Pasokan Energi Global Butuh Waktu Untuk Pulih Meski Selat Hormuz Dibuka

Pasokan Energi Global Butuh Waktu Untuk Pulih Meski Selat Hormuz Dibuka

Para pakar energi menilai pemulihan pasokan energi dan harga minyak akan membutuhkan waktu berbulan-bulan meski Selat Hormuz nantinya dibuka kembali.

(Bisnis.Com) 15/06/26 15:15 250422

Bisnis.com, JAKARTA — Harga minyak dan gas yang masih tinggi serta gangguan pasokan energi global diperkirakan tidak akan pulih dalam waktu singkat meskipun kesepakatan untuk mengakhiri perang Iran dan membuka kembali Selat Hormuz telah tercapai.

Para pakar energi menilai dibutuhkan waktu berbulan-bulan hingga perusahaan energi dapat kembali beroperasi normal dan memenuhi kebutuhan pasar global.

Lambatnya proses pengiriman dan pengolahan minyak mentah, ditambah ketidakpastian terkait keamanan pelayaran di Selat Hormuz, membuat dampak positif dari pembukaan jalur tersebut tidak akan langsung terasa.

"Kondisi ini akan membutuhkan waktu hingga pelaku industri merasa cukup aman dan perlindungan asuransi tersedia, terutama untuk mengembalikan pekerja ke lapangan guna mengoperasikan kembali sejumlah aset energi," kata Kepala Riset Bahan Bakar dan Pengilangan Global S&P Global Energy Daniel Evans dikutip dari Euronews, Senin (15/6/2026).

Meski demikian, harga minyak dunia langsung terkoreksi setelah kesepakatan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran diumumkan.

Harga minyak Brent, yang menjadi acuan internasional, turun US$3,45 menjadi US$83,89 per barel. Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat turun US$4,03 menjadi US$80,85 per barel.

Kendati melemah, harga tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan level sekitar US$70 per barel sebelum perang dimulai.

Evans menjelaskan kapal-kapal yang selama ini tertahan harus terlebih dahulu keluar dari Selat Hormuz sebelum tanker baru dapat masuk untuk memuat minyak mentah.

"Untuk membawa kapal masuk, pelaku industri harus yakin terdapat jendela keamanan yang cukup panjang untuk masuk, melakukan pemuatan, dan keluar kembali dengan aman," ujarnya.

Dia menambahkan proses distribusi minyak mentah juga berlangsung lambat. Pengiriman dari Selat Hormuz ke negara tujuan dapat memakan waktu berbulan-bulan, termasuk proses pengolahan di kilang sebelum produk energi sampai ke konsumen akhir.

Selain itu, sejumlah produsen minyak di Timur Tengah sempat menghentikan produksi atau melakukan shut-in akibat keterbatasan kapasitas penyimpanan. Proses menghidupkan kembali sumur-sumur tersebut juga tidak bisa dilakukan secara instan.

Senior Vice President Refining, Chemicals and Oil Markets Wood Mackenzie Alan Gelder mengatakan, negara-negara seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab berpotensi menjadi yang tercepat memulihkan produksi karena memiliki jaringan pipa dan rute ekspor alternatif selain Selat Hormuz.

Sebaliknya, negara seperti Irak diperkirakan menghadapi tantangan lebih besar.

"Produksi yang dihentikan di Irak jauh lebih besar dan karakteristik ladangnya lebih kompleks. Pemulihan penuh kemungkinan membutuhkan waktu sekitar satu tahun," kata Gelder.

Menurutnya, investasi di sektor energi juga sempat terhenti selama penutupan Selat Hormuz. Padahal, proyek-proyek energi umumnya membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum menghasilkan tambahan pasokan.

Sementara itu, Senior Fellow Center on Global Energy Policy Columbia University Daniel Sternoff menilai negara-negara produsen tidak akan terburu-buru mengaktifkan kembali produksi hingga yakin kondisi keamanan di Selat Hormuz benar-benar stabil dan gencatan senjata bertahan lebih dari 30 hingga 60 hari.

"Kita belum mengetahui secara pasti apa yang dimaksud dengan pembukaan kembali jalur ini maupun seberapa cepat material dan pasokan yang terjebak dapat dikeluarkan," ujarnya.

#selat-hormuz #iran #minyak #amerika-serikat #pasokan-minyak #harga-minyak

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260615/620/1980967/pasokan-energi-global-butuh-waktu-untuk-pulih-meski-selat-hormuz-dibuka