Kawan Lama Group Bicara Pengembangan Lini Bisnis Manufaktur
Kawan Lama Group fokus kembangkan lini bisnis manufaktur untuk memperkuat ekosistem usaha dan efisiensi rantai pasok di tengah persaingan produk impor.
(Bisnis.Com) 11/05/26 15:54 217902
Bisnis.com, JAKARTA – Kawan Lama Group tengah menggenjot pengembangan lini bisnis manufaktur sebagai strategi memperkuat ekosistem usaha dan meningkatkan efisiensi rantai pasok di tengah persaingan produk impor.
Strategic Marketing Services Director Kawan Lama Group Adeline Ausy Setiawan mengatakan sektor manufaktur menjadi salah satu pilar bisnis yang akan dipacu lebih agresif ke depan.
“Pilar yang ingin kami accelerate lebih kencang adalah manufacturing, karena itu memang kita perlukan,” ujar Ausy kepada Bisnis, Senin (11/5/2026).
Saat ini, Kawan Lama Group memiliki tiga fasilitas produksi, termasuk pabrik di Cikande dan kawasan Kendal, Jawa Tengah. Pabrik Cikande memiliki luasan total 110.000 meter persegi, sementara pabrik di Kendal baru memiliki luasan sekitar 31.000 meter persegi.
Pabrik manufaktur di Kendal berada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan baru beroperasi sekitar satu tahun terakhir. Pada tahap awal, fasilitas tersebut hanya memproduksi cushion atau bantalan furnitur.
Namun, lini produksinya kini diperluas ke berbagai kategori seperti matras, sofabed, sepatu keselamatan, lampu, hingga brankas. Produk ini nantinya akan memasok kebutuhan Grup Kawan Lama di setiap penjualan.
“Terus merambah ke matras, sofabed, kita one of the biggest producer sofabed di Indonesia. Sekarang kita sudah mulai macam-macam juga. Kita juga buat sepatu safety,” katanya.
Di satu sisi, Vice President of Corporate Affairs, Corporate Communications & Sustainability Kawan Lama Group, Melinda Pudjo menerangkan di tengah dominasi produk manufaktur impor, Kawan Lama Group turut mempercepat transfer pengetahuan dan teknologi melalui sejumlah kerja sama joint venture (JV) dengan mitra asing.
“Jadi memang percepatan transfer knowledge itu penting. Ada beberapa JV juga. Ahlinya datang, kita belajar, termasuk robotiknya,” kata Melinda.
Dia menilai kekuatan utama perusahaan terletak pada ekosistem distribusi yang telah dimiliki. Dengan jaringan toko yang telah tersebar di seluruh Indonesia, hasil produksi manufaktur internal memiliki pasar yang jelas melalui berbagai unit usaha grup seperti AZKO dan Informa.
“Ketika kita bicara produksi, banyak pabrik bingung mau jual ke mana. Makanya kami bicara ekosistem,” ujarnya.
Meski demikian, Melinda mengakui produk impor masih dibutuhkan untuk menjaga efisiensi biaya produksi. Dengan kata lain, kapasitas produksi industri domestik masih memerlukan penguatan agar mampu bersaing dengan produk luar.
Karena itu, perusahaan berharap pengembangan manufaktur lokal dapat didorong melalui transfer teknologi, investasi asing, hingga peningkatan kapasitas produksi nasional.
“Harapannya kita punya scalability itu, kita punya transfer knowledge, kita bikin orang Indonesia lebih pintar, ada investasi dari luar, kemudian kita juga bisa ekspor. Beberapa produk juga sudah kami ekspor ke luar,” katanya.
Melansir laman resminya, Kawan Lama Manufacturing disebut turut memproduksi sofa, bean bag, kursi kantor, matras dan kasur, sprei, bantal, kompor gas portabel, hingga alat gunting rumput.
#kawan-lama-group #pengembangan-bisnis #lini-manufaktur #strategi-bisnis #pabrik-cikande #pabrik-kendal #kawasan-ekonomi-khusus #produk-lokal #transfer-teknologi #investasi-asing #kapasitas-produksi #p