OJK-BEI Tegaskan Fundamental Emiten Solid, 80% Raih Laba
BEI dan OJK tegaskan fundamental emiten solid, 80% raih laba Q1 2026. Emiten LQ45 tumbuh 29,9%, tertinggi 5 tahun. Investor diimbau fokus analisis fundamental.
(Bisnis.Com) 06/06/26 09:21 241814
Bisnis.com, JAKARTA — Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan fundamental perusahaan-perusahaan tercatat masih kuat di tengah tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pelaksana Tugas (Pjs.) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan emiten yang tergabung dalam indeks LQ45 mencatat rata-rata pertumbuhan laba bersih sebesar 29,9% pada kuartal I/2026. Kinerja tersebut menjadi salah satu indikator bahwa kondisi fundamental korporasi di pasar modal Indonesia masih terjaga.
“Dalam kuartal I/2026, emiten-emiten LQ45 mencatat rata-rata pertumbuhan laba bersih sebesar 29,9%,” ujar Jeffrey saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Tidak hanya dari sisi pertumbuhan laba, mayoritas perusahaan tercatat juga masih mampu membukukan keuntungan. Jeffrey mengungkapkan sekitar 80% emiten di Bursa berhasil mencatatkan laba bersih pada kuartal pertama tahun ini.
Menurutnya, capaian tersebut merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir. Sebagai perbandingan, pada 2020 hanya sekitar 63% perusahaan tercatat yang membukukan laba bersih. Kemudian pada periode 2021 hingga 2025, persentasenya berada di kisaran 73% hingga 76%.
“Kuartal I/2026 ada 80% perusahaan tercatat yang membukukan laba bersih. Ini adalah persentase tertinggi dalam lima tahun terakhir,” katanya.
Jeffrey menilai data tersebut menunjukkan bahwa kondisi fundamental emiten Indonesia masih relatif sehat meskipun pasar saham sedang menghadapi tekanan yang cukup besar.
Karena itu, BEI mengimbau investor untuk tetap mengedepankan analisis fundamental dalam mengambil keputusan investasi dan tidak hanya berfokus pada pergerakan harga saham jangka pendek.
“Kami tentu tidak bosan-bosannya mengingatkan investor untuk mengambil keputusan investasi secara rasional, memperhatikan fundamental, dan berinvestasi sesuai profil risiko masing-masing,” ujarnya.
Dari sisi kebijakan, Jeffrey menegaskan sejumlah langkah stabilisasi pasar yang diterapkan BEI sebelumnya masih berlaku hingga saat ini.
Beberapa kebijakan tersebut antara lain ketentuan buyback saham tanpa persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) serta penundaan pelaksanaan short selling atau larangan transaksi short selling.
Menurutnya, kebijakan tersebut tetap menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas pasar di tengah volatilitas yang masih tinggi.
Dalam kesempatan yang sama, Jeffrey juga membantah informasi yang beredar di media sosial mengenai kemungkinan Indonesia diturunkan oleh MSCI dari kategori emerging market menjadi frontier market.
Ia menegaskan hingga saat ini tidak ada keputusan seperti yang beredar di media sosial tersebut.
“Terkait MSCI, yang dapat kami sampaikan adalah dari hal-hal konkret yang sudah kami lakukan, kami memiliki ekspektasi yang sangat tinggi bahwa Indonesia akan tetap berada di emerging market,” katanya.
Kinerja Emiten Kuartal I/2026
- Rata-rata pertumbuhan laba bersih emiten LQ45: 29,9%
- Emiten yang membukukan laba bersih: 80%
- Persentase tertinggi dalam 5 tahun terakhir
- Persentase emiten laba bersih pada 2020: 63%
- Persentase emiten laba bersih periode 2021–2025: 73%-76%
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan kondisi fundamental pasar modal Indonesia masih terjaga meskipun kinerja IHSG mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan sejumlah indikator utama pasar modal domestik masih menunjukkan kondisi yang relatif baik di tengah volatilitas yang meningkat.
Menurut Hasan, hal tersebut tercermin dari nilai transaksi dan likuiditas pasar saham yang masih terjaga pada level tinggi. Adapun, rata-rata spread bid dan ask pada Mei 2026 terjaga di tingkat yang rendah pada level 1,5%. Hal ini dinilai mencerminkan likuiditas pasar yang masih terjaga dengan baik.
"Tentu di tengah dinamika dan tekanan pasar tersebut, kami juga dapat menyampaikan bahwa sebetulnya secara fundamental pasar modal Indonesia dan juga kinerja emiten secara umum tercatat masih menunjukkan angka-angka yang baik," katanya dalam konferensi pers hasil RDKB OJK, Jumat (5/6/2026).
Selain dari sisi aktivitas pasar, OJK juga melihat kinerja korporasi masih menunjukkan pertumbuhan yang positif. Berdasarkan laporan keuangan emiten periode kuartal I/2026, perusahaan tercatat diklaim masih membukukan laba dan mempertahankan pertumbuhan kinerja.
Hasan menjelaskan secara agregat laba emiten pada tiga bulan pertama tahun ini masih tumbuh lebih dari 21% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Capaian tersebut menunjukkan fundamental perusahaan terbuka masih cukup solid meskipun menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan pasar.
Hasan berharap, investor dapat memperhatikan data historis kinerja emiten hingga mencermati proyeksi dan perhitungan konsensus kinerja emiten ke depan, untuk menilai fundamental suatu perusahaan.
OJK berharap investor dapat mempertimbangkan berbagai informasi fundamental secara rasional, termasuk konsensus proyeksi kinerja perusahaan, dengan tetap memperhitungkan berbagai risiko yang berkembang di pasar.
”Tentu dengan mempertimbangkan berbagai risiko yang berkembang sebagai dampak dari berbagai faktor yang terjadi, ini yang kita harapkan terus menjadi bagian pertimbangan rasional untuk strategi investasi para investor ke depannya," katanya.
#emiten-solid #fundamental-emiten #laba-bersih-emiten #pertumbuhan-laba-bersih #emiten-lq45 #kinerja-emiten #pasar-modal-indonesia #ojk-bei #stabilitas-pasar #investor-saham #analisis-fundamental #buyb