Sederet Komoditas Pangan Indonesia yang Masih Dibeli Pakai Dolar AS
Indonesia masih bergantung pada impor pangan seperti gandum, kedelai, dan gula yang dibeli dengan dolar AS, membuat harga pangan rentan terhadap fluktuasi kurs.
(Bisnis.Com) 18/05/26 18:10 224021
Bisnis.com, JAKARTA — Pelemahan rupiah kembali menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor pangan strategis berbasis dolar Amerika Serikat (AS), mulai dari gandum, kedelai, gula, hingga bawang putih.
Kondisi tersebut dinilai membuat harga pangan domestik makin rentan terhadap gejolak kurs dan tekanan global.
Peneliti Center of Reform on Economics Eliza Mardian mengatakan tekanan nilai tukar memiliki dampak langsung terhadap sektor pangan nasional karena sebagian besar bahan baku, pangan konsumsi, dan input produksi masih berasal dari impor.
Menurut dia, gandum menjadi komoditas dengan ketergantungan impor tertinggi karena seluruh kebutuhan nasional masih dipenuhi dari luar negeri. Selain itu, impor kedelai mencapai sekitar 90% dari kebutuhan domestik, bawang putih 95%, gula sekitar 60%, serta daging sapi dan kerbau sekitar 54%.
“Karena mayoritas transaksi impor tersebut menggunakan dolar AS, maka ketika rupiah melemah, biaya impor otomatis meningkat dan akhirnya mendorong kenaikan harga pangan di dalam negeri,” ujar Eliza ketika dihubungi, Senin (18/5/2026).
Kondisi tersebut membuat harga pangan domestik sangat sensitif terhadap pelemahan rupiah. Tekanan kurs tidak hanya meningkatkan biaya impor, tetapi juga membebani industri makanan dan minuman yang bergantung pada bahan baku impor.
"Itulah mengapa pentingnya kita swasembada pangan dan diversifikasi ke pangan lokal agar tidak rentan dengan dinamika global. Untuk komoditas seperti kedelai, gula, bawang putih, daging sapi kita perlu dorong swasembada yang berkeadilan dan berkelanjutan yang melibatkan petani kecil. Untuk mencapai swasembada dibutuhkan dukungan inovasi teknologi benih, alat mesin pertanian, irigasi, pemodalan dan capacity building petani yang intensif sehingga produktivitas meningkat, biaya produksi efisien dan kualitas produknya baik," terangnya.
Sebelumnya, Guru Besar IPB University sekaligus Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia Dwi Andreas Santosa juga telah menyampaikan kepada Mahkamah Konstitusi bahwa gandum menjadi komoditas impor terbesar Indonesia seiring perubahan pola konsumsi masyarakat yang makin bergantung pada produk berbasis terigu.
Pada 2025, impor gandum Indonesia tercatat mencapai 11,76 juta ton. Jumlah tersebut menjadi yang terbesar dibanding komoditas pangan lainnya. Selain gandum, impor kedelai mencapai 8,61 juta ton, gula tebu 3,93 juta ton, jagung 982.000 ton, bawang putih 542.000 ton, serta beras 454 ribu ton.
Adapun, Data Badan Pusat Statistik (BPS) periode Januari–Februari 2026 menunjukkan nilai impor pangan berbasis dolar AS masih cukup besar.
Impor gandum dan meslin tercatat mencapai US$642,85 juta, kedelai US$265,19 juta, kakao US$246,88 juta, gula US$233,85 juta, serta susu US$169,23 juta. Sementara itu, impor daging jenis lembu mencapai US$77,84 juta dan bawang putih sebesar US$66,88 juta.
Besarnya nilai impor tersebut menunjukkan tambahan tekanan yang dapat muncul ketika rupiah melemah terhadap dolar AS. Biaya impor pangan berpotensi meningkat lebih cepat dan berdampak terhadap harga di tingkat konsumen.
Meski demikian, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menilai ketergantungan impor pangan strategis Indonesia masih dalam batas aman.
Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman pada 25 April 2026 mengatakan total impor tiga pangan pokok strategis hanya sekitar 3,5 juta ton yang terdiri atas kedelai 2,6 juta ton, bawang putih 600.000 ton, serta daging ruminansia 350.000 ton.
Di sisi lain, kebutuhan konsumsi 11 pangan pokok nasional mencapai 68,7 juta ton per tahun sehingga porsi impor disebut hanya sekitar 5,1%.
Sebanyak 11 komoditas pangan pokok tersebut meliputi beras, jagung pakan, cabai rawit, cabai besar, daging ayam, telur ayam, bawang merah, gula konsumsi, kedelai, bawang putih, serta daging sapi dan kerbau.
Bapanas juga mencatat produksi domestik 11 komoditas tersebut dapat mencapai 73,7 juta ton per tahun dan dinilai masih sejalan dengan definisi swasembada pangan dari Food and Agriculture Organization (FAO).
#impor-pangan-indonesia #ketergantungan-impor #harga-pangan-domestik #pelemahan-rupiah #impor-gandum #impor-kedelai #impor-gula #impor-bawang-putih #swasembada-pangan #diversifikasi-pangan-lokal #inova