transparansi, efisiensi, dan akuntabilitas layanan publik.
Kedua, penerapan reliance mechanism, yaitu percepatan proses registrasi obat inovatif dengan mengacu pada hasil evaluasi otoritas regulator internasional yang kredibel. Sehingga akses masyarakat terhadap produk kesehatan dapat dipercepat tanpa mengurangi standar keamanan dan mutu.
“Pendekatan reliance adalah keniscayaan di era global. Kita tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi dan saling pengakuan antar regulator adalah kunci untuk menghadirkan akses kesehatan yang lebih cepat dan lebih luas bagi masyarakat,” tegasnya.
Lebih jauh, Taruna Ikrar menyoroti bahwa sektor yang berada dalam pengawasan BPOM mulai dari obat, vaksin, pangan olahan, kosmetik hingga suplemen kesehatan memiliki nilai ekonomi strategis yang mencapai sekitar Rp6.000 triliun. Angka ini menegaskan bahwa BPOM bukan hanya lembaga pengawas, tetapi juga pilar penting dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional.
(shf)
#who #bpom #national-university-of-singapore #kepala-bpom #taruna-ikrar