Yield SBN Tembus 7,31%, Kekhawatiran Fiskal Bayangi Pasar Obligasi RI
Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia tembus ke 7,31% dibayangi kekhawatiran investor terhadap kebijakan fiskal dan risiko defisit.
(Bisnis.Com) 09/06/26 12:20 244553
Bisnis.com, JAKARTA – Investor kembali melanjutkan aksi jual Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Data Investing.com pagi ini, menunjukkan imbal hasil surat utang RI telah bertengger di level 7,31%, melanjutkan pelemahan dari level 7,14% pada perdagangan kemarin.
Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto, menilai kondisi ini dapat dibaca sebagai ketidaknyamanan investor terhadap iklim investasi di dalam negeri.
Pasalnya, kondisi perang Iran—AS, kendati memanaskan harga minyak dan membuat investor bersikap risk-off terhadap pasar emerging market, tidak memberikan tekanan sama besarnya terhadap negara-negara lain di kawasan.
”Walaupun regulator sudah mengantisipasi, bahkan Sabtu kemarin mereka keluarkan statement, kondisi baik-baik saja, makro terkendali. Cuma itu tadi, kondisi ini, belum ada yang membuat kenyamanan bagi investor untuk bertahan di pasar kita, terutama dari asing,” katanya kepada Bisnis, Selasa (9/6/2026).
Ramdhan menilai, berbagai statement pemerintah untuk menenangkan kondisi pasar yang lesu, belum cukup kuat untuk mendulang kepercayaan investor asing. Investor dinilai menyoroti kebijakan fiskal pemerintah RI hingga risiko defisitnya.
Sementara terhadap investor institusi domestik, Ramdhan menilai kondisi ini belum membuat investor melakukan aksi jual terhadap SBN. Investor institusi, terutama reksa dana maupun dana pensiun, dinilai masih wait and see untuk kembali masuk ke pasar.
”Itu kan bahasa diplomatis ya, bahasa politis. Cuma secara kebijakan belum terlihat kebijakan yang bisa membuat investor nyaman di pasar kita,” katanya.
Di satu sisi, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual, menilai kondisi kenaikan yield acuan sebetulnya dialami oleh banyak negara lain di dunia. India misalnya, kini memiliki imbal hasil 6,94%, Filipina 7,48%, atau Meksiko sebesar 9,15%.
Meskipun begitu, sentimen domestik turut dinilai mempengaruhi pergerakan ini. David menyoroti soal keraguan investor mengenai keberlanjutan kebijakan fiskal RI.
”Apalagi mungkin keberlanjutan kebijakan fiskal kita dipertanyakan karena sampai saat ini masih aman katanya [pemerintah], sampai US$100 kalau minyak tidak berubah ya. Tapi inflasi sebenarnya sejauh ini kita masih lumayan stabil,” kata David.
Di tengah kondisi melemahnya yield acuan, David menerangkan terdapat risiko beban bunga yang meningkat di dalam postur fiskal pemerintah.
Pemerintah dinilai penting untuk menjaga inflasi dan berbagai kebijakan yang bernada reformis, meskipun Bank Indonesia turut melakukan intervensi di pasar SBN, yang dinilai berpotensi memberikan tenaga tambahan bagi imbal hasil RI.
”Makanya kuncinya kita harus jaga inflasi. Ya policy-policynya juga harus, ya basically reformnya terus dijalankan lah,” katanya.
Selain yield acuan pada tenor 10 tahun, pasar SBN RI juga kini tengah dibayangi fenomena inverted yield curve. Fenomena ini menunjukkan grafik imbal hasil yang terbalik, dengan tenor pendek turut menanjak melebihi tenor acuan atau tenor panjang.
Data Investing.com, menunjukkan posisi imbal hasil SBN 1 tahun kini telah terparkir di level 7,22% atau mengalami kenaikan 44,68% dari posisi 4,99%. Jika kondisi ini berlanjut, Indonesia bakal memasuki fenomena inverted yield curve.
David menilai, kondisi inverted yield curve sebetulnya cukup wajar. Terutama di tengah ketidakpastian yang tinggi, investor dinilai lebih menyukai tenor pendek.
”Berarti ada ekspektasi di pasar bahwa ada perlambatan ekonomi ke depan. Biasanya begitu. Kalau orang larinya ke tenor pendek berarti ada ekspektasi dan belum tentu kejadian juga. Tapi ada probabilitas ke sana, itu kenapa mereka lari ke yield curve-nya itu makanya sedikit meningkat ya yang jangka pendek,” tambahnya.
Di tengah kondisi ini, pemerintah dinilai mesti menyiapkan berbagai skenario dan melakukan stress test untuk menghindari defisit fiskal mendekati atau mencapai 3%.
Di satu sisi, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian, menilai kenaikan imbal hasil acuan SBN RI justru sebagai perkembangan positif. Menurutnya, setelah periode panjang kurva imbal hasil bergerak datar, pasar kini mulai kembali ke arah yang mencerminkan harga dari risiko yang sebenarnya.
”Selama beberapa bulan terakhir, kita melihat kondisi yang tidak normal. Kurva imbal hasil terlalu datar dan tidak sepenuhnya mencerminkan risiko yang sedang dihadapi perekonomian Indonesia maupun kondisi global. Kenaikan yield saat ini justru merupakan proses pemulihan fungsi pasar yang sehat,” katanya dalam keterangan resminya, Selasa (9/6/2026).
Justru, kondisi sebagian besar tenor SBN telah bergerak di atas 7%, sebagai hal yang positif lantaran dapat membuat pasar RI lebih kompetitif. Investor dinilai membutuhkan kompensasi risiko yang memadai.
Bahkan, bukan tidak mungkin penyesuaian yield itu terus terjadi hingga pasar mencapai titik keseimbangan yang baru.
Di tengah kondisi ini, yang terpenting menurutnya bukan mempertahankan biaya pendanaan lebih rendah, melainkan memastikan pasar keuangan RI kembali berfungsi secara kredibel.
”Biaya bunga yang sedikit lebih tinggi, sering kali jauh lebih murah dibandingkan biaya yang harus ditanggung ketika rupiah mengalami pelemahan berlebihan,” katanya.
Meskipun begitu, kenaikan yield belum cukup untuk mengembalikan kepercayaan investor. Faktor yang lebih penting, katanya, komunikasi yang jelas mengenai arah kebijakan fiskal pemerintah ke depan.
Bahkan, dia menilai, pemerintah perlu melakukan penyesuaian dan transformasi terhadap berbagai program belanja negara, termasuk evaluasi menyeluruh terhadap MBG.
”Pasar membutuhkan keyakinan bahwa seluruh program prioritas pemerintah dapat dijalankan secara berkelanjutan tanpa mengurangi kredibilitas fiskal Indonesia,” katanya.
Ke depan, Fakhrul menilai kombinasi normalisasi yield obligasi, perbaikan kurva imbal hasil, stabilisasi rupiah, dan penyesuaian fiskal yang kredibel, bakal mendorong kembali masuknya dana asing ke RI.
”Pada akhirnya, investor tidak mencari yield yang rendah. Investor mencari negara yang kredibel, pasar yang berfungsi, dan kebijakan yang konsisten,” tambahnya.
#yield-sbn #pasar-obligasi-ri #imbal-hasil-surat-utang #investor-asing #kebijakan-fiskal-ri #risiko-defisit #inverted-yield-curve #pasar-sekunder #emerging-market #inflasi-indonesia #risiko-ekonomi #te