ASII dan ASRI Rancang Strategi Hadapi Kenaikan BI Rate ke 5,5%

ASII dan ASRI Rancang Strategi Hadapi Kenaikan BI Rate ke 5,5%

Kenaikan BI Rate ke 5,5% mendorong ASII dan ASRI memperkuat strategi bisnis. Biaya pendanaan yang lebih tinggi dinilai berpotensi menekan daya beli masyarakat.

(Bisnis.Com) 10/06/26 18:51 246363

Bisnis.com, JAKARTA — PT Astra International Tbk. (ASII) dan PT Alam Sutera Realty Tbk. (ASRI) mulai menyiapkan strategi menghadapi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) ke level 5,5%. Kedua emiten menilai biaya pendanaan yang lebih tinggi berpotensi menekan daya beli masyarakat sehingga mendorong perusahaan lebih berhati-hati dalam menjaga pertumbuhan bisnis.

Kenaikan suku bunga tersebut menjadi perhatian bagi sektor-sektor yang sangat bergantung pada pembiayaan, seperti otomotif, jasa keuangan, dan properti.

Head of Corporate Investor Relations Astra International Tira Ardianti mengatakan secara umum suku bunga yang lebih tinggi dapat memengaruhi daya beli konsumen dan biaya pendanaan di sejumlah sektor usaha. Meski demikian, dampaknya terhadap kinerja grup dinilai tidak akan seragam mengingat Astra memiliki portofolio bisnis yang terdiversifikasi.

"Terkait kenaikan BI Rate, secara umum suku bunga yang lebih tinggi dapat memengaruhi daya beli konsumen dan biaya pendanaan di beberapa sektor. Namun, dampaknya terhadap masing-masing lini bisnis Perseroan dapat berbeda-beda mengingat Astra memiliki portofolio usaha yang terdiversifikasi," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (10/6/2026).

Menurut Tira, bisnis otomotif dan jasa keuangan menjadi segmen yang paling rentan terhadap kenaikan suku bunga karena erat kaitannya dengan pembiayaan konsumen.

Dalam mengantisipasi risiko tersebut, perseroan mengandalkan penguatan manajemen risiko pada lini pembiayaan. Tira menjelaskan bisnis jasa keuangan perseroan akan fokus menjaga kualitas aset, profitabilitas, serta mengelola biaya pendanaan secara disiplin.

Selain itu, perusahaan juga memperketat prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan guna menjaga kualitas portofolio kredit di tengah ketidakpastian ekonomi.

Di sektor properti, kehati-hatian yang sama juga mulai terlihat.

Direktur Corporate Finance Alam Sutera Realty Edward Tanuwijaya mengatakan kenaikan suku bunga dan ketidakpastian ekonomi membuat perusahaan harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan laju penjualan.

"Keadaan pasar bisa dibilang mirip-mirip dengan tahun lalu untuk Alam Sutera. Kami masih fokus pada strategi marketing sales yang sama," katanya.

Untuk menjaga pertumbuhan penjualan, Alam Sutera mengandalkan strategi diversifikasi produk dengan fokus pada penjualan rumah dan rumah toko di berbagai rentang harga.

Selain mengandalkan penjualan properti, perseroan juga terus memperkuat sumber pendapatan berulang (recurring income) yang berasal dari penyewaan gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, hingga pengelolaan kawasan wisata Garuda Wisnu Kencana (GWK).

Di tengah tantangan suku bunga tinggi, Alam Sutera juga berharap pemerintah tetap menjaga keberlanjutan kebijakan yang mendukung sektor properti, termasuk insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) yang selama ini menjadi pendorong permintaan rumah di pasar primer.

_____

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

#suku-bunga #bi-rate #astra #asii #asri #alam-sutera #rekomendasi-saham #saham-properti #saham-otomotif #otomotif #properti #dampak-suku-bunga

https://market.bisnis.com/read/20260610/7/1980009/asii-dan-asri-rancang-strategi-hadapi-kenaikan-bi-rate-ke-55