SBY Cerita RI Keluar dari Krisis Keuangan 2008, Ingatkan Tekanan Fiskal Global

SBY Cerita RI Keluar dari Krisis Keuangan 2008, Ingatkan Tekanan Fiskal Global

SBY mengingatkan tantangan fiskal global dan pentingnya inovasi keuangan untuk pembangunan berkelanjutan, belajar dari krisis 2008 dengan menjaga kredibilitas kebijakan.

(Bisnis.Com) 02/06/26 15:07 237644

Bisnis.com, JAKARTA — Mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) RI ke-6 mengingatkan semakin beratnya tekanan terhadap keuangan negara di berbagai belahan dunia di tengah kebutuhan pembiayaan pembangunan yang terus meningkat.

Presiden periode 2014 sampai 2024 tersebut menilai tantangan tersebut menjadi salah satu hambatan utama dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

Dalam pidatonya pada Perbanas International Conference on Economics, Business, Management, Accounting, and IT (PROVISION) 2026, SBY menyoroti kondisi global yang diwarnai berbagai krisis, mulai dari perubahan iklim, fragmentasi ekonomi, hingga meningkatnya beban fiskal negara-negara berkembang.

"Kita juga melihat tekanan yang semakin besar terhadap keuangan publik. Banyak negara berkembang menghabiskan lebih banyak anggaran untuk pembayaran utang, sementara kebutuhan pembiayaan untuk kesehatan, pendidikan, infrastruktur, transisi energi, dan adaptasi iklim terus meningkat," ujar SBY saat pidato di Perbanas International Conference on Economics, Business, Management, Accounting, and IT (PROVISION) 2026, Selasa (2/6/2026).

Menurut dia, pembangunan berkelanjutan tidak cukup hanya ditopang oleh kebijakan yang baik dan implementasi yang efektif. Pembiayaan yang memadai dan berkelanjutan menjadi syarat utama agar berbagai program pembangunan dapat berjalan.

SBY menegaskan setiap negara saat ini menghadapi kenyataan yang sama, yakni kebutuhan investasi dalam jumlah besar untuk mendukung pembangunan infrastruktur, ketahanan pangan, layanan kesehatan, pendidikan, konektivitas digital hingga pengentasan kemiskinan.

"Pada saat yang sama, tekanan fiskal terus meningkat di seluruh dunia. Karena itulah inovasi keuangan menjadi sangat penting," katanya.

Meski demikian, dia mengingatkan bahwa inovasi di sektor keuangan tidak boleh mengabaikan aspek tata kelola dan integritas. Menurutnya, sektor keuangan harus berperan sebagai penggerak transformasi ekonomi yang berkelanjutan.

SBY menilai perbankan perlu memperkuat dukungan terhadap sektor-sektor produktif, sementara pasar modal harus lebih banyak mendorong investasi jangka panjang.

Di sisi lain, regulator keuangan dituntut menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus memberi ruang bagi inovasi.

Pengalaman Indonesia saat menghadapi krisis keuangan global 2008, lanjut SBY, menunjukkan pentingnya menjaga kredibilitas kebijakan dan kehati-hatian fiskal.

Saat itu, kata SBY, Indonesia mampu bertahan karena menjaga kepercayaan pasar melalui koordinasi kebijakan yang baik, permintaan domestik yang kuat, dan pengelolaan fiskal yang prudent.

"Kita belajar bahwa kredibilitas sangat penting. Di masa ketidakpastian, pasar tidak hanya mendengarkan angka-angka, tetapi juga kualitas tata kelola," ujarnya.

SBY menambahkan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, tidak bisa sekadar meniru strategi pembangunan negara maju.

Pemerintah harus mampu merancang kebijakan yang menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, stabilitas fiskal, transformasi digital, serta keberlanjutan lingkungan.

"Pembangunan berkelanjutan hanya dapat tercapai apabila kebijakan dijalankan dengan konsisten, praktik pembangunan dilakukan dengan integritas, dan pembiayaan dikelola secara bertanggung jawab," jelasnya.

#sby #susilo-bambang-yudhoyono #krisis-keuangan-2008 #tekanan-fiskal-global #pembangunan-berkelanjutan #pembiayaan-pembangunan #perubahan-iklim #fragmentasi-ekonomi #beban-fiskal #keuangan-publik #pemb

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260602/9/1977808/sby-cerita-ri-keluar-dari-krisis-keuangan-2008-ingatkan-tekanan-fiskal-global