Kemenkeu Prediksi Penerimaan Pajak 2026 Tak Sampai Target Rp2.357,7 Triliun
Kemenkeu memprediksi penerimaan pajak 2026 tak capai target Rp2.357,7 triliun, meski pertumbuhan diproyeksikan 20,5% dari Rp1.917,6 triliun di 2025.
(Bisnis.Com) 05/06/26 17:21 241352
Bisnis.com, JAKARTA — Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (DJP Kemenkeu) menargetkan penerimaan pajak sepanjang 2026 tumbuh 20,5% (yoy) dibandingkan akhir 2025 yakni Rp1.917,6 triliun. Artinya, otoritas fiskal memprakirakan penerimaan pajak tak mencapai target APBN tahun ini yaitu Rp2.357,7 triliun.
Sebab, otoritas harus mengejar pertumbuhan penerimaan pajak sebesar 22,9% (yoy) pada 2026 untuk bisa mencapai target Rp2.357,7 triliun dari realisasi akhir 2025 Rp1.917,6 triliun. Realisasi sampai akhir tahun lalu itu hanya 87,6% dari target.
Pada konferensi pers APBN KiTa edisi Juni 2026, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa bertanya kepada Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto ihwal target pertumbuhan penerimaan pajak sampai akhir 2026. Bimo menyebut otoritas pajak memprakirakan pertumbuhan sampai 20,5% (yoy) untuk sepanjang tahun ini.
"[Target pertumbuhan pajak sepanjang 2026] 20,5%, tetapi kami coba dorong ke level yang lebih positif," ujar Purbaya di Aula Mezzanine, Gedung Juanda Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Kendati demikian, perlu diakui bahwa target pertumbuhan 20,5% (yoy) tahun ini sudah lebih tinggi dari realisasi akhir 2025. Sebab, realisasi penerimaan pajak sampai akhir tahun lalu terkontraksi hingga 0,7% (yoy)
Sampai dengan akhir Mei 2026, APBN membukukan penerimaan pajak sebesar Rp834,4 triliun atau tumbuh 22,1% (yoy) dibandingkan Mei 2025 sebesar Rp683,3 triliun.
Pertumbuhan penerimaan pajak ini lebih tinggi dari April 2026 yakni 16,1% (yoy). "Ada perbaikan signifikan di pajak dibandingkan kondisi di tahun lalu," kata Purbaya.
Secara terperinci, hampir seluruh jenis penerimaan pajak tumbuh positif sampai akhir Mei. PPh badan dan deposit PPh Badan terealisasi Rp167,7 triliun atau tumbuh 23,9% (yoy).
PPh Orang Pribadi dan PPh 21 terealisasi Rp123,1 triliun atau tumbuh 26% (yoy). Sementara itu, PPh Final, PPh 22 dan PPh 26 terkumpul Rp138,7 triliun atau tumbuh 5,2% (yoy).
Adapun pertumbuhan pajak tertinggi di sektor konsumsi yakni PPN dan PPnBM yakni 41,3% (yoy) atau terealisasi Rp315,7 triliun. Pajak lainnya terkumpul Rp89,3 triliun atau tumbuh negatif 6% (yoy).
Secara sektoral, perdagangan berkontribusi terbesar 25,5% dan tumbuh tertinggi 52,4% (yoy). Industri pengolahan berkontribusi 23,6% dan tumbuh 19,7% (yoy), pertambangan menyumbang 9,1% dan tumbuh 28,2% (yoy), serta pengangkutan dan pergudangan berkontribusi 4,6% dan tumbuh 16,8% (yoy).
Keseluruhan penerimaan negara terealisasi Rp1.185 triliun atau tumbuh 19,1% (yoy). Selain pajak, bea dan cukai juga melanjutkan pertumbuhan positif dari April, setelah sepanjang kuartal I/2026 terkontraksi dalam. Realisasinya mencapai Rp123,8 triliun atau tumbuh 0,7% (yoy).
Adapun PNBP sudah terealisasi Rp226,4 triliun dan tumbuh dua digit yakni 19,9% (yoy).
Di sisi lain keseluruhan belanja negara tercatat sebesar Rp1.365,4 triliun atau tumbuh 34,4% (yoy). Purbaya menyebut pertumbuhan tinggi itu sejalan dengan strategi pemerintah untuk menyamaratakan belanja sepanjang tahun.
Dengan demikian, defisit tercatat Rp180,4 triliun atau 0,7% terhadap PDB.
Kemudian, keseimbangan primer tercatat sebesar surplus Rp58,6 triliun. Ini melanjutkan tren positif akhir April lalu setelah sepanjang kuartal I/2026 defisit.
Artinya, pemerintah tidak menerbitkan utang baru untuk memenuhi kewajibannya pada Mei 2026 termasuk untuk pembayaran bunga utang.
#penerimaan-pajak #target-pajak-2026 #pertumbuhan-pajak #apbn-2026 #purbaya-yudhi-sadewa #bimo-wijayanto #pajak-indonesia #realisasi-pajak-2025 #pph-badan #pph-orang-pribadi #ppn-dan-ppnbm #sektor-perd