Tantangan Industri Baja Indonesia: Produksi Lemah, Banjir Impor
Industri baja Indonesia tertekan oleh impor murah dan rendahnya daya saing produksi, mengancam pertumbuhan ekonomi dan ketergantungan pada impor.
(Bisnis.Com) 29/05/26 16:02 235035
Bisnis.com, JAKARTA — Industri baja dinilai memegang peran krusial dalam ambisi Indonesia mengejar pertumbuhan ekonomi 8% melalui industrialisasi. Namun di tengah meningkatnya kebutuhan baja domestik, industri ini justru menghadapi tekanan berat akibat banjir impor murah hingga rendahnya daya saing biaya produksi.
Ekonom Core Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, baja bukan sekadar salah satu subsektor manufaktur, melainkan fondasi utama bagi hampir seluruh industri strategis nasional. Muai dari konstruksi, otomotif, galangan kapal, alat berat, infrastruktur hingga pertahanan sangat bergantung pada kekuatan industri baja domestik.
“Hampir tidak ada negara industri besar yang berhasil tumbuh tanpa industri baja yang kuat. Jepang, Korea Selatan, dan China menunjukkan pola yang sama. Industrialisasi mereka selalu diawali penguatan industri hulunya, terutama baja,” ujar Yusuf kepada Bisnis, Kamis (29/5/2026).
Dia menjelaskan, kondisi industri baja nasional saat ini cukup ironis. Di tengah meningkatnya kebutuhan baja akibat pembangunan infrastruktur, program tiga juta rumah, serta pengembangan kawasan industri, sejumlah pabrik baja nasional justru mulai menghentikan operasional.
Kondisi tersebut katanya menunjukkan kontradiksi dalam agenda industrialisasi nasional. Saat permintaan tumbuh, kapasitas produksi dalam negeri justru melemah sehingga ketergantungan terhadap impor semakin besar.
Yusuf menjelaskan, salah satu persoalan utama industri baja nasional adalah belum terintegrasinya rantai produksi hingga produk baja berkualitas tinggi seperti hot rolled coil (HRC) dan cold rolled coil (CRC) premium. Padahal, kebutuhan baja spesifikasi tinggi terus meningkat seiring perkembangan industri otomotif, alat berat, hingga manufaktur presisi.
Dia menjelaskan, baja untuk industri strategis membutuhkan standar teknis yang jauh lebih kompleks, mulai dari kandungan logam yang presisi, ketebalan yang konsisten, hingga kualitas permukaan yang stabil. Produksi baja jenis tersebut membutuhkan teknologi tungku dan proses rolling yang canggih serta investasi besar.
“Selama ini sebagian besar kapasitas baja nasional masih terkonsentrasi pada produk standar untuk kebutuhan konstruksi umum. Untuk grade tertentu seperti HRC alloy yang digunakan industri otomotif dan manufaktur presisi, impor masih sulit dihindari,” katanya.
Selain persoalan teknologi, industri baja domestik juga menghadapi tekanan struktural dari produsen global seperti China, Korea Selatan, dan India. Yusuf menyampaikan, skala produksi menjadi faktor utama yang membuat harga baja impor jauh lebih kompetitif dibandingkan produk lokal.
China, misalnya, memproduksi baja mendekati satu miliar ton per tahun sehingga mampu menciptakan efisiensi biaya produksi dalam skala besar. Sebagian kecil saja dari produksi China yang masuk ke Indonesia, disebut sudah mampu melampaui kapasitas produksi baja nasional.
Di sisi lain, produsen baja domestik masih dibebani tingginya harga gas industri serta mahalnya biaya logistik antarwilayah. Kondisi tersebut membuat industri baja nasional kalah efisien sejak awal dibandingkan kompetitor luar negeri.
“Ketika permintaan domestik di China melemah, kelebihan produksinya kemudian dibanjirkan ke pasar ekspor dengan harga sangat murah. Inilah yang memicu dugaan praktik dumping dan membuat pasar baja Indonesia sangat rentan,” jelasnya.
#industri-baja #impor-murah #baja-indonesia #industri-baja-indonesia #pertumbuhan-ekonomi #baja-domestik #daya-saing #baja-nasional #kebutuhan-baja #produksi-baja #industri-strategis #impor-baja #baja