Harta Djaya (MEJA) Masuk Bisnis Batu Bara, Rancang Rights Issue
PT Harta Djaya Karya Tbk. (MEJA) berencana akuisisi 45% saham PT Trimitra Coal Perkasa pada Q3 2026 dan akan melakukan rights issue untuk mendanai rencana ini.
(Bisnis.Com) 27/04/26 15:32 204016
Bisnis.com, JAKARTA—PT Harta Djaya Karya Tbk. (MEJA) menargetkan akuisisi 45% saham tambang batu bara PT Trimitra Coal Perkasa (TCP) dapat dilaksanakan pada kuartal III/2026 seiring dengan dimulainya produksi secara komersial.
Perseroan juga merencanakan aksi korporasi berupa penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue.
Direktur Utama MEJA Richie Adrian Hartanto menyampaikan perseroan masuk ke bisnis batu bara sebagai upaya diversifikasi bisnis dan meningkatkan profitabilitas ke depan.
Nantinya, MEJA akan menjalankan dua bisnis utama melalui anak usaha, yakni desain interior seperti yang saat ini sudah berjalan, dan segmen batu bara melalui TCP.
“Targetnya kuartal III/2026 kami bisa mengakuisisi 45% saham TCP melalui mekanisme share swap [pertukaran saham],” paparnya, Senin (27/4/2026).
Rencana akuisisi juga berjalan seiring dengan rencana operasi komersial TCP pada kuartal III/2026. Dengan luas konsesi mencapai sekitar 11.640 Hektare (Ha), TCP merupakan pemain potensial di sektor batu bara dengan aset skala besar di Sumatera Selatan.
TCP telah menunjuk PT Mitra Abadi Mahakam sebagai kontraktor tambang untuk mengelola eksploitasi batu bara. Sumber daya mencapai 693,7 juta ton berdasarkan laporan konsultan independen Faan Grobelaar & Associates asal Afrika Selatan.
Kapasitas produksi diharapkan mencapai 1,5 juta ton per tahun, dengan kalori sekitar 2.800 Kcal/kg. Produk batu bara kalori rendah disukai pembeli global, seperti India dan China.
Perusahaan juga sudah memiliki pembeli siaga (standby buyer), yakni Argo Energy Pte. Ltd., yang merupakan bagian dari Banpu Group dengan kontrak selama satu tahun.
Nilai akuisisi 45% saham TCP berkisar Rp1,6 triliun. Untuk memuluskan rencana tersebut, MEJA berencana melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. PMHMETD tersebut direncanakan akan dilaksanakan pada kisaran harga Rp450 hingga Rp550 per lembar saham.
Pada 24 April 2026, MEJA telah menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) untuk meminta persetujuan aksi korporasi penambahan modal. Namun, kuorum hanya mencapai 52,74% sehingga mata acara RUPSLB tidak dapat terlaksana.
Corporate Secretary MEJA Habibah Jannah menyebutkan manajemen berharap RUPSLB ketiga dapat terlaksana untuk persetujuan rights issue sehingga perseroan dapat melanjutkan aksi korporasi ke tahap selanjutnya.
“Kami harap RUPSLB ketiga bisa kuorum sehingga perseroan bisa menuju tahapan selanjutnya untuk rights issue,” imbuhnya.
#meja #harta-djaya #bisnis-batu-bara #trimitra-coal-perkasa #rights-issue #akuisisi-saham #diversifikasi-bisnis #produksi-komersial #sumatera-selatan #mitra-abadi-mahakam #kalori-rendah #argo-energy #b