Dunia Krisis Energi, China Pegang Stok Minyak Terbesar

Dunia Krisis Energi, China Pegang Stok Minyak Terbesar

China memimpin dengan cadangan minyak terbesar, 1,397 miliar barel, di tengah krisis energi global, mengungguli AS dan Jepang.

(Bisnis.Com) 10/05/26 13:40 216973

Bisnis.com, JAKARTA — Persediaan minyak strategis global kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya guncangan energi dan ketidakpastian geopolitik, terutama setelah penutupan Selat Hormuz yang memicu tekanan besar terhadap pasar bahan bakar dunia.

Seiring dengan dinamika ini, cadangan strategis dinilai sebagai salah satu indikator utama kesiapan negara dalam menghadapi perang, sanksi ekonomi, bencana alam, maupun gangguan pasokan minyak global. Stok tersebut digunakan pemerintah untuk menjaga stabilitas pasokan energi domestik dan menekan lonjakan harga.

Berdasarkan data Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), China tercatat memiliki cadangan minyak strategis terbesar di dunia dengan estimasi volume mencapai 1,397 miliar barel.

Jumlah tersebut jauh melampaui negara lain dan bahkan lebih besar dibanding gabungan stok strategis Amerika Serikat, Jepang, negara-negara OECD Eropa, Arab Saudi, Korea Selatan, Iran, Uni Emirat Arab, dan India.

Amerika Serikat berada di posisi kedua dengan 413 juta barel, disusul Jepang 263 juta barel, OECD Eropa 179 juta barel, Arab Saudi 82 juta barel, Korea Selatan 79 juta barel, Iran 71 juta barel, Uni Emirat Arab 34 juta barel, serta India 21 juta barel.

Secara total, persediaan negara-negara tersebut mewakili sekitar 70% dari volume minyak dunia yang tersimpan saat ini.

Besarnya cadangan China mencerminkan tingginya ketergantungan negara tersebut terhadap jalur pasokan luar negeri, termasuk rute strategis seperti Selat Hormuz. Dengan stok besar, Beijing memiliki ruang manuver lebih luas menghadapi volatilitas harga maupun gangguan distribusi global.

Sementara itu, Amerika Serikat mempertahankan posisi kedua melalui Strategic Petroleum Reserve (SPR), yaitu jaringan penyimpanan bawah tanah di gua garam yang dibangun setelah embargo minyak 1973.

Jepang juga menempatkan cadangan energi sebagai prioritas utama. Meski minim sumber daya domestik, negara itu mengimpor hampir seluruh kebutuhan minyak mentah sehingga mempertahankan stok darurat besar menjadi kebijakan strategis jangka panjang.

Di kawasan Eropa, negara-negara anggota OECD secara kolektif menyimpan 179 juta barel. Sejumlah negara Timur Tengah dan Asia lainnya juga terus memperbesar kapasitas penyimpanan sebagai bagian dari strategi keamanan energi nasional.

Sejarah menunjukkan cadangan strategis kerap menjadi alat utama saat krisis. Setelah embargo minyak 1973–1974 yang membuat harga minyak melonjak hingga 300%, Badan Energi Internasional (IEA) dibentuk untuk mengoordinasikan ketahanan energi negara-negara anggota.

Sejak 1974, pelepasan minyak strategis telah dilakukan enam kali, yakni pada 1991 menjelang Perang Teluk, 2005 setelah Badai Katrina dan Rita, 2011 akibat perang saudara Libya, dua kali pada 2022 pascainvasi Rusia ke Ukraina, serta pelepasan terbesar pada 2026 setelah penutupan Selat Hormuz.

Kondisi ini menunjukkan bahwa di tengah permintaan energi global yang tetap tinggi dan konflik geopolitik yang berulang, cadangan minyak strategis makin penting sebagai tameng ekonomi nasional.

Berikut ini adalah 9 negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia hingga akhir 2025 menurut IEA.

1. China: 1.397 juta barel

2. AS: 413 juta barel

3. Jepang: 263 juta barel

4. OECD Eropa: 179 juta barel

5. Arab Saudi: 82 juta barel

6. Korea Selatan: 79 juta barel

7. Iran: 71 juta barel

8. UEA: 34 juta barel

9. India: 21 juta barel

#china-stok-minyak #krisis-energi-global #cadangan-minyak-strategis #selat-hormuz-penutupan #pasar-bahan-bakar-dunia #ketergantungan-minyak-china #persediaan-minyak-dunia #stabilitas-pasokan-energi #ha

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260510/44/1972710/dunia-krisis-energi-china-pegang-stok-minyak-terbesar