Serapan Tambahan Saham Free Float Diadang Tekanan Jual, BEI Berikan Kelonggaran?
BEI menghadapi tantangan aksi jual saat emiten berusaha memenuhi ketentuan free float 15% hingga 2029. BEI rencanakan roadshow untuk menarik investor.
(Bisnis.Com) 04/06/26 19:22 240319
Bisnis.com, JAKARTA – Emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) mendapat tantangan dari aksi jual di pasar ketika ingin memenuhi kewajiban free float.
Dalam regulasi terbaru, BEI mengatur bagi emiten dengan market cap kurang dari Rp5 triliun, wajib memenuhi saham free float 12,5% paling lambat 31 Maret 2027 dan 15% paling lambat pada 31 Maret 2028. Emiten yang sudah memiliki free float 12,5%-15%, wajib memenuhi ketentuan free float 15% paling lambat pada 31 Maret 2027.
Sementara itu, emiten dengan kapitalisasi pasar di bawah Rp5 triliun wajib melakukan pemenuhan saham free float 15% paling lambat pada 31 Maret 2029.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Februari 2026 masih terdapat 267 emiten yang belum memiliki free float 15%. Dari jumlah tersebut, 49 di antaranya merupakan emiten besar dengan kontribusi 90% terhadap total market cap.
Pjs. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan bahwa keputusan memberikan waktu pelonggaran tenggat waktu penyesuaian free float masih terlalu dini. Walau IHSG telah terpangkas lebih dari 30% sejak awal tahun, menurutnya masih ada waktu bagi emiten untuk memenuhi batas free float.
"Mungkin sekarang terlalu dini untuk kita putuskan karena masih ada 10 bulan, kita masih on the track bekerja bersama dengan asosiasi, maupun langsung dengan emiten tertentu untuk bersama-sama mengupayakan pemenuhan itu," kata Jeffrey saat ditemui di Gedung BEI Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Pada kesempatan yang sama, Direktur Penilaian Bursa Efek Indonesia I Gede Nyoman Yetna mengatakan pihaknya telah mempertimbangkan aspek serapan pasar. Untuk itu, BEI berencana melakukan roadshow untuk "menjajakan" saham-saham Indonesia kepada para investor.
"Kita sudah merencanakan untuk melakukan yang namanya roadshow, untuk menarik demand side, baik di internal domestik kita, maupun ke luar negeri. Kami sudah bertemu dengan beberapa stock exchanges di luar, untuk kita bisa kerja sama, termasuk dari sisi brokerage firm asing untuk kita bisa memperkenalkan perusahaan tercatat kita ke mereka sehingga bisa menarik investor," jelas Nyoman.
Sebelumnya, Direktur Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Gilman Pradana menerangkan emiten sebetulnya tengah menjalankan berbagai upaya untuk memenuhi ketentuan baru free float 15%. Kini, emiten tengah menimbang upaya menggenjot free float di tengah tenggat waktu yang ditentukan Bursa dan kondisi pasar saham yang lesu.
"Tapi memang semua akan bergantung juga sama situasi market sekarang,” kata Gilman.
Gilman menerangkan bahwa lesunya kinerja pasar saham saat ini bakal membuat emiten untuk cenderung wait and see dalam menjajakan saham mereka di pasar. Gilman menyoroti ihwal daya serap pasar di tengah kondisi penuh sentimen hari ini. Meskipun begitu, Gilman menyebut perusahaan tetap aktif mencari jalan keluar agar dapat memenuhi aturan free float tepat waktu.
”Makanya orang juga akan wait and see dulu juga kalau dia mau ambil aksi. Di satu sisi, ini kan kita ada kewajiban semua untuk menaikkan free float, otomatis berarti kan ada buyers game. Orang kan pilah-pilih saham, enggak semuanya diambil juga,” tandasnya.
#free-float #saham-free-float #bei #bursa-efek-indonesia #emiten #market-cap #kapitalisasi-pasar #investor #ihsg #roadshow #serapan-pasar #tekanan-jual #pelonggaran-tenggat #emiten-besar #daya-serap-pa