OECD Pangkas Proyeksi Ekonomi Dunia, Ancaman Resesi Global Kembali Mengintai

OECD Pangkas Proyeksi Ekonomi Dunia, Ancaman Resesi Global Kembali Mengintai

OECD memangkas prospek pertumbuhan ekonomi global dalam laporan OECD Economic Outlook edisi Juni 2026.

(Kompas.com) 04/06/26 16:47 240108

JAKARTA, KOMPAS.com – Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memangkas prospek pertumbuhan ekonomi global dalam laporan OECD Economic Outlook edisi Juni 2026.

Lembaga tersebut memperingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah berpotensi menjadi sumber tekanan baru bagi perekonomian dunia, bahkan dapat mendorong sejumlah negara ke jurang resesi apabila gangguan pasokan energi terus berlangsung hingga 2027.

Dalam laporan bertajuk Under Pressure yang dipublikasikan pada Rabu (3/6/2026) itu, OECD menyebut dunia sebenarnya memasuki 2026 dengan kondisi yang relatif lebih kuat dibanding perkiraan sebelumnya.

Freepik Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.

Aktivitas ekonomi global menunjukkan ketahanan yang didukung investasi besar pada kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI), kondisi keuangan yang akomodatif, serta meredanya ketegangan perdagangan internasional.

Namun, situasi berubah setelah konflik di Timur Tengah mengganggu pasokan energi dan berbagai komoditas penting dunia.

"Konflik di Timur Tengah telah menjadi kekuatan dominan yang membentuk prospek ekonomi global," tulis OECD dalam laporannya.

Menurut OECD, gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz serta kerusakan infrastruktur energi telah memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan biaya pupuk maupun bahan baku industri lainnya.

Kenaikan biaya tersebut mulai mendorong inflasi, menekan kepercayaan konsumen dan dunia usaha, serta menghambat aktivitas ekonomi di berbagai negara.

SHUTTERSTOCK/NUMBER1411 Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dua skenario ekonomi dunia

Karena tingkat ketidakpastian yang sangat tinggi, OECD tidak hanya menyajikan satu proyeksi ekonomi global. Lembaga tersebut menyiapkan dua skenario yang menggambarkan kemungkinan arah perekonomian dunia dalam 18 bulan ke depan.

Skenario pertama adalah time-limited disruption scenario, yakni gangguan yang relatif singkat dengan asumsi tercapainya perdamaian yang berkelanjutan dan harga energi mulai turun secara bertahap sejak pertengahan 2026.

Dalam skenario ini, produksi dan perdagangan energi dari kawasan Teluk kembali mendekati kondisi normal mulai kuartal III 2026.

Pada skenario tersebut, OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi global melambat dari 3,4 persen pada 2025 menjadi 2,8 persen pada 2026 sebelum kembali menguat menjadi 3,1 persen pada 2027.

Inflasi negara-negara G20 diproyeksikan meningkat menjadi 4 persen pada 2026 dari 3,4 persen pada 2025 sebelum turun menjadi 3,1 persen pada 2027.

Namun, OECD juga menyiapkan skenario yang jauh lebih suram, yaitu prolonged disruption scenario. Dalam skenario ini, konflik dan gangguan terhadap produksi serta ekspor energi dari kawasan Teluk berlangsung hingga paruh kedua 2027.

Akibatnya, harga energi dan pupuk bertahan tinggi dalam jangka panjang, kondisi keuangan menjadi lebih ketat, sementara kepercayaan rumah tangga dan dunia usaha terus melemah.

OECD memperingatkan, dalam kondisi tersebut pertumbuhan ekonomi global hanya mencapai 2,1 persen pada 2026 dan turun lagi menjadi 1,8 persen pada 2027.

Situasi tersebut berpotensi menyeret sejumlah negara ke dalam resesi atau setidaknya berada sangat dekat dengan kondisi resesi.

"Jika gangguan tersebut berlanjut hingga tahun 2027, pertumbuhan global diperkirakan akan melambat secara signifikan, hanya menjadi 2,1 persen pada tahun 2026 dan 1,8 persen pada tahun 2027, yang berpotensi mendorong beberapa perekonomian ke dalam atau mendekati resesi," ungkap OECD.

AFP/FRED TANNEAU Komandan Perancis Thomas Scalabre saat menunjuk posisi kapal-kapal di Selat Hormuz, dalam layar di MICA (Maritime Information and Cooperation Awareness) di Brest, Perancis, 27 April 2026.

Konflik Timur Tengah menjadi sumber tekanan baru

OECD menjelaskan, konflik yang berlangsung di Timur Tengah tidak hanya menimbulkan dampak kemanusiaan, tetapi juga menguji ketahanan ekonomi global.

Kawasan Teluk memiliki posisi yang sangat penting dalam rantai pasok energi dan berbagai komoditas strategis dunia.

Gangguan terhadap produksi dan ekspor minyak serta gas menyebabkan pasokan global menyusut secara signifikan. OECD mencatat pasokan minyak dunia turun 13,5 persen antara Februari dan April 2026.

Produksi minyak negara-negara Teluk bahkan merosot 45 persen pada April 2026.

Selain itu, ekspor LNG dari kawasan tersebut juga terhenti akibat kerusakan fasilitas produksi utama, khususnya di Qatar.

Tidak hanya energi, konflik juga mengganggu pasokan berbagai bahan baku industri seperti sulfur, helium, pupuk, dan petrokimia.

Akibatnya, harga berbagai komoditas melonjak tajam sejak Februari 2026, terutama di pasar Asia yang memiliki ketergantungan besar terhadap impor dari Timur Tengah.

OECD mencatat, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz masih jauh di bawah kondisi normal meskipun gencatan senjata telah diberlakukan sejak April 2026.

Aktivitas penerbangan komersial di sejumlah pusat penerbangan utama kawasan Teluk juga belum pulih sepenuhnya. Kondisi tersebut memicu kemacetan rantai pasok dan meningkatkan biaya logistik global.

Asia menjadi wilayah paling rentan

PIXABAY/TED ERSKI Ilustrasi kapal tanker. Jalur perdagangan minyak tersibuk di dunia.

Laporan OECD menunjukkan, negara-negara Asia menjadi kelompok yang paling rentan terhadap gangguan energi dari Timur Tengah.

Ketergantungan yang tinggi terhadap impor energi membuat kawasan ini menghadapi risiko lebih besar apabila konflik berlangsung lebih lama.

"Banyak perekonomian Asia yang paling langsung terpapar guncangan ini mengingat ketergantungan mereka pada impor dari Timur Tengah," tulis OECD.

Selain ketergantungan terhadap energi, banyak negara Asia juga bergantung pada berbagai produk turunan energi dan bahan baku industri dari kawasan Teluk.

OECD menyebut kawasan tersebut merupakan pemasok utama helium, sulfur, amonia, urea, aluminium, hingga berbagai bahan kimia yang digunakan dalam industri manufaktur global.

Krisis yang berkepanjangan berpotensi memicu kekurangan pasokan berbagai komoditas tersebut sehingga mengganggu rantai produksi di banyak sektor.

OECD juga memperingatkan bahwa semakin lama konflik berlangsung, semakin besar kemungkinan gangguan menjalar ke berbagai rantai pasok karena banyak produk yang sulit digantikan dalam waktu singkat.

Ancaman terhadap investasi AI

Salah satu perbedaan utama antara kondisi ekonomi global saat ini dan krisis sebelumnya adalah peran AI sebagai motor pertumbuhan baru.

OECD mencatat, sebelum konflik meningkat, investasi dan perdagangan terkait AI menjadi salah satu faktor yang menopang ekonomi global, terutama di Asia.

Produksi semikonduktor yang meningkat di China, Korea Selatan, Jepang, dan berbagai negara Asia lainnya turut mendorong perdagangan internasional serta aktivitas manufaktur.

OECD bahkan menyebut bahwa investasi terkait AI menjadi salah satu alasan mengapa ekonomi dunia memasuki 2026 dengan momentum yang relatif kuat.

F5 Ilustrasi AI.

Namun, OECD mengingatkan krisis energi dapat menghambat perkembangan tersebut. Dalam skenario gangguan berkepanjangan, investasi AI berisiko melambat karena infrastruktur AI membutuhkan pasokan energi yang besar serta komponen teknologi yang bergantung pada bahan baku tertentu dari kawasan Teluk.

"Investasi, termasuk dalam AI yang boros energi, akan melemah secara signifikan," tulis OECD ketika menjelaskan dampak dari skenario gangguan berkepanjangan.

Inflasi kembali menjadi ancaman

Selain menekan pertumbuhan ekonomi, OECD memperkirakan konflik Timur Tengah akan memicu kenaikan inflasi global. Dalam skenario dasar, inflasi negara-negara G20 diproyeksikan naik menjadi 4 persen pada 2026 sebelum kembali menurun pada 2027.

Sementara itu, dalam skenario gangguan berkepanjangan, inflasi global diperkirakan lebih tinggi lagi. OECD memperkirakan inflasi dunia meningkat tambahan 0,4 poin persentase pada 2026 dan 1,3 poin persentase pada 2027 dibandingkan skenario dasar.

Kenaikan harga energi dan komoditas menjadi faktor utama yang mendorong inflasi. Pada saat yang sama, pelemahan permintaan akibat perlambatan ekonomi hanya mampu meredam sebagian tekanan harga tersebut.

Risiko terbesar bagi negara berkembang

OECD menilai dampak ekonomi dari konflik tidak akan dirasakan secara merata. Negara berkembang yang bergantung pada impor energi diperkirakan menghadapi risiko paling besar karena memiliki kapasitas fiskal yang lebih terbatas untuk melindungi rumah tangga dan dunia usaha.

"Konsekuensinya akan bersifat global tetapi bisa terbukti sangat parah bagi negara-negara berkembang dengan cadangan energi yang terbatas, porsi energi dan pangan yang lebih tinggi dalam konsumsi rumah tangga, kapasitas fiskal yang terbatas dan jaring pengaman sosial yang lemah, cadangan tabungan swasta yang rendah dan mata uang yang lebih rapuh," terang OECD.

Di tengah ketidakpastian tersebut, OECD menekankan prospek ekonomi dunia akan sangat bergantung pada perkembangan konflik dan keberhasilan upaya mencapai perdamaian yang berkelanjutan di Timur Tengah.

Menurut OECD, semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar pula biaya ekonomi dan sosial yang harus ditanggung dunia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#resesi #pertumbuhan-ekonomi #ekonomi-dunia #perekonomian-dunia #oecd #indepth

https://money.kompas.com/read/2026/06/04/164728926/oecd-pangkas-proyeksi-ekonomi-dunia-ancaman-resesi-global-kembali-mengintai