Kilang Pertamina Dumai & Cilacap Berpotensi Pangkas Impor BBM Rp21,6 Triliun
Pertamina bangun kilang di Cilacap & Dumai, kurangi impor BBM Rp21,6 triliun per tahun, tingkatkan ketahanan energi, serap 2.000 tenaga kerja.
(Bisnis.Com) 30/04/26 12:01 207437
Bisnis.com, CILACAP — PT Pertamina (Persero) memulai pembangunan proyek kilang bensin di Cilacap, Jawa Tengah, dan Dumai, Riau yang diproyeksikan mampu menekan nilai impor BBM sebesar US$1,25 miliar per tahun atau sekitar Rp21,65 triliun (kurs jisdor Rp17.324 per dolar AS).
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan, proyek hilirisasi dua kilang tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional.
"Dalam rangka memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan impor BBM, jadi dari pembangunan kilang Cilacap dan Dumai ini, akan mengurangi impor BBM kurang lebih US$1,25 miliar dolar per tahunnya," ujar Rosan di Cilacap, Jawa Tengah dikutip Kamis (30/4/2026).
Fasilitas kilang di Dumai dan Cilacap ditargetkan memiliki kapasitas total 62.000 barel per hari. Proyek ini diperkirakan mampu menggantikan impor BBM hingga 2 juta kiloliter per tahun sekaligus menyerap sekitar 2.000 tenaga kerja.
Secara terpisah, Direktur Infrastruktur, Proyek, dan Asset Integrity PT Pertamina Patra Niaga, Setyo Pitoyo mengungkapkan total investasi dua proyek kilang bensin tersebut diperkirakan mencapai US$1,2 miliar atau sekitar Rp20,4 triliun.
"Masing-masing kilang itu investasinya sekitar US$600 juta sehingga totalnya akan sekitar US$1,2 miliar. Kurang lebih ya, itu belum termasuk misalkan kami harus melakukan upgrade fasilitas dan lain-lainnya," ujar Setyo.
Selain proyek kilang di Cilacap dan Dumai oleh Pertamina, sejumlah proyek lain juga memulai pembangunan pada hari yang sama, termasuk fasilitas pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME) di Tanjung Enim, Sumatra Selatan oleh MIND ID bersama Pertamina.
Pertamina juga memulai pembangunan tiga tangki penyimpanan BBM di Palaran, Kalimantan Timur, lalu di Biak, Papua, dan Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT). Penambahan kapasitas tangki operasional mencapai 153.000 kiloliter untuk memperkuat pasokan BBM di kawasan Indonesia Timur.
Berdasarkan catatan Bisnis, Indonesia masih bergantung pada impor bahan bakar mineral dari sejumlah negara di Timur Tengah, khususnya kawasan Teluk Persia. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menjadi dua pemasok utama dari wilayah tersebut.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan selama periode 2021–2025, total impor BBM dengan kode harmonized system (HS) dua digit 27 dari Arab Saudi mencapai 26,87 juta ton atau senilai US$16,9 miliar.
Selain Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), sejumlah negara di kawasan Teluk juga tercatat mengekspor bahan bakar mineral ke Indonesia. Negara-negara tersebut antara lain Qatar dengan volume 4,91 juta ton senilai US$3,2 miliar, Bahrain sebanyak 1,06 juta ton atau US$666 juta, Kuwait sebesar 1,84 juta ton senilai US$1,02 miliar, serta Oman mencapai 1,64 juta ton sebesar US$1,2 miliar.
Namun demikian, sumber impor BBM terbesar Indonesia justru berasal dari negara tetangga. Selama lima tahun terakhir, impor dari Singapura mencapai 65,24 juta ton atau setara US$49,22 miliar, sementara dari Malaysia tercatat 34,1 juta ton atau sekitar US$25,42 miliar.
#kilang-pertamina #pertamina-cilacap #pertamina-dumai #impor-bbm #proyek-kilang-bensin #ketahanan-energi-nasional #investasi-kilang #kapasitas-kilang #tenaga-kerja-kilang #proyek-hilirisasi #pengolahan