APBN Jawa Barat Surplus Rp2,45 Triliun Meski Penerimaan Negara Terkontraksi
APBN Jawa Barat surplus Rp2,45 triliun hingga Maret 2026 meski penerimaan negara terkontraksi 3,46% YoY, didukung pertumbuhan sektor jasa dan keuangan.
(Bisnis.Com) 20/05/26 20:45 226934
Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Jawa Barat sampai dengan 31 Maret 2026 mencatatkan surplus regional sebesar Rp2,45 triliun.
Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Jawa Barat sekaligus Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Kanwil DJBC) Jawa Barat Finari Manan menyampaikan surplus tersebut dapat dilihat dari total pendapatan negara sebesar Rp31,67 triliun (16,80% dari target), sementara untuk total belanja negara tercatat sebesar Rp29,22 triliun (27,45% dari pagu).
“Kinerja APBN hingga Maret 2026 tercatat masihon trackdan membukukan surplus APBN, dan akan terus dioptimalkan untuk mendukung program prioritas nasional serta menjadi katalis pertumbuhan ekonomi,” ujar Finari dikutip dari siaran pers Direktorat Jenderal Pajak, dikutip pada Rabu (20/5/2026).
Namun demikian, Finari mengatakan penerimaan negara sampai dengan 31 Maret 2026 tercatat terkontraksi sebesar 3,46% (year on year/YoY). Penurunan ini disumbang oleh Penerimaan Perpajakan yang terkontraksi sebesar 3,40% YoY dan Penerimaan Bukan Pajak yang terkontraksi sebesar 4,40 % YoY.
Secara lebih rinci untuk penurunan di bagian Penerimaan Perpajakan, disebabkan oleh menurunnya penerimaan cukai yang terkontraksi sebesar 13,70% YoY atau mencatatkan penerimaan sebesar Rp7,19 triliun dari target Rp30,56 triliun. Turunnya penerimaan cukai terutama disebabkan oleh turunnya cukai hasil tembakau yang mencatatkan kontraksi sebesar 14,30% YoY.
Meskipun begitu, beberapa sektor pajak justru mengalami pertumbuhan yang membantu menahan penurunan kinerja penerimaan negara di Jawa Barat.
Sektor ekonomi dominan yang tumbuh dari sisi perpajakan pada triwulan I 2026 adalah pada sektor jasa professional (tumbuh 46,46%), sektor keuangan dan asuransi (25,02%), aktivitas penyewaan (19,09%), perdagangan (16,25%), dan administrasi pemerintahan (3,26%). Hal ini disebabkan karena peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat terutama pada saat Hari Raya Idul Fitri pada Bulan Maret 2026.
“Di tengah berbagai ketidakpastian global, perekonomian Jawa Barat masih tetap resilien salah satunya didorong faktor konsumsi pemerintah pada masa Hari Raya Idul Fitri. Ke depan pemerintah akan terus memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi serta memperkuat bantalan fiskal perekonomian melalui kebijakan fiskal yang tepat dan berkesinambungan,” pungkasnya.(Putri Astrian Surahman)
#apbn-jawa-barat #surplus-apbn #penerimaan-negara #belanja-negara #kinerja-apbn #penerimaan-perpajakan #penerimaan-bukan-pajak #cukai-tembakau #sektor-jasa-profesional #sektor-keuangan-asuransi #aktivi