Kinerja Solid Emiten LQ45 Kuartal I/2026, Analis Jagokan Sektor Bank dan Energi
Emiten LQ45 mencatat pertumbuhan laba positif di Q1/2026, didukung sektor bank dan energi. Analis merekomendasikan saham perbankan, konsumer, dan energi.
(Bisnis.Com) 11/05/26 13:38 217702
Bisnis.com, JAKARTA — Mayoritas emiten yang tergabung dalam indeks LQ45 terpantau membukukan pertumbuhan laba positif pada kuartal I/2026 di tengah tekanan global dan tingginya volatilitas pasar keuangan.
Kondisi tersebut setidaknya menunjukkan bahwa fundamental sejumlah emiten big caps domestik relatif tetap resilien, ditopang efisiensi operasional, stabilnya permintaan domestik, hingga momentum harga komoditas.
Sejumlah emiten bahkan mencatatkan lonjakan laba signifikan. PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), misalnya, meraih pertumbuhan laba 669,9% secara tahunan (year on year/YoY), sementara PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) naik 450,9% YoY dan PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) tumbuh 282,3% YoY.
Sektor perbankan juga menunjukkan daya tahan yang kuat. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mencatat pertumbuhan laba bersih 13,3% YoY, sedangkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) tumbuh 16,6% YoY.
Sementara itu, emiten berbasis komoditas seperti PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), PT Vale Indonesia Tbk. (INCO), dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) tetap mencatatkan kinerja solid di tengah fluktuasi harga komoditas global.
Kinerja laba emiten pada kuartal I/2026 dinilai menjadi sinyal kuat bahwa fondasi korporasi di Indonesia tetap kokoh di tengah tingginya ketidakpastian.
Analis sekaligus VP Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menjelaskan bahwa realisasi laba kuartal I/2026 melampaui ekspektasi pasar yang sebelumnya sempat pesimistis.
Kondisi itu terjadi meski pasar dibayangi suku bunga global yang tinggi, tensi geopolitik Amerika Serikat (AS) dengan Iran serta volatilitas arus modal asing.
“Momentum ini harus dilihat lebih selektif, apakah merupakan pemulihan laba yang berkelanjutan atau sekadar lonjakan laba yang sifatnya siklikal dan one-off,” ujar Audi saat dihubungi pada Jumat (8/5/2026).
Audi menambahkan, valuasi saham-saham berkapitalisasi pasar besar atau big caps dalam indeks LQ45 kini berada di level yang lebih sehat. Hal itu setelah pasar mengalami de-rating akibat aksi jual investor asing (foreignoutflow), penyesuaian bobot indeks MSCI, hingga pelemahan nilai tukar rupiah.
Dalam kondisi tersebut, Kiwoom Sekuritas merekomendasikan tiga sektor saham pilihan dengan strategi yang berbeda, yakni perbankan, konsumer, dan energi.
Di sektor perbankan, kelompok big banks tetap menjadi proksi utama investasi. Hal ini didorong oleh struktur dana murah (current account savings account/CASA) yang kuat serta kualitas aset yang stabil, sehingga mampu menjamin pertumbuhan laba yang lebih berkelanjutan dalam jangka panjang.
Sementara itu, sektor konsumer dinilai menarik sebagai instrumen defensif sekaligus recovery play. Sektor tersebut diprediksi tetap tangguh selama tingkat inflasi domestik masih terkendali dan daya beli masyarakat terjaga kuat.
Di sisi lain, Audi menyatakan bahwa sektor energi masih menawarkan peluang untuk strategi investasi taktikal, mengingat eskalasi geopolitik global yang terus menyokong harga komoditas tetap berada di level tinggi.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#lq45 #emiten-lq45 #kinerja-emiten #laba-emiten #sektor-bank #sektor-energi #pertumbuhan-laba #emiten-big-caps #saham-perbankan #saham-energi #saham-konsumer #strategi-investasi #volatilitas-pasar #har