Perang Iran Mereda, IEA Peringatkan Risiko Banjir Pasokan Minyak
IEA memperingatkan potensi kelebihan pasokan minyak pada 2027 jika konflik Iran berakhir, dengan produksi diproyeksikan melonjak meski permintaan melemah.
(Bisnis.Com) 18/06/26 11:33 253101
Bisnis.com, JAKARTA — Pasar minyak dunia berpotensi menghadapi kelebihan pasokan (overhang) yang signifikan pada 2027 apabila konflik Iran berhasil diakhiri secara permanen dan pasokan minyak global kembali pulih.
International Energy Agency (IEA) dalam laporan bulanannya Yang dikutip dari CNBC International, Kamis (18/6/2026), memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global pada 2026 menjadi hanya 1,1 juta barel per hari (barrels per day/bpd) dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut lebih rendah 700.000 bpd dibandingkan proyeksi bulan lalu.
Penurunan proyeksi itu dilakukan setelah pengiriman minyak global anjlok hingga 5 juta bpd pada kuartal II/2026 akibat gangguan pasokan yang dipicu perang Iran.
Di sisi lain, pasokan minyak global turun menjadi 94,5 juta bpd pada Mei 2026 atau berkurang 600.000 bpd dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi tersebut membuat produksi minyak global menyusut menjadi 13,6 juta bpd, jauh di bawah level sebelum konflik.
IEA memperkirakan pasokan minyak dunia akan turun 3,9 juta bpd secara tahunan pada 2026 menjadi 102,4 juta bpd. Namun, produksi diproyeksikan melonjak kembali menjadi 110,3 juta bpd pada 2027.
Menurut IEA, melemahnya permintaan minyak tidak hanya disebabkan oleh gangguan pasokan, tetapi juga kombinasi harga bahan bakar yang tinggi dan kelangkaan produk hasil kilang. Kondisi tersebut menunjukkan dampak konflik telah meluas melampaui sekadar guncangan pasokan.
Meski demikian, IEA menilai pasokan minyak global berpotensi meningkat sekitar 8 juta bpd hingga mendekati 110 juta bpd. Kenaikan tersebut jauh lebih besar dibandingkan pemulihan permintaan minyak dunia yang diperkirakan hanya bertambah sekitar 2 juta bpd menjadi 105,3 juta bpd pada 2027.
“Proyeksi awal keseimbangan pasar pada 2027 menunjukkan potensi kelebihan pasokan yang signifikan pada tahun depan,” tulis IEA dalam laporannya.
Laporan tersebut dirilis di tengah perhatian pelaku pasar terhadap dampak kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah, termasuk kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz yang merupakan jalur pelayaran energi strategis dunia.
Harga minyak dunia juga terus melemah menjelang penandatanganan kesepakatan AS-Iran di Jenewa pada Jumat (19/6/2026). Sentimen pasar turut dipengaruhi oleh keberhasilan tiga kapal tanker Iran yang mengangkut hampir 5 juta barel minyak mentah melewati blokade Angkatan Laut AS di Selat Hormuz.
Pada perdagangan Rabu, harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan global turun 0,7% ke level US$78,44 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli melemah hampir 1,1% menjadi US$75,18 per barel.
IEA menilai apabila kesepakatan AS-Iran dapat bertahan dalam jangka panjang, ekspor dan produksi minyak dari kawasan Teluk akan pulih secara bertahap.
“Jika kesepakatan ini bertahan, ekspor dan produksi dari kawasan Teluk diperkirakan akan pulih secara bertahap, terutama karena ekspor minyak Iran dapat kembali berjalan penuh setelah blokade AS dicabut,” tulis IEA.
#minyak-dunia #pasokan-minyak #perang-iran #iea-laporan #permintaan-minyak #produksi-minyak #harga-minyak #minyak-mentah #selat-hormuz #as-iran-kesepakatan #minyak-global #pasar-minyak #ekspor-minyak #n-a