Stop Bagikan Foto & Video Korban Kecelakaan, Dampaknya Bisa Picu Trauma

Stop Bagikan Foto & Video Korban Kecelakaan, Dampaknya Bisa Picu Trauma

Penyebaran foto/video korban kecelakaan bisa picu trauma dan langgar privasi. Psikolog sarankan hindari eksploitasi demi empati dan kurangi hoaks.

(Bisnis.Com) 28/04/26 15:36 205298

Bisnis.com, JAKARTA — Kecelakaan kereta yang melibatkan KA Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, pada Senin (27/4/2026) malam. Tak lama setelah kejadian, potongan video dan foto dari lokasi, terutama yang memperlihatkan korban, langsung beredar luas di berbagai platform.

Meski kerap dibagikan dengan alasan berbagi informasi, penyebaran konten semacam ini berisiko menimbulkan dampak serius. Foto dan video kecelakaan, terutama yang menampilkan korban, dapat memicu trauma serta melanggar aspek etika dan privasi.

Psikolog Anak dan Keluarga dari Universitas Indonesia Rose Mini mengatakan penyebaran konten korban kecelakaan berupa video dan foto korban seharusnya tidak dihindari. Jika masih menggambarkan suasana, mungkin masih bisa dimaklumi.

Namun, ketika yang disorot adalah korban atau kecenderungan untuk eksploitasi, itu yang harus dihindari. Menurutnya, konten-konten tersebut juga dapat menimbulkan efek psikologis berupa ketidaknyamanan bagi keluarga korban, termasuk mereka yang masih mencari kabar anggota keluarganya.

"Menurut saya, hal tersebut harus dihindari. Banyak masyarakat yang memang tidak paham, karena tidak menyadari bahwa keluarga dan kerabat korban tengah mengalami masa yang tidak nyaman, bahkan trauma," kata Rose Mini.

Pasalnya, keluarga korban tengah berupaya melewati masa sulit akibat peristiwa tersebut. Namun, kemunculan berulang tayangan di media sosial atau penyebaran oleh pihak lain justru dapat memperbesar rasa tidak nyaman yang mereka alami.

Penyebaran foto korban, kata Rose, sama saja dengan menciptakan “korban baru”, yakni keluarga yang ditinggalkan. Di tengah situasi berduka, mereka bisa kembali terpukul saat melihat gambar atau video kejadian yang beredar luas di media sosial.

"Seseorang seharusnya berempati terhadap lingkungannya, terhadap orang-orang yang terkait dengan korban. Namun, kalau kemudian dijadikan ajang untuk memamerkan bahwa seseorang berhasil mendapatkan video atau foto terbaru, ini menunjukkan tidak adanya empati," imbuhnya.

Rose menyebut empati adalah kemampuan memahami perasaan dan pikiran orang lain. Jika seseorang merasa tidak nyaman apabila hal serupa terjadi pada keluarganya, semestinya dia juga tidak melakukan hal yang sama kepada orang lain.

Dirinya juga menyoroti kecenderungan sebagian orang yang ingin menjadi pihak pertama yang mengetahui atau menyaksikan suatu peristiwa. Padahal, menurutnya, yang lebih penting adalah tindakan setelah melihat kejadian tersebut, dalam artian apakah mereka berupaya membantu atau mencari pertolongan atau tidak, bukan justru merekam lalu menyebarkannya hingga viral.

Selain itu, Rose Mini Agoes Salim juga menyoroti potensi munculnya hoaks ketika konten kecelakaan terlanjur menyebar luas di media sosial. Kondisi ini kerap terjadi karena orang langsung membagikan video tanpa terlebih dahulu memverifikasi kebenarannya, sehingga justru memperkeruh situasi.

Menurutnya, dalam setiap peristiwa kecelakaan, masyarakat perlu lebih berhati-hati sekaligus mengedepankan empati terhadap banyak pihak. Sikap bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi dinilai penting agar tidak menimbulkan dampak yang lebih luas.

#kecelakaan-kereta #foto-korban #video-korban #trauma-psikologis #dampak-kecelakaan #etika-privasi #empati-korban #penyebaran-konten #hoaks-kecelakaan #media-sosial #keluarga-korban #eksploitasi-korban

https://lifestyle.bisnis.com/read/20260428/106/1969887/stop-bagikan-foto-video-korban-kecelakaan-dampaknya-bisa-picu-trauma