Prospek Saham AKRA Kala BBM Langka

Prospek Saham AKRA Kala BBM Langka

Kelangkaan BBM mempengaruhi saham AKRA, namun dampaknya jangka pendek. Potensi kerja sama dengan Pertamina bisa stabilkan pasokan dan menarik minat investor.

(Bisnis.Com) 14/10/25 09:06 2343

Bisnis.com, JAKARTA – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang dialami SPBU swasta dalam sebulan terakhir mempengaruhi persepsi investor saham emiten pengelola SPBU, PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA).

AKR Corporindo mengelola SPBU BBM untuk penjualan ritel melalui PT Aneka Petrindo Raya (APR), perusahaan patungan atau joint venture antara AKR dengan BP (British Petroleum).

Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai isu kelangkaan BBM memang menjadi sentimen negatif bagi AKRA, namun dampaknya lebih bersifat jangka pendek.

Pada perdagangan Senin (13/10), AKRA ditutup koreksi 1,36% ke Rp1.090. Sejalan dengan isu kelangkaan SPBU swasta yang terjadi sejak akhir Agustus 2025, harga saham AKRA dalam sebulan terakhir susut 9,54%.

Ekky melihat penurunan harga saham dalam sebulan terakhir lebih mencerminkan reaksi kekhawatiran investor, bukan perubahan fundamental yang signifikan. Selain itu, dampaknya juga dinilai hanya dalam jangka pendek.

"Sebaliknya, kabar bahwa AKRA berpotensi menjalin kesepakatan pembelian base fuel dari Pertamina justru menjadi titik terang yang bisa meredam tekanan pasar," kata Ekky kepada Bisnis, Senin (13/10/2025).

Persoalan stok kosong SPBU swasta akhirnya menemui titik terang usai diskusi panjang yang melibatkan pelaku usaha, kementerian hingga DPR. Pada Senin 6 Oktober, Pertamina mengabarkan bahwa AKR Corporindo sepakat untuk menindak lanjuti pembicaraan pembelian base fuel dari Pertamina.

Stok kosong SPBU swasta ini disebabkan derasnya permintaan, di mana pemerintah sebenarnya tahun ini telah menambah alokasi impor 10%. Karena stok habis, SPBU swasta mengajukan tambahan impor namun tak direstui Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM).

Sebagai solusi, pemerintah menawarkan pembelian base fuel ke Pertamina, namun hingga kini belum ada realisasi karena stok base fuel yang didatangkan Pertamina sebanyak 100.000 barel untuk swasta mengandung etanol 3,5%.

Sejalan dengan adanya titik terang dari kemelut stok BBM SPBU kosong ini, persepsi investor diharapkan membaik.

"Jika kerja sama ini terealisasi, AKRA akan memperoleh stabilitas pasokan yang lebih terjamin tanpa perlu bergantung pada mekanisme impor yang berisiko tinggi karena faktor regulasi dan fluktuasi harga global," ujarnya.

Secara keseluruhan, Ekky menyimpulkan bahwa isu stok langka SPBU BP-AKR hanya bersifat minor dan temporer. Setelah koreksi yang terjadi, dia menilai harga saham AKRA akan mulai menarik lagi untuk diakumulasi bertahap.

"Ini terutama jika negosiasi dengan Pertamina terealisasi dan distribusi kembali berjalan normal," pungkasnya.

Sementara itu, berdasarkan Bloomberg Terminal sebanyak 20 dari 21 analis (95,2%) merekomendasikan buy AKRA dengan target harga Rp1.582, menceminkan potensial return 43,8% dari harga Rp1.100. Dalam 12 bulan terakhir harga saham AKRA telah terpangkas 22,8%. Sisanya, 1 analis merekomendasikan hold AKRA.

Strategi Ekspansi AKRA

Sebelumnya, Direktur & Corporte Secretary AKRA Suresh Vembu mengatakan bahwa perseroan melihat peluang bisnis penjualan BBM secara ritel ke depan masih cukup besar, mengingat baru ada sekitar 8.000 SPBU di Indonesia yang melayani 280 juta penduduk, di mana partisipasi swasta hanya 3%.

Sementara bagi perseroan sendiri, pendapatan dari penjualan BBM menjadi salah satu dari sumber pendapatan dalam segmen perdagangan dan distribusi. Penjualan BBM ditujukan baik untuk B2B (suplai ke industri) maupun B2C (ritel).

Untuk perdagangan BBM ke industri, perseroan menyediakan jenis BBM seperti B40, biodiesel, dan bahan bakar ke industri-industri pengolahan sumber daya mineral, perkebunan, transportasi, hingga manufaktur.

Sementara itu untuk perdagangan BBM secara ritel, AKRA melalui hasil joint venture dengan British Petroleum (BP) memiliki jaringan 70 SPBU BP-AKR, yang tersebar di Jakarta sebanyak 23 SPBU, Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Bodetabek) sebanyak 30 SPBU, Bandung 4 SPBU, Surabaya 11 SPBU, dan di Malang 2 SPBU. SPBU ini menyediakan produk BBM seperti RON 92, RON 95, hingga diesel.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan semester I/2025, AKRA membukukan total pendapatan sebesar Rp21,42 triliun, naik dibandingkan dengan raihan pada periode yang sama semester I/2024 sebesar Rp18,65 triliun.

Dari total itu, segmen perdagangan dan distribusi mengumpulkan pendapatan Rp19,65 triliun sepanjang enam bulan pertama 2025, naik 13,65% secara tahunan (year-on-year/YoY) dari Rp17,29 triliun. Presentase kontribusi segmen ini ke total pendapatan juga naik dari 92,71% ke 91,74%.

“Di segmen B2C juga AKR tetap meningkatkan supply ke ritel dan juga ekspansi terus untuk SPBU-SPBU merek BP-AKR,” kata Suresh dalam online public expose beberapa waktu lalu.

Suresh bilang, segmen perdagangan dan distribusi menjadi salah satu pilar bisnis utama perseroan, selain kawasan industri Java Integrated Industrial & Port Estate (JIIPE) di Gresik Jawa Timur yang berstatus Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Sebagai pilar utama, dia mengatakan perseroan akan terus melakukan ekspansi jaringan perdagangan dan distribusi BBM, terutama dengan model bisnis B2C.

“Kalau strategi pada sisa tahun 2025 dan juga pada 2026, kami lihat yang di jaringan perdagangan dan distribusi AKR yang luas, kami tetap mau distribusi BBM ke industri-industri di Indonesia dan juga untuk bahan kimia dasar,” ujar Suresh.

____

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

#akra-saham #bbm-langka #spbu-swasta #akr-corporindo #investor-saham #harga-saham-akra #penurunan-harga-saham #pembelian-base-fuel #pertamina-akra #spbu-bp-akr #distribusi-bbm #ekspansi-akra #perdagang

https://market.bisnis.com/read/20251014/192/1919998/prospek-saham-akra-kala-bbm-langka