Kemenpar Bidik Investasi Pariwisata Rp63,5 Triliun pada 2026, Sebaran Masih Belum Merata

Kemenpar Bidik Investasi Pariwisata Rp63,5 Triliun pada 2026, Sebaran Masih Belum Merata

Kemenpar targetkan investasi pariwisata Rp63,5 triliun pada 2026, fokus pada destinasi regeneratif dan prioritas, meski sebaran investasi belum merata.

(Bisnis.Com) 21/05/26 19:01 228090

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menargetkan bahwa investasi pariwisata Indonesia mencapai Rp63,5 triliun pada 2026. Meski begitu, hingga saat ini, investasi tersebut masih hanya terkonsentrasi di beberapa destinasi wisata saja.

Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenpar Rizki Handayani, menyatakan bahwa angka target investasi pariwisata nasional itu ditetapkan sesuai dengan arah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025—2029. Investasi itu difokuskan pada 3 destinasi regeneratif, yaitu yang difokuskan terhadap pemulihan lingkungan serta masyarakat lokal, dan juga 10 destinasi prioritas.

Jika melihat capaian pada 2025, investasi nyatanya masih dipusatkan hanya di tiga wilayah, yaitu di Bali, Jakarta, dan Kepulauan Riau.

“Dari target 65% yang harus terpenuhi di 13 destinasi itu, 70% ada di destinasi regeneratif. Berarti, sebenarnya, DPP [destinasi pariwisata prioritas] lainnya masih sangat kecil,” ujar Rizki dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata 2026, Rabu (20/5/2026).

Dengan kondisi itu, dia menyebut bahwa Kemenpar mendorong penguatan sinergi perluasan investasi di berbagai destinasi prioritas dan daerah lain yang sebenarnya memiliki potensi besar untuk berkembang.

Menurutnya, pemerintah daerah (pemda) perlu untuk makin menyiapkan proyek investasi pariwisata supaya lebih matang, layak ditawarkan, serta menarik bagi investor. Kemudian, daerah-daerah di Indonesia juga dinilai perlu memperkuat kualitas infrastruktur pendukung, konektivitas, dan penganekaragaman produk serta layanan wisata.

Dia menambahkan bahwa terdapat faktor-faktor penting lain untuk memperkuat kepercayaan investor, seperti dengan menciptakan iklim investasi yang kondusif melalui penyederhanaan regulasi serta memperkuat kepastian hukum yang ada.

“Menteri Pariwisata telah meminta kami membuat satu forum, di mana nantinya daerah-daerah yang memiliki proyek untuk bisa dipertemukan dengan calon investor,” ungkap Rizki seperti dikutip pada Kamis (21/5/2026).

Saat ini, dia menjelaskan bahwa terdapat enam tren utama yang membentuk pilihan wisatawan global, yaitu alam dan petualangan (nature and adventure), pariwisata ramah lingkungan (eco-friendly tourism), kuliner dan gastronomi (culinary and gastronomy), pengalaman budaya (cultural immersion), pariwisata kebugaran (wellness tourism), sertableisure(business and leisure) alias bisnis dan rekreasi.

Tren-tren tersebut dikatakan dapat dimanfaatkan dalam pengembangan industri pariwisata, dengan peralihan tren tersebut dari pasar secara luas menjadi masuk ke produk wisata. Rizki menyebut bahwa cara membentuk produk wisata serta mengaitkan potensi yang ada di sutau daerah dengan tren yang ada merupakan sesuatu hal yang penting.

Dalam kesempatan yang sama, Asisten Deputi Event Internasional Kemenpar Hafiz Agung Rifai menyampaikan bahwa sektor acara ataueventmemiliki kontribusi besar terhadap pariwisata nasional.

Sepanjang 2025, dia menyebut bahwa jumlah keseluruhan dampak ekonomieventpariwisata mencapai Rp23,76 triliun. Capaian itu mencakup jumlah pengunjung yang lebih dari 12 juta orang, penyerapan tenaga kerja sebesar 135 ribu orang, dan juga adanya pelibatan lebih dari 115 ribu pelaku seni.

“Ini menunjukkan bahwa event memiliki daya ungkit ekonomi yang cukup besar,” ujarnya.

Pasar pariwisata acara atauevent tourismdunia pun diproyeksikan akan mencapai angka US$2.631,5 miliar. Hal tersebut dinilai akan membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya di pasar global.

Kemudian, Hafiz menggarisbawahi pentingnya adaptasi tren keberlanjutan global, seperti era akuntabilitas karbon (Carbon Accountability Era), kebijakan-kebijakan acara di tingkat kota (City-Level Event Policies), serta peningkatan ekspektasi publik terhadap penyelenggaraan acara yang berkelanjutan.

“Isu keberlanjutan bukan lagi merupakan sebuah nilai tambah, tetapi sudah menjadi ekspektasi pasar,” pungkas Hafiz. (Laurensius Katon Kandela)

#investasi-pariwisata #kemenpar-investasi #pariwisata-indonesia #destinasi-wisata #destinasi-regeneratif #destinasi-prioritas #investasi-bali #investasi-jakarta #investasi-kepulauan-riau #proyek-invest

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260521/12/1975577/kemenpar-bidik-investasi-pariwisata-rp635-triliun-pada-2026-sebaran-masih-belum-merata