Saat Wisata Pendakian Jadi Jalan Memulihkan Hutan Gunung Prau

Saat Wisata Pendakian Jadi Jalan Memulihkan Hutan Gunung Prau

Warga Patakbanteng memanfaatkan wisata pendakian Gunung Prau untuk membeli bibit dan memulihkan hutan yang sempat rusak.

(Kompas.com) 12/06/26 16:02 248476

WONOSOBO, KOMPAS.com- Kawasan kaki Gunung Prau di Desa Patakbanteng, Kecamatan Kejajar, Wonosobo, Jawa Tengah, sempat kehilangan sebagian tutupan hutannya.

Kawasan yang dahulu masih asri itu berubah setelah krisis moneter 1997. Tekanan ekonomi membuat sebagian warga membuka hutan lindung menjadi lahan pertanian untuk bertahan hidup.

"Hutan lindung berubah jadi lahan pertanian, mata air pun berkurang," kata Kepala Desa Wisata Patakbanteng Solichun saat Kompas.com berkunjung ke desanya, Rabu (10/6/2026).

Perubahan tutupan lahan langsung terasa pada ketersediaan air.

Debit mata air yang sebelumnya melimpah sepanjang tahun berkurang setelah hutan tergeser oleh lahan pertanian.

Solichun memperkirakan debit mata air di kaki Gunung Prau sempat turun hingga 50 persen.

Turunnya pasokan air membuat kawasan kaki gunung semakin rawan mengalami kebakaran hutan saat musim kemarau.

Kondisi mulai berubah setelah jalur pendakian Gunung Prau melalui Desa Patakbanteng ramai diberitakan pada 2012.

Wisatawan mulai berdatangan untuk menjajal jalur pendakian tersebut.

DOK BCA Papan nama Desa Patak Banteng

Menurut Solichun, jumlah pendaki saat akhir pekan kini bisa mencapai lebih dari 50 orang.

Ramainya pendaki kemudian dimanfaatkan warga sebagai titik balik untuk memulihkan lingkungan.

Sejumlah warga membentuk kelompok peduli lingkungan dan mulai mengelola jalur pendakian dari desa tersebut.

Pendapatan dari pengelolaan jalur pendakian digunakan untuk membeli bibit pohon dan membangun perpustakaan.

Solichun mengatakan, Desa Patakbanteng kini memiliki rumah bibit tanaman endemik Gunung Prau.

Bibit tersebut ditanam kembali di lahan yang sebelumnya sempat dirambah secara liar.

"Ada persentase uang yang kami dapat dari gunung, untuk kembali ke gunung," sebut Solichun.

Pemulihan lingkungan digencarkan setiap tiga bulan pertama pada awal tahun.

Pendakian ke puncak Gunung Prau biasanya ditutup dalam periode tersebut karena kondisi cuaca.

Warga memanfaatkan masa penutupan pendakian untuk menanam kembali hutan yang pernah hilang.

"Kami tanam tanaman lokal pengendali erosi," ujar Solichun.

Inisiatif tersebut perlahan memperbaiki tutupan hutan di kaki Gunung Prau.

Debit mata air juga disebut mulai membaik.

Solichun mengatakan, perbaikan lingkungan desa turut didukung pendampingan program Bakti BCA.

VP CSR BCA Nona Faletta Aryuni mengatakan, pendampingan Desa Patakbanteng dilakukan melalui tiga fase.

Fase pertama berupa penyusunan desain pendampingan untuk memperkuat potensi desa.

"Kita gali gap potensi yang ada," kata Nona.

Fase kedua berupa penguatan kelembagaan dan sumber daya alam. Fase ini juga mencakup pembangunan kemitraan untuk pemberdayaan desa.

Fase terakhir diarahkan untuk memperluas pasar produk yang dihasilkan desa mitra.

Dengan skema tersebut, usaha yang dijalankan desa binaan diharapkan tetap berjalan setelah masa pendampingan selesai.

Libatkan mahasiswa

Program Bakti BCA juga akan melibatkan kampus melalui kegiatan pengabdian masyarakat.

VP Corporate Communication BCA Mas Wendiyanto Saputro mengatakan, mahasiswa mitra akan tinggal di desa binaan mulai Juli 2026.

"Mahasiswa yang sudah dikurasi, selama satu bulan akan mencarikan solusi dari berbagai issue yang ada," sebut Wendiyanto.

Salah satu solusi yang diharapkan dari pelibatan mahasiswa adalah pengembangan dan perluasan akses pasar bagi produk desa.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#gunung-prau #wonosobo #bakti-bca

https://money.kompas.com/read/2026/06/12/160255126/saat-wisata-pendakian-jadi-jalan-memulihkan-hutan-gunung-prau