Rupiah Menguat Jauhi Level 17.300, BI Siaga di Pasar
Rupiah menguat tipis di tengah memanasnya ketegangan AS-Iran yang berisiko mengganggu pasokan minyak global dan inflasi. Pemerintah dan BI siaga jaga stabilitas fiskal dan moneter.
(Kompas.com) 24/04/26 16:09 201852
JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat pada perdagangan Jumat (24/4/2026). Mata uang Garuda naik 57 poin atau 0,33 persen ke level Rp 17.229 per dollar AS.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pergerakan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh geopolitik di Timur Tengah.
Di mana, ketegangan antara AS dan Iran masih berada pada level tinggi, menyusul laporan mundurnya negosiator utama Teheran dalam pembicaraan yang dimediasi Pakistan.
Presiden AS Donald Trump, dalam pernyataannya kepada wartawan pada Kamis malam, menegaskan pihaknya tidak ingin “terburu-buru” mencapai kesepakatan dengan Iran, sembari kembali menyoroti isu penggunaan senjata nuklir.
“Trump juga mengulangi klaimnya bahwa AS telah melumpuhkan kemampuan militer Iran, dan bahwa negara itu dalam keadaan kacau. Komentarnya meningkatkan kekhawatiran atas konflik AS-Iran yang berkepanjangan, yang dapat menyebabkan pasokan minyak melalui Timur Tengah terhenti,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Jumat sore.
Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik berkepanjangan antara AS dan Iran, yang berisiko mengganggu pasokan minyak global, khususnya dari kawasan Timur Tengah.
Melalui media sosial, Trump bahkan dilaporkan telah memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menembak dan menghancurkan kapal-kapal Iran yang memasang ranjau di Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia.
Di sisi lain, Trump menyebut Israel dan Lebanon telah menyepakati perpanjangan gencatan senjata selama tiga minggu setelah pembicaraan di Washington.
Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup meredakan kekhawatiran pasar.
Washington juga sebelumnya memperpanjang gencatan senjata dengan Teheran tanpa batas waktu pada awal pekan ini.
Perpanjangan ini terjadi di tengah mandeknya pembicaraan damai antara kedua negara.
Iran dan AS masih berselisih terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, di mana Iran menuntut pencabutan blokade laut oleh AS, sementara Washington meminta Iran membuka jalur pelayaran secara penuh. Ketegangan di lapangan pun meningkat.
Iran dilaporkan menyita kapal-kapal yang melintas di selat tersebut, sementara AS mengeklaim telah menangkap kapal Iran yang mencoba menembus blokade.
Kondisi ini menempatkan kedua negara dalam kebuntuan yang berpotensi memperpanjang konflik.
Dampak konflik ini mulai dirasakan secara global, termasuk ancaman krisis energi dan lonjakan inflasi di berbagai negara.
Bagi Indonesia, meskipun pemerintah memilih menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), tekanan terhadap kondisi fiskal tetap tidak bisa dihindari.
Pemerintah menyatakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih berada dalam kondisi kuat untuk menghadapi gejolak tersebut.
Meski harga minyak mentah dunia berpotensi bertahan di atas asumsi makro APBN 2026, yakni di atas 100 dollar AS per barrel, pemerintah masih mampu menjaga stabilitas harga, khususnya BBM bersubsidi, tanpa harus menggunakan cadangan fiskal secara langsung.
Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang saat ini mencapai sekitar Rp 423 triliun disebut masih belum digunakan untuk menahan lonjakan belanja subsidi energi.
SAL diposisikan sebagai bantalan terakhir apabila tekanan terhadap defisit fiskal semakin besar.
Pemerintah juga menegaskan tetap menjaga defisit APBN 2026 di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sesuai amanat Undang-Undang Keuangan Negara, melalui efisiensi dan realokasi belanja ke sektor prioritas.
BI Siaga
Ibrahim menyebutkan, Bank Indonesia (BI) memastikan akan mengoptimalkan bauran kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
"Intervensi dilakukan secara simultan di pasar offshore non-deliverable forward (NDF), pasar spot, serta domestic non-deliverable forward (DNDF)," sebut dia.
"Tidak hanya itu, BI juga memperluas operasi moneter valas, termasuk melalui transaksi spot dan swap berbasis yuan offshore, sebagai upaya untuk memperkuat stabilitas mata uang rupiah sekaligus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam bertransaksi," tambahnya.
Sementara itu Kurs JISDOR hari ini juga mengalami penguatan ke posisi Rp 17.278 per dollar AS dibandingkan kemarin pada Rp 17.308.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#rupiah-menguat #konflik-as-iran #apbn-indonesia #geopolitik-timur-tengah