Topang Ekonomi Nasional, Toko Kelontong Masih Terganjal Akses Modal
Toko kelontong SRC menyumbang Rp 251 triliun ke PDB ritel, namun hadapi tantangan modal. SRCIS berinovasi mengatasi masalah klasik ini demi pertumbuhan UMKM.
(Kompas.com) 21/05/26 18:02 227990
JAKARTA, KOMPAS.com - Jaringan toko kelontong memiliki kekuatan ekonomi yang turut berkontribusi dalam perekonomian Indonesia.
Kendati demikian, toko kelontong yang juga merupakan UMKM masih menghadapi tantangan klasik yakni akses pada permodalan.
Direktur Utama PT SRC Indonesia Sembilan (SRCIS) Romulus Sutanto menjelaskan, sebanyak 250.000 toko SRC memiliki omzet sekitar Rp 251 triliun.
KOMPAS.COM/Titis Anis Fauziyah Direktur Bisnis Perum Bulog, Febby Novita dan Direktur PT SRC Indonesia Sembilan, Romulus Susanto diwawancarai di Kanwil Bulog Jateng, Selasa (7/1/2025).Angka tersebut setara dengan 9,5 persen dari PDB ritel nasional non mobil dan sepeda motor.
"Ini sangat strategis toko kelontong dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat," kata dia dalam Talkshow bertajuk Bukti Nyata Transformasi dan Akselerasi untuk UMKM Indonesia, Kamis (21/5/2026).
Ia menambahkan, hasil tersebut adalah bukti ketika toko kelontong yang mendapatkan pendampingan secara konsisten, akses ke teknologi, dan didukung ekosistem dapat memberikan dukungan ekonomi nasional untuk tumbuh.
Selain itu, Romulus berujar, pihaknya telah bekerja sama dengan perbankan untuk dapat membuka akses permodalan kepada toko kelontong SRC.
"Membantu tidak hanya KUR, tentunya dengan insentif daripada bunga yang lebih rendah akan sangat menguntungkan dan membantu Bapak/Ibu toko kelontong," ucap dia.
Selain itu, toko kelontong juga menghadapi tantangan di tengah pelemahan daya beli masyarakat.
Untuk mengatasi tantangan ini, toko kelontong SRC dan paguyubannya perlu untuk melakukan inovasi.
SHUTTERSTOCK/ARIES HENDRICK APRIYANTO Ilustrasi toko Sampoerna Retail Community (SRC)."Inovasi produk mana yang relevan saat ini, sering juga membuat bundle-bundle paket, atau apa pun itu, sehingga menarik konsumen dan trafiknya bisa lebih meningkat," ucap dia.
Romulus mengungkapkan sebanyak 66 persen dari 250.000 toko SRC menghadirkan produk lokal.
Toko kelontong ini membantu untuk menjual produk tetangga sekitar.
Dengan demikian, distribusi produk UMKM juga meningkat hingga 24 persen dengan inisiatif tersebut.
Omzet toko SRC tersebut meningkat lebih daripada 2 kali lipat atau 128 persen dari sekitar Rp 5,6 triliun menjadi Rp 12,9 triliun per tahun.
Romulus bilang, SRC juga membantu meningkatkan kapasitas toko melalui pendampingan melalui SRC Coach. Upaya ini termasuk membantu toko mengatur tampilan yang lebih rapi, bersih, dan terang. "Tentunya lewat digitalisasi juga melalui aplikasi Ayo by SRC untuk memesan produk," terang dia.
Utamakan pembinaan kualitas
Saat ini SRC memiliki sekitar 250.000 toko di seluruh Indonesia dalam usianya yang mencapai 18 tahun.
Romulus menjabarkan, upaya yang dimulai dari 57 toko di Medan, Sumatera Utara.
"Jadi kalau dihitung dibagi 18 tahun itu kan running rate-nya sekitar 13.000 (toko). Tentunya kalau kita akselerasi cepat yang kita butuhkan saat ini itu adalah penataan supaya quality daripada akselerasinya itu lebih bagus," ucap dia.
Romulus menambahkan, saat ini pihaknya akan lebih mengutamakan kualitas dari 250.000 toko tersebut.
SHUTTERSTOCK/ARIES HENDRICK APRIYANTO Ilustrasi toko Sampoerna Retail Community (SRC).Harapannya, semua toko SRC tersebut memiliki pertumbuhan yang solid.
"Kita harus memastikan bahwa 250.000 toko kelontong ini benar-benar berkualitas. Itu prioritas utama kami sebelum berpikir untuk scale up yang lebih besar lagi," ucap dia.
SRC mengakselerasi usaha toko kelontong
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Iqbal Shoffan Shofwan mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen.
Dari jumlah tersebut sebanyak 54,36 persen di antaranya merupakan kontribusi dari konsumsi rumah tangga.
Jumlah tersebut termasuk sumbangsih industri ritel baik yang tradisional maupun toko kelontong.
"Yang dilakukan SRC selama 18 tahun ini tidak hanya mengakselerasi, tetapi juga scale up usahanya," ucap dia.
Iqbal menuturkan, dalam kaitan meningkatkan skala bisnisnya, toko kelontong diajak untuk meningkatkan kualitas misalnya dengan penataan barang dagangan, manajemen keuangan, hingga menyusun laporan keuangan.
"Serta memfasilitasi penyaluran dari prinsipal maupun dari distribusi kepada toko-toko kelontong," ucap dia.
Rantai pasok ini membuat toko kelontong mendapatkan harga yang bagus.
Dengan demikian, terdapat margin usaha yang dapat dinikmati oleh toko kelontong.
"Saya pikir lebih dari 40 persen toko kelontong ini membuat lini usaha yang baru, apakah warung makan, jualan token atau pulsa dan segala macam," ungkap dia.
DOK. AMAR BANK Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda.UMKM tetap tumbuh di tengah kredit yang turun
Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan, UMKM justru menunjukkan pertumbuhan produktivitas.
"Ini berkebalikan sebenarnya dengan penyaluran kredit ke UMKM yang merosot," ujar dia.
Berdasarkan data Indeks Produksi Industri Mikro dan Kecil (IMK), pelaku UMKM mikro dan kecil terlihat masih tumbuh positif.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor.
Perlambatan penyaluran kredit dapat dipengaruhi oleh peningkatan besaran risiko yang dimiliki UMKM.
Di sisi lain, kondisi ini juga dapat dipengaruhi oleh industri perbankan yang melakukan pengetatan terhadap penyaluran pembiayaan ke industri UMKM.
Nailul berpandangan, UMKM yang tetap tumbuh tersebut juga pernah terjadi di masa pandemi Covid-19.
Jauh sebelum periode tersebut, industri UMKM juga menunjukkan resiliensi di tengah krisis moneter 1998 dan krisis keuangan pada 2008-2009.
"Karena apa? Karena ekonomi yang ada di UMKM itu adalah ekonomi riil," ungkap Nailul.
Permodalan jadi masalah klasik
Nailul menjelaskan, saat ini permodalan masih menjadi masalah klasik untuk UMKM.
Fenomena ini juga menjadi perhatian Badan Pusat Statistik (BPS). Sejak 2016 hingga-2020, UMKM mengaku masalah permodalan masih menjadi faktor yang paling tinggi dan berpengaruh pada industri.
SHUTTERSTOCK/RENHUE Ilustrasi toko kelontong, warung.Salah satu yang membuat permodalan jadi masalah UMKM adalah karena persyaratan yang sulit.
Selain itu, UMKM juga umumnya tidak memiliki agunan dalam mengajukan pinjaman perbankan.
Sebagian UMKM juga mengaku tidak mengerti cara mengajukan pinjaman perbankan hingga faktor usulan yang ditolak.
Nailul menjelaskan, sistem permodalan di Indonesia memang masih belum dapat menjangkau akar rumput, terutama UMKM yang dijalankan oleh seorang perempuan.
Nailul menjelaskan, sebagian besar pelaku UMKM masih kesulitan menghadapi permasalahan ini, padahal permodalan menjadi salah satu cara untuk bisa tumbuh secara berkelanjutan.
“Bagi banyak UMKM, termasuk perempuan di akar rumput, akses terhadap permodalan masih menjadi tantangan utama. Fintech, termasuk P2P lending, dapat menjembatani kebutuhan ini dengan cara yang lebih cepat dan tepat. Namun, pembiayaan digital perlu diarahkan untuk kegiatan produktif dan didukung tata kelola yang baik agar dapat membantu UMKM memperluas pasar serta menjaga keberlanjutan usahanya,” urai Nailul.
Ia menambahkan, tantangan ini menjadi semakin relevan bagi UMKM perempuan, yang kerap memegang peran ganda sebagai pengelola usaha sekaligus pengatur keuangan keluarga.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#toko-kelontong #toko-kelontong-src #akses-permodalan-umkm #ekonomi-ritel-nasional #digitalisasi-toko