Membaca Sejarah dari Uang Wayang di Museum Bank Indonesia
Pameran di Museum Bank Indonesia menampilkan uang seri wayang De Javasche Bank 1933-1939, mengungkap sejarah, budaya, dan strategi kolonial di balik desainnya.
(Bisnis.Com) 17/06/26 20:04 252605
Bisnis.com, JAKARTA - Sepintas, lembaran uang kuno itu tampak seperti koleksi numismatik biasa. Gambarnya didominasi dua figur wayang orang yang saling berhadapan. Di sisi kiri tampak sosok laki-laki mengenakan mahkota, sementara di sisi kanan terdapat figur perempuan dengan hiasan kepala dan perhiasan tradisional Jawa.
Uang kertas 10 gulden De Javasche Bank terbitan 31 Agustus 1939 itu menjadi salah satu koleksi dalam pameran temporer In Lakon: Wayang Orang Dadi Saksi di Museum Bank Indonesia. Pada pandangan pertama, uang tersebut hanya memperlihatkan keindahan seni pertunjukan Jawa yang dituangkan ke dalam desain mata uang.
Namun di balik gambar wayang tersebut tersimpan cerita yang jauh lebih kompleks. Ada kisah tentang ketertarikan pejabat kolonial terhadap budaya Nusantara, gejolak ekonomi pada dekade 1930-an, hingga penggunaan simbol budaya sebagai alat untuk membangun kedekatan dengan masyarakat.
Cerita itulah yang diangkat Museum Bank Indonesia dalam pameran yang berlangsung pada 3 Juni hingga 30 Agustus 2026. Melalui rangkaian koleksi uang seri wayang, pengunjung diajak melihat bahwa uang bukan hanya alat pembayaran, melainkan juga medium yang merekam sejarah, budaya, dan politik pada zamannya.
Berbeda dengan pameran permanen yang menampilkan sejarah kelembagaan Bank Indonesia, arsitektur bangunan, dan koleksi numismatik secara umum, pameran ini berfokus pada satu tema khusus. Sorotan utamanya adalah seri uang wayang yang diterbitkan oleh De Javasche Bank (DJB) pada 1933–1939.
Di ruang pameran, pengunjung dapat melihat delapan nominal lengkap uang seri wayang, mulai dari 5 hingga 1.000 gulden. Sejumlah replika turut ditampilkan untuk memperkenalkan salah satu koleksi penting dalam sejarah mata uang Indonesia.
Selain uang seri wayang, museum turut memamerkan mata uang Hindia Belanda yang beredar sebelum periode tersebut. Ada pula uang pendudukan Jepang yang memperlihatkan bagaimana simbol budaya digunakan dalam desain mata uang pada masa yang berbeda.
Pemilihan tema wayang tidak dilakukan secara kebetulan. Bagi Museum Bank Indonesia, figur wayang yang menghiasi uang seri De Javasche Bank menjadi pintu untuk mengangkat kembali salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diakui UNESCO.
Untuk menghadirkan tema tersebut, Museum Bank Indonesia tidak hanya mengumpulkan koleksi uang seri wayang. Tim kurator juga menelusuri latar sejarah, sosial, dan budaya yang melingkupi penerbitannya pada era kolonial.
“Pameran ini tujuannya melestarikan, mengedukasi, dan membangun sinergi lintas budaya,” ujar Kepala Museum Bank Indonesia Rio Wardhanu.
Penelusuran yang melibatkan berbagai lembaga budaya serta perjalanan ke Yogyakarta dan Solo itu membantu mengungkap latar sejarah di balik kemunculan wayang pada mata uang De Javasche Bank.
Salah satu temuan dari penelitian itu adalah peran Presiden DJB saat itu, L.C.J. Burting Houwink, dalam kemunculan figur wayang pada uang yang diterbitkan bank tersebut.
Menurut kurator pameran, Ide Nada Imandiharja, ketertarikan Burting Houwink terhadap budaya Nusantara dan pertunjukan wayang menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penggunaan figur wayang pada uang DJB.
“Burting Houwink memang memiliki minat terhadap kebudayaan Nusantara dan pertunjukan wayang,” ujar Ide Nada Imandiharja.
Burting Houwink juga disebut memiliki hubungan dekat dengan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, yang membuatnya cukup akrab dengan lingkungan budaya Jawa. Kedekatan itu diyakini turut memengaruhi keputusan untuk menampilkan figur wayang pada mata uang yang diterbitkan DJB.
Strategi Kolonial
Namun kisah di balik uang wayang ternyata tidak berhenti pada minat seorang pejabat kolonial terhadap kesenian tradisional. Pada masa itu, pemerintah kolonial juga tengah menghadapi tekanan akibat krisis ekonomi dunia dan meningkatnya gejolak sosial di masyarakat.
Dalam situasi tersebut, pemerintah kolonial membutuhkan simbol yang mudah diterima publik. Wayang dipilih karena memiliki kedekatan budaya yang kuat dengan masyarakat. Kehadirannya pada uang diharapkan dapat membangun kedekatan emosional sekaligus memperkuat penerimaan terhadap mata uang yang beredar.
“Wayang sangat dekat dengan masyarakat pada masa itu. Karena itu, kemunculannya di uang dapat menjadi daya tarik agar masyarakat mau menggunakan uang tersebut,” kata Ide.
Strategi serupa kemudian muncul pada masa pendudukan Jepang. Pada awal kedatangannya, Jepang menggunakan gambar pemandangan umum Asia Tenggara pada mata uang yang diedarkan di wilayah jajahannya.
Namun setelah memahami kondisi masyarakat setempat, mereka mulai menampilkan simbol-simbol budaya Nusantara seperti Gatotkaca, rumah adat, dan figur masyarakat daerah sebagai upaya mendekatkan diri dengan penduduk lokal.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa mata uang bukan sekadar instrumen ekonomi. Di tangan penguasa, uang juga dapat menjadi media komunikasi yang memuat pesan politik dan upaya membangun kedekatan dengan masyarakat.
Bagi Museum Bank Indonesia, pesan itulah yang ingin disampaikan melalui pameran ini. Di balik setiap lembar uang yang tersimpan di etalase, terdapat cerita tentang masa lalu yang seringkali luput dari perhatian. “Yang ingin kami sampaikan adalah bahwa setiap uang punya cerita,” ujar Ide.
Melalui In Lakon: Wayang Orang Dadi Saksi, cerita itu kembali dihadirkan ke hadapan publik. Lembaran 10 gulden yang tersimpan di etalase museum itu pun tak lagi sekadar uang lama bergambar wayang, melainkan saksi bagaimana budaya pernah digunakan untuk membangun kepercayaan, membentuk identitas, dan menjadi bagian dari strategi kekuasaan pada zamannya.
#uang-wayang #sejarah-uang #uang-kuno #de-javasche-bank #pameran-uang #museum-bank-indonesia #wayang-orang #budaya-nusantara #uang-seri-wayang #mata-uang-indonesia #koleksi-numismatik #simbol-budaya #s